Chandrawati’s Blog


GURU DALAM HARAPAN DAN PERANNYA
Juni 2, 2009, 4:03 am
Filed under: Uncategorized

Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO pada tahun 2000 tentang peringkat   Indeks   Pembangunan       Manusia
( Human Develelopment Indeks) yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan perkepala yang menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia
( Human Develelopment Indeks) makin menurun. Diantara 174 negara di dunia Indonesia menempati urutan ke 102 pada tahun 1996, ke 99 pada tahun 1997, 105 pada tahun 1998 dan 109 tahun 1999
Apa makna data-data tentang rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia itu? Maknanya jelas ada masalah dalam sistem pendidikan di Indonesia . Masalahnya antara lain :
1. Masala h Kurikulum
2. Masalah Metode pembelajaran
3. Masalah Fasilitas atau sarana dan prasarana
4. Masalah Guru atau tenaga pendidik.
5. Masalah evaluasi
Yang lebih menyedihkan lagi ada anggapan dari berbagai pihak bahwa rendahnyanya kualitas pendidikan adalah karena peran dan tanggungjawab guru yang kurang optimal. Berkenaan dengan angapan tersebut penulis memaparkan tentang harapan dan peranan guru itu sendiri. Agar guru dapat tersentak untuk kembali mengangkat citranya.

Pendidikan formal dirasakan urgensinya ketika keluarga tidak mampu lagi memberikan pendidikan yang wajar kepada anak-anaknya.Lembaga ini akhirnya diterima sebagai wahana proses kemanusiaan dan pemanusiaan kedua setelah keluarga. Dalam lembaga ini banyak komponen-komponen atau elemen-elemen yang terlibat mulai dari siswa, guru, kepala sekolah, pegawai sekolah,masyarakat, pemerintah .Komponen guru adalah komponen yang selalu diminta untuk membimbing,mendidik dan mengajar peserta didik (siswa). Yang tentu semua orang menutut harapan-harapan secara nyata dari sososk guru.

Ibarat serdadu, guru di medan pendidikan mengemban misi memerdekakan generasi bangsa dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Mereka berada di garda depan dalam “menciptakan” generasi-generasi muda yang cerdas, terampil, tangguh, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, berwawasan luas, memiliki basis spiritual yang kuat, dan beretos kerja yang handal, sehingga kelak mampu menghadapi kerasnya tantangan peradaban. Mengemban misi tersebut jelas bukan tugas yang ringan.

`               Sebagai tenaga kependidikan keberadaan guru menempati urutan pertama  dari empat katagori dalam pembagia jenis-jenis tenaga kependidikan yaitu tenaga pendidik, terdiri atas pembimbinbing, penguji,pengajar, dan pelatih. (Sudarwan 2002:18).

Seperti apakah guru yang diharapkan oleh semua kalangan? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab, dan tentunya jawaban yang didapatpun berbagai macam, tergantung kepada dari mana audien memandangnya.

Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan yang kesehariannya berada di dalam kelas yang selalu berhadapan dengan sosok-sosok generasi penerus bangsa(siswa), tentu masing-masing siswa mempunyai harapan yang berbeda-beda. Disaat guru berhadapan dengan pimpinan sekolah (kepala sekolah) ada harapan-harapan yang tentunya diruntut oleh pimpinan tersebut dari seorang guru. Dan pada saat guru berada dalam masyarakat tuntutan-tuntutan yang diharapkan berbeda pula.

Berbagai macam harapan-harapan  terhadap seorang guru dari berbagai pihak tentunya tidak mempunyai standar yang pasti.Tetapi yang pasti guru adalah juga manusia yang sama dengan orang yang meminta harapan-harapan tersebut (pandangan umum), dalam pandangan khusus (dunia pendidikan) guru harus memilki-harapan-harapan yang sudah diatur baik dalam KODE ETIK GURU maupun dalam permen-permen diknas.

Mengapa harapan-harapan guru dipandang sebagai sesuatu yang layak dikemukan dalam tulisan ini? Setidaknya ingin mengembalikan citra guru dari pandangan masyarakat bahwa yang salama ini kegagalan pendidikan  penyebab factor  salah satunya adalah guru dan agar guru tidak kehilangan arah dan tujuan yang menjadi tugas utamanya di suatu sekolah

Sementara itu, jika kita melihat fakta di lapangan, banyak kalangan mulai meragukan kapabilitas dan kredibiltas guru. Perannya sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan. Misinya sebagai pencetak generasi –terampil dan bermoral—belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar kita justru kian menjauh dari kondisi ideal seperti yang diharapkan. Yang lebih memperihatinkan, para pelajar itu dinilai mulai kehilangan kepekaan moral, terbius ke dalam atmosfer zaman yang serba gemerlap, tersihir oleh perikehidupan yang memburu selera dan kemanjaan nafsu, terjebak ke dalam sikap hidup instan. Tawur antarpelajar merajalela, pesta “pil setan” menyeruak, pergaulan bebas semakin mencuat ke permukaan. ( Lentera pendidikan ), Akibat ini   masyarakat selalu mempertanyakan siswa sekolah di mana, siapa gurunya dan  sangat jarang seklai terdengan itu anak siapa? Tetapi  sebaliknya jika seorang siswa berpretasai dalam bidang akademik, olah raga dan sebagainya yang dipertanyakan oleh orang adalah putra-putri siapa itu? Sehingga hal ini benar seperti kata pepatah Sapi punya usaha tetapi kerbau punya nama.

Dr. Dedi Supriadi dalam bukunya “Menganangkat Citra dan Maartabat Guru” menuliskan  pandangan dan harapan anak didik kepada gurunya yang dilakukan oleh UNESCO  yaitu”What makes a good teacher?” Seperti apakah guru yang baik itu? Pertanyaan ini tidak ditujukan kepada ahli pendidikan atau kepada dewan juri pemelihina guru teladan, tetapi justru kepada seluruh siswa di dunia.

Dari hasil pertanyaa-pertanyaan tersebut didapatkan bebarapa jawaban diantaranya: 1. Zaira Alexsandra Rodriques Guijari dati Mexico siswa berumur 11 tahun “Guru terhadap siswanya ibarat hujan terhadap ladang”, 2. Rose dari Selandia Baru siswa SD berumur 9 tahun “Engkau mesti sayang, bersabar kepadaku, engkau mesti mendengar dan mengerti kami semua, selalu bersemangat, dan tidak mengabaikan kami, aku suka senyuman dan kata-katamu yang ramah”. Dan 3. Tassha Leigh siswa berumur 12 tahun dari Jamaika Karibia “Guru yang baik bukan hanya mengajar tetapi juga belajar dari siswanya”. Dan masih banyak lagi suara-suara hati yang dikememukakan oleh anak-anak diseluruh dunia tentang harapannya kepada gurunya. Cara yang dilakukan oleh UNESCO ini adalah meminta jawaban secara tertulis dan sepontan dari  anak-anak didik yang rata-rata berusia 9-12 tahun.

Dari katagori berdasarkan usia respon mereka adalah masih tegolong dalam kategori anak-anak, yang tentu jawaban mereka belum tentu terinfeksi oleh berabagai virus alam pemikiran yang mendunia atau dengan kata lain jawaban yang masih polos dan lugu.

Sedangkan dari pandangan masyakakat Mendiknas Bambang S. dalam Harian Harapan menyatakan bahwa selama ini dalam anggapan masyarakat – khususnya masyarakat perkotaan, atau daerah yang wilayahnya telah mengalami kemajuan ekonomi – pekerjaan guru dianggap tidak menjanjikan masa depan. Bagi alumni perguruan tinggi, profesi guru hanyalah pekerjaan ”sambilan”, daripada sama sekali menganggur. Di daerah pedesaan yang tingkat kecerdasan rata-rata masyarakat masih ”rendah” guru dihormati, namun penghargaan tersebut terasa semu. Karena masyarakat akan jauh menghormati elite desa yang lebih kaya secara materi dan berkuasa dalam pemerintahan di desa.(2000)

Secara historis, keberadaan kaum pendidik di Indonesia memang telah ada sejak zaman “baheula”  atawa zaman penjajahan Belanda. Belanda menyekolahkan kaum priyai, untuk menghindari penggunaan guru-guru asal Belanda dalam mendidik para siswa di tanah jajahannya. Bisa dibayangkan berapa besar dana yang dikeluarkan jika Kaum Londo harus “mengimpor” langsung dari Belanda. Anggaran untuk bayar gaji, penginapan, transportasi dll. akan menguras kas Belanda. Kondisi demikian lantas “diakali” dengan memilih pribadi dan warga terbaik untuk menjadi guru. Jika guru lokal (Pribumi), tidak perlu dana yang besar untuk mengalokasikan untuk mencetak SDM yang akan bekerja untuk kaum kolonialis, tak terkecuali mereka dibayar “murah” sebagai kompensasi gaji yang diterimanya. Kondisi seperti itu ternyata di adopsi saat Indonesia merdeka (1945) hingga pra Reformasi (1998). Guru dimarginalkan, dilecehkan, dianaktirikan, dieksploitasi  dan dininabobokan dengan sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”

Lalu bagaimanakah cara kita sebagai pendidik untuk menepik semua anggapan tersebut? Jawabananya yang pasti adalah kita harus bersifdat profesionalisme. Bukankah  melalui Undang-undangNo 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen semuanya sudah jelas dan untuk memenuhi harapan sesuai dengan tuntutan undang-undang guru dan dosen tersebut diatur lagi Permen Diknas  No.16 hatun 2007  yang memberikan rambu-rambu tentang kompetensi yang harus dimilki oleh guru, yang dalam permen tersebut disebut dengan kompetensi inti guru, antara lain:

1.Kompetensi pedagogic, yang meliputi:

  1. menguasai karakteristik peserta didik dari asfek fisik,moral,spiritual,social,cultural,emosional dan intelektual
  2. menguasai teori belajar dn prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
  3. mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu
  4. menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
  5. memanfaatkan teknologi informasi dn komunikasi untuk kepentingan pembelajaran
  6. memfasilitasi pengembangan fotensi peserta didak objektif, serta tidak kardik untuk     mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki

g .  berkomunikasi secara efektif,empatik, dan santun den gan peserta didik

menyelenggarakan peneilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar

h.   memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran

  1. melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran

2.Kompetensi kepribadian yang meliputi

  1. bertindak sesuai dengan norma agama,hukum, sosial, dan kebudayaan nasional
  2. menampilkan diri sebagaai pribdi yang jujur, berahklak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat
  3. menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa
  4. menunjukkan etos kerja, tangung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri
  5. menjunjung tinggi kode etik profesi guru

3.Kompetensi social, yang meliputi:

  1. bersikapiinsklusif, bertindak objektif, serta tidak deskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga dan status social ekonomi
  2. berkomunikasi secara efektif, empatik daan santun dengan sesame pendidik, tenaga kjependidikan, orang tua dan asyarakat
  3. beradaptasi di tempat  bertugas di seluruh wilayah republic Indonesia yang memilki keragaman  social yang berbeda
  4. beradaptasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain

4.Kompetensi professional, yang meliputi:

a. Menguasai materi, struktur, konsep dan pola piker keilmuwan yang mendukung mata pelajaran  yang diampu.

b. Menguasai standar kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.

c.Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

d.Memamfaatkan teknologiinformasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.(2007:16-21).

Zaman terus berkembang, dan abad 21 ini menuntut profesi guru yang handal sejalan dengan kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tuntutan ini sangat beralasan dalam menenpatkan guru sebagai suatu profesi dengan memberikan kedudukan social, proteksi jabatan, penghasilan, dan status hukum yang lebih dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Tetapi yang jadi persoalan adalah: apakah ini khususnya di Indonesia memang terjadi; sementera penghargaan masyarakat terhadap profesi guru tidak meningkat seiring dengan upaya peningkatan tuntutan terhadap profesi tersebut? (Hamied Hasan dalam Pembaharu Pendidikan Guru). Sebagai suatu profesi guru menghadapi berbagai permasalahan, antara lain:

  1. penghargaan masyarakat terhadap profesi guru belum sepenuhnya menunjukkan peningkatan berarti sehubungan dengan mutu guru, beban kerja guru dan penghargaan secara financial (system penggajian yang belum memadai).
  2. Sikap terhadap profesi guru itu sendiri, umumnya masih rendah. Ini ditunjukkan dengan adanya tugas-tugas atau pekerjaan lain (di luar tugas sebagai guru) untuk menambah dan memenuhi keutuhan hidupnya.
  3. Standar profesi guru belum sesuai dengan tuntutan akan mutu atau kualitas guru yang diharapkan. Banyak guru melakukan tugasnya bukan karena profesi atau didasarkan pada profesi yang diembannya, tetapi lebih didasrkan pada suatu pekerjaan (artinya guru sebagai suatu pekerjaan, dan bukan sebagai suatu profesi).
  4. Guru masih terlalu banyak dilibatkan pada hal-hal yang bersifat administrative. Hal-hal yang bersifat akademik berupa upaya peningkatan profesionalisme, belum sepenuhnya mendapat perhatian khusus,baik di kalangan guru sendiri maupun di kalangan para pengambil kebijakan.(Ajis 2008:32-33).

Bagaimana untuk menepis dan menghilangkan pradigma  masalah di atas? Hal ini dikembalikan lagi kepada guru itu sendiri dengan sadar dan mengerti akan tugas dan peranannya.

Apakah fungsi dan peranan guru itu? Berbicara mengenai peranan guru kita akan mengacu kepada UU Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Dalam udang-undang ini disebutkan tujuh fungsi atau peranan guru yaitu: mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi.

  1. Guru  sebagai pendidik

Mendidik berarti pemberian bimbingan pada anak agar potensi yang dimilikinya berkembang seoptimal mungkin dan dapat meneruskan serta mengembangkan nilai-nilai hidup. Sebab tugas guru disamping menyampaikan ilmu pengetahuan, juga mencakup pembentukan nilai-nilai pada diri murid yang tertuju pada pengembangan seluruh aspek kepribadian murid secara utuh agar tumbuh menjadi manusia dewasa. Untuk itu guru dituntut untuk mengetahui karktristik, kepribadian anak didik

  1. guru sebagai pengajar

Mengajar berarti memberikan pengajaran dalam bentuk penyampaian pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan ketrampilan (psikomotor) pada diri murid agar dapat menguasai dan mengembangkan ilmu dan teknologi. Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada pelaksanaan tugas merencanakan, melaksanakan proses belajar-mengajar dan menilai hasilnya. Untuk melaksanakan tugas ini, guru disamping harus menguasai materi atau bahan yang akan diajarkan, juga dituntut untuk memiliki seperangkat pengetahuan dan ketrampilan teknis mengajar Guru sebagai tenaga pengajar harus memilki kemampuan profsional. Guru harus bertanggungjawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar, dan karenanya guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar disamping menguasai materi yang akan diajarkan. Dengan kata lain : guru harus mampu menciptakan situasi kondisi belajar yang sebaik-baiknya.

3.guru sebagai pembimbing

Istilah “pembimbing” berasal dari kata “bimbing” yang berarti “pimpin”, “asuh”, “tuntun”. Membimbing sama dengan menuntun, seperti seorang dewasa yang sedang menuntun anak kecil atau anak yang baru belajar berjalan. Orang dewasa itu dapat membawa anak itu ke mana saja dikehendakinya.

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat.
Dalam keseluruhan proses pendidikan guru merupakan faktor utama. Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru memegang berbagai jenis peran yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Setiap jabatan atau tugas tertentu akan menuntut pola tingkah laku tertentu pula. Sehubungan dengan peranannya sebagai pembimbing, seorang guru harus :

  • Mengumpulkan data tentang siswa
  • Mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehari-hari
  • Mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus
  • Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orangtua siswa baik secara individu maupun secara kelompok untuk memperoleh saling pengertian tentang pendidikan anak
  • Bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa
  • Membuat catatan pribadi siswa serta menyiapkannya dengan baik
  • Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu
  • Bekerja sama dengan petugas bimbingan lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa
  • Menyusun program bimbingan sekolah bersama-sama dengan petugas bimbingan lainnya
  • Meneliti   kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah .

4.guru sebagai pengarah

Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu menbantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan dan menemukan jati dirinya.Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.

5.guru sebagai pelatih

Melatih lebih ditekankan pada tujuan mengembangkan ketrampilan tertentu agar para siswa mengalami peningkatan kemampuan kerja yang memadai.Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan ketrampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik.Pelatihan yang dilakukan, disamping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin.

6..guru sebagai penilai

Penilaian atau evalusi merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik.Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang memadai. Guru harus memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non tes yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran soal.

7. Guru sebagai pengevaluasi

v  Konsep luas:

  • Proses yang ditujukan untuk  mengetahui   (perencanaan, pelaksanaan, hasil) kebijakan, kegiatan, program
  • Pengukuran (measurement) & koleksi data  (collecting data)
  • Kuantitatif dan kualitatif

v  Konsep sempit:

Membandingkan hasil pengukuran /pengumpulan data dengan kriteria /standar

Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. sedangkan  menilai berarti mengambil satu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (kualitatif). Adapun pengertian evaluasi meliputi keduanya. Esensi dari evaluasi yakni memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan . Kegiatan evaluasi harus dilaksankan oleh guru sebagai bagian dari kegiatan dalam proses belajar mengajar yang tujuannya untuk melihat sampai sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan berhasil dengan maksud untuk bahan pertimbangan sebagai umpan balik.

Menurut   Nana syaodih peranan guru dalam proses belajar mengajar meliputi:

  1. penyampai pengetahuan
  1. pelatih kemampuan
  2. mitra belajar
  3. pengarah pembimbing (2007: 195)

Sementara itu Rusman membagi pernan guru berdasararkan kopetensi guru meliputi:

    1. guru melakukan diagnosa terhadap prilaku awal siswa
    2. Guru membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP)
    3. Guru melaksanakan proses pembelajaran
    4. Guru sebagai pelaksana administrasi sekolah
    5. Guru sebagai komunikator
    6. Guru mampu mengembangkan keterampilan diri
    7. Guru dapat mengembangkan potensi anak (2007:218-219)

Lois E. Raths (1964)  mengemukakan sejumlah potensi yang harus dimiliki guru yang disebutnya “ the point are proposed, not as a rating scale, but a broad frmae work for teacher to discover more about themselves in relation to te function of teaching”:

  1. explaning, imporming, showing how,
  2. initiating, directing, administering,
  3. unifying the group,
  4. giving scurity,
  5. clarifying attitudes, beliefs, problems,
  6. diangnosting learning problems,
  7. making curriculum materials,
  8. evaluating, recording, reporting,
  9. enricing community activities,
  10. organizing and arranging classroom,
  11. participating in school activities,
  12. participating in professional and civic life (Nana Syaodih 2008:192)

Apaun peran guru disekolah ataupun diluar sekolah, guru harus memiliki 10 kopetensi dasar yang dipaparkan oleh Depdikbud (2005), yaitu:

  1. Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya.
  2. pengelolaan program belajar-mengajar
  3. pengelolaan kelas
  4. penggunaan media dan sumber pembelajaran
  5. penguasaan landasan-landasan kependidikan
  6. pengelolaan interaksi belajar-mengajar
  7. penilaian prestasi belajar siswa
  8. pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan
  9. pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah
  10. pemahaman prinsip-prinsip dan pemamfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pembelajaran. (Nana Syaodih 2008:193)

Selain kompetensi yang harus dimiliki oleh guru untuk menjalankan perannya dengan baik, hendaknya guru juga harus menghindari tujuh kesalahan yang sering dilakukannya,sebagai berikut:

    1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran.
    2. Menunggu peserta didik berprilaku negatif.
    3. Menggunakan destructive discipline.
    4. Mengabaikan perbedaan peserta didik
    5. Merasa paling pandai
    6. Tidak adil (diskriminatif)
    7. Memaksa hak peserta didik.(Mulyasa 2007:19-32).

Semoga tulisan ini bermamfaat bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, dan orang-orang yang mendalami dunia pendidikan, agar kita angkat kembali citra guru di mata masyarakat. Berkaryalah terus sahabat-sahabatku ”Guru ”, berikan yang terbaik untuk anak bangsa.

DAFTAR PUSTAKA.

Danin Sudarwan. 2002 . Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Banung: CV. Pustaka Setia

Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rusman. 2007. Manajemen Kurikulum, Bandung.

Sukmadinata, Nana, Syaodih. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Yamin Martinis. 2006. Profesionalisme Guru dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Cipayung Ciputat: Gaung Persada Press.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: