Chandrawati’s Blog


MEMORIKU

HIKMAH DIBALIK KEMATIAN

Malam itu adalah malam yang tak pernah terbayangkan akan terjadi suatu musibah yang membuatku kehilangangan orang ku cintai untuk selamanya ,dan orang tempat tiga orang buah hati kami untuk bermanja dan berkasih sayang.Astarfirllah ya…Allah , apakah benar apa yang terjadi di depan mataku ini, apakah kau hanya bermimpi? Berulang-ulang kali kucubit pipi dan tanganku, ternyata ada rasa sakit. Ya……Allah aku sedang tidak bermimpi , ini benar terjadi, tetapi mengapa aku harus menghadapi sendiri kepergiannya, mana keluaragaku yang lain, mana anak-anakku .Mungkin inilah hikmah dibalik itu. Allah menunjukkan kekuasaannya supaya aku sadar dan mengerti bahwa hidup tidak selamanya hidup, tetapi akan kembali kepada-Nya.

Hari Selasa aku diundang oleh Dinas Pendidikan kabupaten untuk mengikuti sosialisai Ujian Nasional tahun 2007 di ibu kabupeten, yang jarak dari tempat tugasku kira-kira 95 km yang dapat ditempuh dalam waktu satu setangah jam.Sehari sebelum pertemuan, tepatnya hari Senin siang kami berangkat dari ibukota kecamatan, dengan menaiki kendaraan roda dua, bersama suami dan anaku yang paling kecil. Hari itu tidak ada pirasat apapun dan kejadian aneh apapun, seperti biasa kecepatana yang kami tempuh pun biasa saja, seprti waktu-waktu lain jika ada panggilan ke ibu kota kabupaten.Kupeluk suamiku dari belakang sambil bercerita tentang anak-anak didik kami yang waktu istirahat sekolah kehabisan uang jajan,sedangkan waktu pulang masih lama dan mereka merasa masih lapar, yang akhirnya minta pinjam uang jajan dengan suamiku.Kebetetulan dia adalah orang yang memilki sifat pemurah dan tak tahan melihat penderitaan orang lain.

Tiba di ibukota kabupaten sepertri biasa,kami menuju rumah orang tua saya, setelah sholat dan istirahat sebentar, aku pergi ke kantor untuk urusan, dan dia tinggal di rumah dengan anakku yang kecil.

Setengah jam lima sore aku baru pulang dari kantor, melihat aku pulang dia mengajak aku untuk jalan-jalan sore. Kami jalan-jakan sore sampai menjelang magrib baru pulang ke rumah. Setelah magrib dia kembali mengajak aku berjalan untuk memerikasa kesehatanya pada adikku yang kebetulan adalah perawat di salah satu rumah sakit.Dia merasakan badan pegal linu, angin rasanya menusuk-nusuk segala persendianya. Aku tak menghiraukan penyakit yang dia rasakan itu, sebab bukan sekali ini dia mengeluh seperti itu tetapi dalam beberapa bulan ini, dan sudah pernah dibawa ke dokter ahli, hasil pemeriksaan tidak ada penyakit yang didapat.

Kami pulang dari rumah adiku pukul 21.30 , setelah kami menonton senetron Intan.Seperi biasa, kami beres-beres mau tidur. Tepat jam sepulu malam aku tertidur dengan pulas sekali, mungkin terlalu capek karena menempuh perjalanan yang cukup jauh dan ditambah waktu siang tak ada istirahat.Pukul 23.00 aku dikejutkan suara orang yang ramai, dan ditambah badanku seolah –olah digoyang-goyang untuk dikejutkan Aku terkejut. Dan setelah terkujut ternayata suamiku merintih kesakitan persis di depan posisi badanku baring, tetapi dia duduk sambil memeluk bantal dan beristifar.Aku Tanya bapak ada membangunkan aku,dan siapa yang tadi ribut yang suaranya ramai, dan mengapa bapak belum tidur, sementara TV dibelakangi tidak ditonton. Bertubi-tubi pertanyaanku lontarkan tapi dia tidak menjawab.Dia berkata tolong bangun dan pijatkan seluruh tubuhku. Aku bangun dan melaksanakan apa permintaannya Setalah itu aku kembali baring, sambil melihat mukanya, kulihat dia menarik napas sangat sulit. Akhirnya aku tak tega melihat dia mencari udara untuk bernapas. Aku mengabil ,keputusan sekarang juga kita harus ke rumah sakit, biar di rumah sakit dioksigen.

Kubawa suaminku dengan kendaraan perlahan-lahan, Sepanjang jalan dia selalu beristifar sambil memelukku.Terlontar dari mulutnya ya….Allah penyakit apa yang kau berikan padaku ini, aku tak tahan ya Allah.Padahal selama ini selamnya tiga belas tahun aku hidup bersamanya, tak pernah dia mengeluh jika sakit.

Tiba dirumah sakit suamiku langsung diperikasa dan dipasang oksigen. Tak ada pirasat apapun dalam diriku waktu itu. Yang terpikir dalam benakkku hanya bagaimana besok pagi aku harus menghadiri rapat, sementara suamiku terbaring di rumah sakit. Ah kutepis pikiranh itu yang penting sekarang bagimana aku mengurus suamiku dulu. Besok tinggal urusan besoklah.

Jam sudah menunjukan tepat pukul 24.00, kulihat tak ada perubahan pada suamiku. Napasnya semakin sesak walaupun sudah dioksigen. Dia kuajak berbicara. Pak ingat dan istifar serta mengucap kalimat sahadat, diikutinya apa permintaanku. Aku berbicara lagi ingat pak, anak-anak kita masih kecil, dia hanya mengangguk, dan aku berkatkana lagi maaf kan aku atas kesalahan-kesalahanku jika nanti terjadi sesuatu yang tak diinginkan , sambil ku sapu keringat di dahi dan dipipinya, sambil kudekatkan pipi dan hidungku menyentuh mukanya, dia hanya mengangguk.

Sertelah itu kulihat badanya gemetar,seluruh badanya berkeringat, gemuruh sangat kuat sekali terdengar di rongga tenggogorakannya. Aku semakin gelisah, badanku panas dingin, mau menelpon keluaraga pulsaku hunting, pinjam telpon rumah sakit untuk mengubungi keluarga, pihak rumah sakit acuh dan cuek seperti tidak mau dipinjam. Mau menghidupkan motor menjemput keluarga, aku kasian dia ditinggal sendiri, kalau terjadi apa-apa aku yang akan menyesal aku sendiri. Aku gelisah, stress perasaanku tak menentu. Akhinya aku beranikan diri sambil berguman apapun yang terjadi aku siap, dan kukuatkan mentalku,sambil terus membisikan kalimat-kalimat suci di telinganya , sementar dia berjuang mencari napas. Setelah iu aku berkata, Pak jika mau pergi silakan aku relakan, daripada bapak harus tersiksa begini.Aku bangkit dari sisinya kubelai mukanya, sambil kubersihkan darah yang keluar mengalir dari sela-sela giginya. Aku kembali berlari ke kupingnya sebelah kiri dan terus kubisikkan kalimat-kalimat Ilahihi. Badannya terus bergetar dan keringat dingin semakin bercucuran dari tubuhnya. Selang bebarapa detik setelah kubisikan kalimat sahadat terakhir, kudengar dari mulutnya bunyi ketukan seperti kita mengetuk jari-jari tangan kita jika kelelahan. Setelah bunyi itu terdengar badarnga tidak gemetar lagi dan sudah tenang. Sempat terucap dari mulutku ahlhamdullikilah ini berarti obat sudah bereaksi kedalam tubuhnya., aku mengira suamiku hanya pingsan Tetapi dokter langsung bilang cepat ambil alat pemacu jantung. Alat pemacu jantung dipasang dan kulihat pada layar ada gambar grafik naik turun yang menandakan masih ada denyut jantung.Aku berdoa ya Allah jangan ada apa yang terjadi dengan suamiku. Pada layar yang kedua masih ada juga gambar denyut jantungnya, setelah layar ketiga semuannya datar tak ada gambar apa-apa. Aku tersentak, Dan kulihat dengan secepatnya para perawat mengingkat kedua kakinya, melipat dua tanganya di dada seperti orang salat , dan mengikat dagu dan kepalanya supaya tertutup. Dan yang membuat aku terkejut saat aku melihat seorang perawat menutupkan kain putih ditubuh suamiku yang yang terbaring. Aku baru tersadar. Aku langusng berujar ada apa dokter.Dokter berkata bapak sudah pergi bu. Aku seperti mau pingsan, tak yakin apa yang terjadi di depan mataku.Setengah jam berikutnya baru berdatangan kelurga. Dan Pihak rumah sakit baru meminjkamkan telopon padaku setelah suamiku dinyatakan sudah pergi. Sambil menunggu pihak keularga aku masih sempat membuka surat Yasin yang kusimpan dalam tas kecilku yang sempat kutarik dari lemari saat membawanya kerumh sakit.

Kejadian ini membuka mata hatiku, bahwa kita akan kembali padanya, kembali jika tidak siap membawa bekal amal saleh apa yang terjadi di alam sana.Yang selama ini ya Allah suamiku selalu menyuruhku untuk sholat, kadang -kadang perintahnya tak kuhiraukan.

Apa yang dibawa sementara aku istrinya yang tercinta yang berada disam pingnya tak diajak dan dipamitin. Apa guna selama ini kekuasan dan jabatan yang kumilki kalau aku tak ingat denganmu ya Allah.Seumur hidupnku baru inilah aku melihat orang sakaratul maut, yang jika selama ini melihat orang meninggal pun aku takut. Aku hadapi suamiku sakaratul maut dalam waktu satu jam sendiri tanpa keluaraga satu orangpun, mungkiun Tuhan memberikan pelajaran kepadaku supaya aku kuat, tabah.

Tuhan memberikan hikmah ini juga padaku bahwa orang sebaik suamiku yang selalu ringan tangan membantu orang, yang selalu iklas dalam bersedekah, yang tak tega

melihat penderitaan orang lain, yang tak pelit dalam membantu sesama beruapa tenaga dan pikiran, tak tak banyak berbicara, sebegini beratnya Kau pisahkan ruh dengan jasatnya, Bagaimana lagi jika aku atau umat -Mu yang lain yang penuh dosa dan maksiat setiap detik. Dan bagaimana lagi aku yang kadang-kadang jauh dari perintah-Mu ya…Allah.

Musibah ini membuatku sadar bahwa setelah hidup ada kematian, yang memang kapan waktunya itu hanya rahasia Ilahi, yang penting sekarang aku mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk menghadpMu, supaya nanti tak ada penyesalan. Aku harus melaksanakan perintah-Mu lima waktu , tak ada lagi alasanku untuk tidak mengerjakannya. Dan di depan jasad suamiku aku bersumpah akan kubuat engkau bahagia di akhirat sana selama aku masih di dunia dengan mengirimkan doa padamu setiap selesai sholat lima waktu. Di dunia engkau mungkin tak bahagia karena kesibukanku sebagi kepala sekolah yang lebih banyak mengurus sekolah daripada keluarga. Selamat jalan suamiku semoga engkau tenang disisi pemilikmu. Aku dan anak-anak akan berusa tegar menghadapi cobaan ini. Dan aku berjanji akan kuantarkan ketiga orang buah cinta kita kegerbang kesuksesan dan menjadikan mereka anak shaleh, yang dapat membantu jalan kebahagian kita di akhirat nanti. Amin.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

aduh….sedih juga ya sri…yang sabar ya…ambil hikmahnya aja..:)

Komentar oleh Maria

hidup, ada pertemuan dan ada perpisahan.

Komentar oleh chandrawati




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: