Chandrawati’s Blog


NDASAN , PRINSIF DAN FUNGSI PENGEMBANGAN KURIKULUM PADA KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
April 20, 2009, 6:38 am
Filed under: Uncategorized

Sri Rahayu Chandrawati, S.Pd.

Latar Belakang

Kurikulum merupakan kunci dalam pendidikan, sebab kurikulum merupakan arah, isi dan proses pendidikan yang akhirnya akan mentukan kualitas apa yang diharapkan dalam sebuah proses pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah maupun nasional dan menjadi harapan bagi munculnya sumber daya manusia yang diharapkan.

KurikuLum merupakan salah satu komponen yang memiliki peranan penting dalam system pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Oleh karena itu pentingnya fungsi dan peran kurikulum, maka setiap pengembang kurikulum pada jenjang manapun harus didasarkan pada asas-asas, landasan dan prinsif kurikulum.

Sesuai dengan perubahan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan maka kurikulum pun harus mengalami perkembangan. Dengan kata lain bahwa kurikulum tidak permanen, tetapi perlu adanya pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan jaman.

Penguasaan konsep landasan dan prinsip pengembangan kurikulum tersebut harus dipahami oleh orang yang berkecimpung dan yang berminat dalam dunia pendidikan agar tujuan kurikulum dapat dicapai sesuai dengan harapan yang menjadi landasan bagi pengembangan kurikulum.

Guru merupakan orang yang langsung berhadapan dengan kurikulum dan orang yang mengimplementasikan kurikulum tersebut, sehingga ada anggapan orang yang mengatakan bahwa keberhasilan siswa dalam dunia pendidikan tergantung kepada kemampuan guru menerapkan kurikulum-kurikulum kepada siswanya dalam proses belajar mengajar.

Kenyataan sekarang,apa yang terjadi di lapangan konsep dasar kurikulum itu sendiri belum dipahami oleh guru itu sendiri. Guru hanya melihat komponen-komponen yang ada dalam kurikulum sebatas materi-materi yang berhubungan dengan materi pelajaran yang akan diajarkannya. Akibat dari ini tidak heran jika dalam mengimpelentasikan kurikulum guru tidak memahami konsep kurikulum sehingga kurikulum dilaksanakan dengan seadanya., tidak sebagai mana mestinya.

Berkenaan dengan telah ditetapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh pemerintah sebagai kurikulum yang berlaku di dunia pendidikan kita sekarang, maka pemahaman konsep landasan dan prinsif kurikulum itu sendiri menjadi sangat penting. Sebab KTSP disusun oleh stekholder-stekholder yang ada dalam satuan pendidikan tententu, yang tentu landasan utamanya adalah konsep-konsep yang membangun kurikulkum itu sendiri, sebelum melangkah kepada penyusunan kurkilulum yang sebenarnya, hal ini sejalan apa yang dikemukankan oleh Wina “fungsi asas dan landasan pengembangan kurikulum adalah sebagai fondasi bangunan”.(2008:31). Jadi atas dasar apakah guru di sekolah dalam menyusun KTSP? Apakah dalam penyusunan KTSP hanya menjalankan kebijaksanaan dari pemerintah, sehingga tidak heran dan mungkin masih ada yang ditemukan di lapangan bahwa KTSP yang berlaku dalam suatu sekolah hanya merupakan kopi paste dari sekolah lain yang lebih mapan. Kalau hal ini terjadi berarti memaksakan rencana sekolah untuk dilaksanakan di sekolah kita, padahal belum tentu situasi, kondisi, dan kebutuhan suatu sekolah itu akan sama. Yang akibatnya kurikulum tersebut akan berjalan terseok-seok ataupun boleh jadi lumpuh sama sekali.

Berkaitan dengan hal tersebut maka penulis memcoba untuk berbagi sedikit pe ngalaman dan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar pengembangan kurikulum yang meliputi landasan, prinsif dan fungsi kurikulum.

B.PENGERTIAN KURIKULUM

Istilah kurikulum pada awalnya digunakan dalam dunia oleh raga, yang berasal dari kata curir (pelari) dan curere(tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish unuytk memperoleh mendali/penghargaan.( Ase Suherman dkk 2006:2).

Pertengahan abad ke XX pengertian kurikulum berkembang dan dipakai dalam dunia pendidikan yang berarti “sejumlah plejaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah”.Pengertian tradisional ini telah diterapkan dalam penyusunan kurikulum seperti Kurikulum SD dengan nama “Rencana Pelajaran Sekolah Rakyat” tahun 1927 sampai pada tahun 1964 yang isinya sejumlah mata pelajaran yang diberikan pada kelas I s.d. kelas VI.

Para ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. Namun demikian dalam penafsiran yang berbeda itu, ada juga kesamaanya.Pada dasarnya pengertian konsep kurikulum dalam dilihat dari tiga dimensi pengertian yakni kurikulum sebagai subtansi, sebagai sistem dan sebagai bidang studi (Nana Syaodih Sukmadinata 2008: 27).

Kurikulum sebagai subtansi adalah kurikulum dipandang sebagai suatu rencana kegiatran belajar bagi siswa di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai.Kuriklum disini memuat komponen-komponen sebagai berikut: rumusan tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal dan evaluasi.

Kurikulum sebagai sistem yaitu sistem kurikulum. Kurkilum di sini mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana menyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Hasil dari suatu kurikulum adalah tersusunya suatu kurikulum, dan fungsi dari sistem kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap dinamis.

Kurikulum sebagai bidang studi yaitu bidang studi kurikulum, ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran. Tujuan kurikulum ini adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum.

Sementara itu, banyak para ahli merumuskan konsep atau pengertian kurikulum itu sendiri, misalnya yang dikemukakan oleh J.wiles & J.Bondi yang dikutip dari Muray Print yaitu kurikulum adalah tujuan khusus atau serangkaian nilai yang diaktivasi melalui proses pengembangan yang berujung di dalam kelas untuk siswa.(1993).

Selain pendapat diatas menurut Muray Print kurikulum didifiniskanm sebagai semua kesempatan belajar yang terencana dan diberikan kepada siswa oleh inbstitusi pendidikan dan pengalaman yang didapat siswa ketika kurikulum diterapkan.(1993).

Dari uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahawa kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisis tentang tujuan yang harus dicapai, isi/materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan oleh siswa, strategi atau cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang direancang untuk mengumpulkan informasi ntentang pencapian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata.

B.LANDASAN KURIKULUM

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memilki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan sembarangan, Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasaan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya akan berakibat pula terhadap proes pemgembangan manusia.

Muray Print mengemukakan landasan kurikulum itu terdiri dari: filsafat, sosial budaya dan psikologi. R. Zais mengemukakan landasan kurikulum itu terdiri dari philisophy & nature of knowledge, siciety & culture, the individual, dan learning Theories. (1976), dan Laury Brady kurtikulum itu dibangun atas landasan sosiologi, filsafat dan psikologi.

Untuk di dunia pendidikan Indonesia landasan kurikulum itu terbagi dalam empat bagian, dalam hal ini Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakn empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum yaitu: 1. landasan filosofis, 2. landasan psikologis, landasan sosial budaya 4. dan landasan pengetahuan dan teknologi.Keempat landasan ini akan dipaparkan secara ringkas di bawah ini:. (2008 38-72)

1.Landasan filsafat

Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Landasan filosofis bersumbetr dari panadangan-pandangan dalam filsafat pendidikan, yang menyangkuyt keyakinan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan .Hal ini sejalan dengan pendapat Henderson yang dikutip dalam Wina yang mengemukakan filsafat itu adalah “ populary philosophy means one is general view of life of men, of ideals, and of values, in the sense everyone has a philosophy of life”, ( 2008: 43) maksudnya adalah setiap individu atau setiap kelompok masyarakat secara filosofis akan memiliki pandangan hidup yang mungkin berbeda sesuai dengan nilai-nilai yang dianggapnya baik.

Filsafat sebagai landasan pengembangan kurikulum menjawab pertanyaan-peretanyaan pokok seperti: Hendak dibawa kemana siswa yang dididik itu? Masyarakat yang bagaimana yang harus diciptakan melalui ikhtiar pendidikan? Apa hakikat pengetahuan yang harus dipelajari dan dikaji siswa? Norma-norma atau system nilai yang bagaimana yang harus diwariskan kepada anak didik sebagai generasi penerus? Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu berlangsung?

Secara akademik. filsafat berarti upaya untuk meggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematris dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya (Nana Syaodih Sukmadinata 2008:39).

Landasan filsafat Menurut Akhmad Sudrajat yang berhubungan dengan pengembangan kurikulum berpijak pada aliran-alairan filasafat sesbagai berikut: perenialisme, essensialisme, eksistensialisme, progesivisme dan rekonstruktivisme.

(http://fatamorgana.wordpress.com/2008/07/12/bab-iii-landasan-dan- asas-asas-pendidikan-serta-penerapannya/

Aliran prenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya dan dampak social tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang diperhatikan dalam kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolute, kebenaran universal yang tidak terkait pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi pada masa lalu.

Esensisialisme berpandangan bahwa pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan serta keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan materi pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat.

Filsafat eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami tentang kehidupan seseorang mesti memahami dirrinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan: bagaimana saya hidup didunia? Apa pengalaman itu?.

Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individu yang berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Aliran ini merupakan landasan pengembangan belajar peserta didik yang aktif.

Aliran rekosntruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Aliran ini berpendapat bahwa peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Aliran ini juga lebih menekankan pada pemecahan masalah dan berpikir kritis. Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar daripada proses.

Masing-masing aliran pasti memiliki kelemahan dan keunggulan sendiri. Oleh karena itu dalam praktek pengembanagn kurikulum, penerapan aliran filsafat cendrung dilakukan sdecara ekletik untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasi berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan.

2. Landasan Psikologis

Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan belajar.Pemahaman terhadap peserta didik, yang utama adalah berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Sebagai implikasinya peserta didik tidak mungkin memperlakukan sama kepada peserta didik, sekalipun mereka memilki kesamaan.

Penyusunan kurikulum perlu memperhatikan penentuan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan. Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang secara efektif dan efesien. Pemahaman tentang anak bagi seorang pengembang kurikulum sangatlah penting. Kesalahan persepsi atau kedangkalan pemahaman tentang anak, dapat menyebakan kesalahan arah dan kesalahan praktek pendidikan. Landasan psikologis berbiacara mengenai:

a.Psikologi perkembangan anak didik

Salah satu hal yang perlu diketahui tentang anak adalah masa-masa perkembangan mereka. Pemahaman tentang masa perkembangan anak sangat penting hal ini didasarakan bebarapa alasan: pertama setiap anak didik memilki tahapan atau masa perkembangan masa tertentu. Kedua anak didik yang sedang pada masa perkembangan merupakan priode yang sangat menentukan untuk keberhasilan dan kesuksesan hidup mereka, dan ketiga pemahaman akan perkembangan anak akan memudahkan dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. (Wina Sanjaya 2008: 48).

Ada tiga teori atau pendekatan dalam perkembangan anak anak yaitu pendekatan pentahapan (stage approach), pendekatan diferensial (diferensial approach) dan pendekatan ipsatif (ipsative approach).(Nana Syaodih Sukmadinata 2008:47).

Menurut pendekatan pentahapan, perkembanagn individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan.Setiap tahap poerkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya.Menurut Piaget tahap-tahap pekembangan intelektual (kognitif) setiap individu berlansung dalam tahap-tahap tertentu, tahap-tahap tersebut terdiri dari empat fase yaitu:

(1). Sensorimotor yang berkembang dari mulai lahir sampai dua tahun. Pada fase ini kemampuan kognitif anak masih terbatas (kemampuana prinitif) artinya masih didasarkan kepada prilaku yang terbuka. Kemampuan kognitif yang dimilki anak pada masa ini merupakan intelegensi dasar yang amat berarti dan menetukan untuk perkembangan kognitif selanjutnya.

(2). Praoperasional mulai dari 2 tahun sampai 7 tahun.. Fase ini ditandai dengan lima ciri-ciri yaitu: a. Adanya kesadaran dalam diri anak tentang suatu objek.b. kemampuan anak berbahasa mulai berkembang, c. Anaak mulai mengetahuyi perbedaan antara objek-objek sebagai suatu bagian dari individu atau kelasnya (fase intuisi), d. Pandangan terhadap dunia pada fase ini bersifat animiustic artinya bahwa segala sesuatu yang bergerak di dunia ini adalah “ hidup. “ e. Pemahaman dan pengamatan anak terhadap situasi lingkungan sangat dipengaruhimoleh sifatnya yang “egocentric”

(3). Oprasional konkret, berkembang dari 7-11 tahun . Fase ini ditandai dengan pikiran anak terbatas pada objek-objek yang ia jumpai dari pengalaman-pengalaman langsung. Selain kemampuan-kemampuan yang telah dimiliki pada masa sebelumnya, anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut dengan system of oprations (satuan langkah berpikir).

(4). Oprasional formal, yang dimulai usia 11-14 tahun. Pada fase ini pola pikir anak sudah sistematik dan meliputi proses-proses yang kompleks. (Wina Sanjaya 2008).

Pendekatan diferinsial melihat bahwa individu memilki persamaan dan perbedaan. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut individu dikategorikan atas kelompok-kelompok yang berbeda. Kelompok individu berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, status social ekonomi, dan sebagainya.

Pendekatan isaptif adalah pendekatan yang berusaha melihat karakteristik yang dimiliki oleh individu yang tidak dimiliki oleh individu lainnya.

b.Psikologi belajar

Psikologi belajar merupakan ilmu yang meempelajari tentang prilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek prilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari perkembangan kurikulum. Segala perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dikategorikan sebagai prilaku belajar. (Nana Syaodih Sukmadinata 2008: 52). Banyak teoari yang membahas tentang belajar sebagai perubahan tingkah laku, namun setiapo teori itu berpangkal dari pandangan Jhon Locke dan hakikat manusia menurut Leibnitz.(Wina Sanjaya 2007:78). Menurut Jhon Lock manusia itu organisme yang pasif. Yang beranggapan bahwa manusia itu seperti kertas putih (teori tabularasa), hendak ditulis apa kertas putih itu tergantung orang yang menulisnya.Sedangkan menurut Leibmitz menganggap bahwa manusia adalah oraginsme yang aktif. Manusia merupakan sumber dari semua kegiatan. Teori Jhon Lock melahirkan teori belajar behavioristik-elementeristik, menurut treori ini belajar pada hakekatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecendrungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respons (S-R).

Proses belajar sangat tergantung adanya rangsangan atau stimulus yang muncul dari luar diri atau factor lingkungan. Sementara itu teori Leibnitz menghasilkan teori belajar kognitif-wholistik. Teori berpendapat belajar adalah kegiatan mental yang ada dalam diri setiap individu. Kegiatan mental memamng tidak dapat dilihat secara nyata, akan tetapi justru sesuatu yang ada dalam dirilah yang menggerakkan seseorang mencapai perubahan tingkah laku.

3. Landasan sosial budaya

Masyarakat tidak bersifat statis. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat selalu mengalami perubahan, bergerak menuju perkembangan yang semakin kompleks. Perubahan bukan hanya terjadi pada system nilai, akan tetapi juga pada pola kehidupan, struktur social, kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

Dalam kehidupan social yang semakin kompleks tersebut, maka muncul pula berbagai kekuatan kelompok yang dapat memberikan tekanan terhadap penyelenggaraan dan praktek pendidikan termasuk di dalamnya tekanan-tekanan dalam proses pengembangan isi kurikulum sebagai alat dan pedoman penyelenggaraan pendidikan. Kesulitan yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum adalah manakala setiap kelompok social memberikan masukan dan tuntutan yang berbeda sesuai dengan kepentingan kelomponya, misalnya tuntutan golongan agama, politik, militer, industri dan sebagainya. Pertentangan-pertentangan ini mengakibatkan cara pandang mereka kelompok tertentu untuk di bawa ke mana arah pendidikan, misalnya kelompok agamawan ingin membawa pendidikan kearah budi pekerti, sementara menurut padangan industriawan beranggapan bahwa peserta didik harus disiapkan sebagai tenaga teknis yang memiliki keteramnpilan dalam bidang industri.

Berdsasarkan kenyaataan tersbut hendaknya pengembang kurikulum harus memperhatikan tekanan-tekanan tersebut dengan peran evaluatif dan peran kritis agar preoses pengkajian secara kritis tentang apa saja muatan kurikulum yang dianggap layak untuk dipelajari oleh anak didik.

4. Landasaan Ilmu pengetahuan dan Teknologi.

Pada awalnya, ilmu penhetahuan dan teknologi yang dimilki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlansung hingga saat ini dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang.

Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tak mungking. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa mengijakkan kaki di bulan, tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-20, pesawat Appolo berhasil mendarat di bulan.

Kemajuan pesat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia, melebihi jangkuan manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan antara nilai-nilai, dan cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal.

Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berpikir dan belajar, bagaimana belajar (learning to learn), dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi situasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.(htt://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No.026/sebuah tinjauan teoritis Indris. h tm.).

Perkembangan dalam ilimu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahauan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi seklaigus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia

C. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM

Secara gramatikal kata prinsif berarti asas, dasar, keyakinan dan pendirian.( Ase Suherman, dkk 2006: 48). Dari pengeratian di atas bahwa prinsif itu mengandung makna pada sesuatu yang sangat penting, mendasar dan harus diperhatikan, memilki sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu yang biasanya selalu ada atau terjadi pada siituasi dan kondisi yang serupa.

Prinsif-prinsif pengembangan kurikulum menunjuk pada suatu pengertian tentang berbagai hal yang harus dijadiuan patokan dalam mmenentukan berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum terutama dalam fase perencanaan kurikulum (curriculum planning), yang pada hakikatnya prinsif-prinsif tersebut merupakan ciri dari hakikat kurikulum itu sendiri.

Secara lebih rinci, prinsif-prinsif pengembangan kurikulum tersebut terdiri dari:

1.Prinsif secara umum

Nana Syaodih Sukmadinata membagi prinsif secara umum ini terdiri lima bagian yaitu: prinsif relevansi, fleksibelitas, kontinuitas, praktis atau efisien dan efektivitas.(2008: 150-151). Untuk lebih memahami kelima prinsif ini, di bawah ini akan dibahas satu persatu.

a. Prinsif relevansi

Relevansi atau kesesuaian menurut Oliva yang dikutip dari Oemar Hamalik merupakan masalah lain yang cukup esensial dan harus mendapat perhatian dalam pengembangan kurikulum.(2008:44). Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum yaitu relevansi ke dalam (internal relevance) dan relevansi keluar(eksternal relevance).

Relevansi internal yaitu kesesuian antar komponen kurikulum itu sendiri. Kurikulum merupakan suatu sistem yang dibangun oleh komponen-komponen tujuan, isi, metode dan evaluasi yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu, belajar dan kemampuan siswa. Sedangkan relevansi eksternal adalah Bahwa kurikulum komponen tujuan, isi, dan proses belajar yang mencakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kurikulum menyiapkan siswa untuk biasa hidup dan bekerja dalam masyarakat.

Selain dari hal-hal tersebut di atas yang berkenaan denga prinsif relevansi Oemar Hamalik mengemukakan prinsif relevansi itu harus dikaitkan dengan masalah dunia kerja (vocation), kependudukan (citizenship), hubungan antar pribadi (personal relationship), dan berbagai aktivitas masyarakat lainnya yang menyangkut budaya, social, politik dan sebagainya.(2008:45).

b. Prinsif fleksibelitas.

Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel, artinya kurikulkum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada, kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit untuk diterapkan. (Wina Sanjaya 2008:41). Kepleksibelan kurikulum akan sangat tampak dalam pelaksanaannya dalam mencapai tujuan tertentu sesuai dengan jenis dan jenjang sekolah. Yang dalam hal ini dapat dilihat dari strategi, metode dan teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar megajar yang merupakan implementasi kurikulum itu sediri. Hal ini sejalan dengan pendapat Nana Syaodih Sumadinata ” Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan di tempat lain, bagi anak yang memilki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Suatu kurikulum yang baik adalah kurkulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak”.(2008:151)

c. Prinsif kontinuitas

Pada dasarnya, prinsif kontinuitas menyerupai dengan apa yang disebut ”spiral curriculum”, yaitu pengenalan konsep, keterampilan, dan pengetahuan secara berulang.(Oemar Hamalik 2008:49). Pengertian ini mengandung makna bahwa perlu dijaga saling keterkaitan atau kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan.

Dalam penyusunan materi pelajaran agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah diberikan dan dikuasai oleh siswa padsa waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya. Untuk menjaga agar prinsif kontinuitas ini tetap berjalan maka perlu ada kerja sama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalkan para pemgembang kurkulum pada jenjang SD, jenjang SMP dan SMA, dan bahkan dengan perguriuan tinggi.

d. Prinsif praktis atau efisiensi.

Prinsif efesiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu dan suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.(Wina Sanjaya 2007:56). Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efesiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat meperoleh hasil yang maksimal. Betapun bagus dan idealnya suatu kurikulum, manakala menuntut peralatan, sarana yang sangat khusus serta mahal hargnya, maka kurikulum itu tidak praktis atau efesien dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dapatr dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.

e. Prinsif efektifitas.

Prinsif efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.(Wina Sanjaya 2008:41). Efektifitas pengembangan kurikulum dapat dilihat dari dua sisi yaitu: pertama efektifitas yang berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas, kedua efektifitas yang berhubungan dengan kegiatan -kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Efektifitas kegiatan guru dapat dilihat dari keberhasilan mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Sebagai contoh dalam satu semester guru menetapkan 10 pokok bahasan yang akan dicapai dan disampaikan kepada siswa, ternyata sepuluh pokok bahasan tersebut tercapai dan dapat disampaikan, ini ini berarti perencanaan tersebut telah efektifit, dan jika ada satu atau dua pokok bahasan tidak tersampaikan atau tercapai maka perencanaan tersebut tidak efektif. Sedangkan efektifitas dari kegiatan-kegiatan siswa dapat dilihat dari sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu.

Selain dari kelima prinsif-prinsif pengembangan kurikulum secara umum di atas, Oliva mengemukan sepuluh prinsif pengembangan kurikulum sesuai yang dikutif oleh Ase Suherman dkk, sebagai berikut:

Perubahan kurikulum adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan bahkan diperlukan.

Kurikulum merupakan produk dari masa yang bersangkutan.

Perubahan kurikulum masa lalu sering terdapat secara bersamaan bahkan tumpang tindih dengan perubahan kurikulum yang terjadi masa kini.

Perubahan kurikulum akan terjadi dan berhasil sebagai akibat dan jika ada perubahan pada orang-orang atau masyarakat.

Pengembangan kurikulum adalah kegiatan kerjasama kelompok.

Pengembangan kurikulum pada dasarnya adalah proses menentukan pilihan dari sekian alternatif yang ada.

Pengembangan kurikulum adalah kegiatan yang tidak akan pernah berakhir.

Pengembangan kurikulum akana berhasil jika dilakukan secara komprehensif, bukan aktivitas bagian perbagian yang terpisah.

Pengembangan kurikulum akan lebih efektif jika dilakukan dengan mengikuti suatu proses yang sistematis.

Pengembangan kurikulum dilakukan berangkat dari kurikulum yang ada.(2008:53-54).

2. Prinsif secara khusus.

Prinsif khusus berkenaan dengan prinsif yang hanya berlaku ditempat tertentu dan situasi tertentu, dalam hal ini menurut Nana Syaodih Sukmadinta prinsif ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian.(2008:152).

Prinsif berkenaan dengan tujuan pendidikan.

Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah, dan jangka peendek (khusus). Perumusan tujua bersumber pada: ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, survei mengenai persepsi dan kebutuhan orang tua atau masyarakat, survei para ahli dalam bidang-bidang tertentu, survei tentang manpower (sumber daya manusia/tenaga kerja), pengalaman-pengalaman negara lain dalam masalah yang sama, dan bersumber pada penelitian.

Prinsif yang berkenaan pemilihan isi pendidikan.

Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk menentukan isi pendidikan atau kurikulum yaitu: penjabaran tujuan pendidikan atau pengajaran ke dalam perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana, isi pelajaran meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor, dan unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang sistematis dan logis.

3. Prinsif yang berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar.

Untuk menentukan kegiatan proses belajar mengajar harus memperhatikan: apakah metode atau teknik yang digunakan : cocok untuk mengajar bahan yang diajarkan? Memberikan kegiatan yang bervariasai dalam melayani siswa? Memberikan kegiatan urutan yang bertingkat-tingkat? Menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, psikomotor? Mengaktifkan siswa, guru atau kedua-duanya? Mendorng berkembangnya kemampuan baru? Menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sember belajar yang ada di rumah dan masyarakat? Dan untuk belajar yang bersifat keterampilan dibutuhkana kegiatan belajar yang menekankan “learning by doing” disamping “ learning by seeing and knowing”.

4. Prinsif yang berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran.

Untuk mewujudkan proses belajar- mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat bantu pembelajaran yang tepat. Berikut merupakan pinsip-prinsip dalam pemilihan media yaitu: media apa yang diperlukan? Apakah media tersebut sudah tersedia? Adakah alternatif penggunaan media lain jika di sekolah tidak ada media yang tesedia? Kalau ada yang harus dibuat hendaknya memperhatikan bagaimana membuatnya, siapa yang membuat, berapa biayanya dan berapoa lama waktu yang digunakan dalam membuatnya? Bagaimana mengorganisasikan alat tersebut dalam pelajaran, apakah dalam bentuk paket modul atau lain-lain? Bagaimana mengintegrasikannya dalam keseluruhan kegiatan belajar? Dan hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media.

5.Prinsip yang berkenaan dengan penilian

Penilian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran, yang bertujuaan untuk mengukur sejauh mana tujuan yang direncanakan telah tercapai. Menurut Laurie Brady penilian dalam pengembangan kurikulum meliputi dua hal yaitu penilian kinerja siswa dan penilaian kurikulum itu sendiri (1990). Dalam prinsif yang bersifat khusus ini yang berkaitan dengan penilaian, lebih dititik beratkan pada penilian tentang kinerja siswa. Dalam membuat penilian harus ada tiga fase yang harus diperhatikan yaitu: ketika merencanakan alat penilian, menyusun alat peniliaan, dan mengelola hasil penilian.(Ase Suherman, dkk 2006: 56). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam fase perencanaan penilian yaitu: bagaimanakah karakteristik kelas, usia, tingkat kemamapuan kelompok yang akan dites? Berapa lama waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan tes?Apakah bentuk tes itu uraian atau pilihan?Berapa banyak butir tes yang perlu disusun?Apakaha tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau murid?.

Sedangkan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan alat penilaian mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

– Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan secara umum yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor.

– Uraikan ke dalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati.

– Hubungkan dengan bahan pelajaran

– Tuliskan butir-butir tes.

Untuk pengelolaan hasil penilaian harus memperhatikjan prinsip–prinsip sebagai berikut: norma penilaian apa yang digunakan dalam pengelolaan hasil test? Apakah digunakan format guessing (menebak)? Bagaimana pengubahan skor ke skor jadi? Skor standar apa yang akan digunakan? Untuk apakah hasil tes digunakan?

D.FUNGSI KONSEP-KONSEP DASAR KURIKULUM BAGI STEKHOLDER-STEKHOLDER SEKOLAH.

Menurut McNeil yang dikutip dari Wina Sanjaya, kurikulum itu memilki empat fungsi yaitu (1).fungsi pendidikan umum (common and general education), (2).fungsi suplementasi (supplementation),(3). fungsi eksplorasi (exploration) (4). dan fungsi keahlian (specializartion).(2008: 12). Sejalan dengan pembahasan mengenai fungsi kurikulum Oemar Hamalik mengemukakan enam fungsi kurikulum yaitu: (1).Fungsi penyesuaian (the adjustive of adaptive function), (2).fungsi integrqasi (the integrating function), (3).fungsi diferensial (the differentiating function), (4).fungsi persiapan (the propaedeutic function),(5). fungsi pemilihan (the selective function) ,(6).dan fungsi diagnostic (the diagnostic function). (2008: 13-14). Dari pembahasan pendapat –pendapat diatas dapat disimpulkan bahawa secara umum kurikulum berfungsi untuk setiap orang atau lembaga yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan pendidikan.

Dalam suatu lingkungan sekolah ada orang-orang berkompeten atau stekholder-stekholder yang terdiri dari :pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, siswa, orang tua dan masyarakat.

Fungsi kurikulum dapat juga kita lihat dari stekholde-stekholder tersebut, yang akan di bahas di bawah ini satu persatu:

Fungsi bagi pengawas sekolah

Bagi pengawas kurikulum akan berfungsi sebagai panduan dalam melaksanakan supervise.Dengan ddemikian dalam proses pengawasan para pengawas akan dapat menentukan apakah program sekolah termasuk dalam pelakaksanaan proses pembelajarannya sudah sesuai dengan tuntutan kurikulum atau belum, sehingga berdasarkan kurikulum juga pengawas dapat memberikan sasaran perbaikan.

Fungsi bagi kepala sekolah

Bagi kepala sekolah kurikulujm berfungsi untuk menyusun perencanaan dan program sekolah, dengan demikian, penyusunan kalender zsekolah (kaldik), pengajuan sarana dan prasarana sekolah kepada dewan guru, penyusunan berbagai kegiatan sekolah (ekstraakurikulre dan kegiatan lainnya) harus didasarkan pada kurikulum.

Fungsi bagi guru

Bagi guru , kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang berdasarkan kurikulum, maka tidak akan berjalan dengan efektif, sebab pembelajaran adalah proses yang bertujuan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan..

Fungsi bagi orang tua murid dan masyarakat.

Bagi orang tua dan masyarakat kurikulum adalah sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi penyelenggaraan program sekolah, maupun membantu putra putrinya belajar di tumah sesuai dengan program sekolah, dan memberikan sumbangan pemikiran kepada pihak sekolah apa yang menjadi tuntutan masyarakat yang berada dalam suatu lingkungan sekolah tertentu.

Fungsi bagi siswa.

Bagi siswa, kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar. Melalui kurikulum siswa akan memahami apa yang harus dicapai, isi apa yang harus dikuasai, dan pegalaman belajar apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Menurut Alexander Inglis yang dikutip dalam Wina ada enam fungsi kurikulum bagi siswa yaittu:

(1). Fungsi penyesuaian (the adjustive or adative function), maksudnya bahwa kurikulum harus dapat mengantar siswa agar mampu menyesuiakan diri dalam kehidupan social masyarakat.

(2). Fungsi integrasi (the integrating function), maksudnya bahwa kurikulum harus dapat mengembangkanp ribadi secara utuh.Kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor harus berkembang secara integrasi.

(3). Fungsi differensiasi (the differentiating function), bahwa kuirkulum harus dapat melayani setiap siswa dalam setiap keunikan.

(4). Fungsi persiapan (the preparation function), maksudnya bahwa kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mau;pun untuk kehidupan di masyarakat.

(5). Fungsi pemilihan (the seective function), maksudnya bahwa kurikulum dapat memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk belajar sesuai dengan bakat dan minatnya.

(6). Fungsi diagnostik (the diagnostic function), maksudnya fungsi kurikulum untuk mengenal berabagai kelemahan dan kekuatan siswa. (2008 :14)

Kesimpulan

Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memilki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan sembarangan, Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasaan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri.

Konsep dasar kurikulum meliputi pengertian kurikulum, landasan-landasan kurikulum, prinsif-prinsif kurikulum. Kalau ketiga hal ini tidak dipahami atau dimengeti dan dikuasai oleh orang-orang yang berkecimpung dalam kegiatan implementasi kurikulum itu sendiri, maka ibaratkan membangun sebuah rumah yang cantik, megah dan indah tetapi tanpa pondasi atau bahan-bahan yang kuat, maka akan dapat dilihat dalam beberapa waktu, rumah itu akan ambruk dengan sendirinya. Hal ini dapat kita lihat dengan keberadaan KTSP sekarang, pihak sekolah hanya ingin menerapkan KTSP karena adanya kebijaksanaan pemerintah dengan jalan hanya menjiplak atau copy paste dari kurikulum sekolah lain yang lebih mapan, padahal belum tentu KTSP yang dibuat oleh suatu sekolah lain akan dapat diterapkan pada sekolah lain juga.

Memahami atau mengerti dan memiliki pengetahuan konsep-konsep dasar tentang kurikulum merupakan salah satu bentuk kompetensi yang harus dimilki oleh guru, karena merupakan salah satu bentuk kompetensi pedagogik.Kompetsi pedagogik adalah ciri salah satu bahwa guru dapat dikatakan sebagai tenaga yang profesional. Sebagai tenaga yang profesional tentunya hal-hal yang menjadi dasar dalam bidang kerjanya mutlak dan harus untuk dimiliki dan diketahui. Tetapi kenyataannya apakah guru-guru kita sekarang sudah memahami konsep-konsep dasar kurikulum ini? Dan apakah dalam penyusunan KTSP sudah berdasarkan pada Konsep-konsep dasar kurikulum? Hal inilah yang harus kita dan pengambil kebijaksanaan untuk dijawab dan diwujudkan dalam kegiatan yang nyata. Dengan cara mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi pemahaman tentang kurikulum.

Saran

1. Dengan telah diketahui dan dipahaminya tentang konsep-konsep dasar kurikulum diharapkan dalam pelaksanaan perancangan KTSP yang berlaku disatuan pendidikan tertentu, benar-benar merupakan hasil karya antara stekholder-stekholder yang berada di suatu sekolah, bukan merupakan copy paste dari KPTS sekolah lain.

2. Dengan konsep-konsep dasar kurikulum yang kuat yang menjadi pedoman dalam penyusunan kurikulum dalam satuan pendindikan tertentu, sekolah dapat menjadi pemicu kompetensi yang positif antar sekolah.

3. Sebagai konsep dasar yang harus dimiliki dalam pengembangan kukulum guru wajib untuk memahami dan memiki pengetahuan tentang dasar-dasar kurikulum, dan bahkan harus dapat diimplementasikan dalam kegiatan-kegiatan pelaksanaan proses belajar –mengajar di kelas.

4. KTSP yang ada pada suatu satuan sekolah tertentu, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi haruslah disusun berdasarkan pada lansadan-landasan dan prinsip-prinsip kurikulum, agar tujuan yang diharapkan benar-benar tercapai, yang akhirnya tercipta manusia yang mempunyai kualitas hidup yang tinggi sebagai generasi penerus bangsa.

DAFTAR PUSTAKA

Brady, Laurie (1990). Curriculum Development. Australia.Prentice Hall.

Danin, Suherman (2002). Inovasi Pendidikan Dalam Uoaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pendidikan.Bandrung. Pustaka Setia.

Hamalik, Oemar. (2008).Dasar-Dasar Pengembangan Kuirkulum. Bandung; PT Remaja Rosdakarya.

Hartoto.(2008) Bab III Landasan dan Asas-asas Pendidikan dan Penerapannya [Online]. Tersedia:.(http://fatamorgana.wordpress.com/2008/07/12/bab-iii-landasan-dan- asas-asas-pendidikan-serta-penerapannya/ [ 28 Agustus 2008]

Noor HM. Idris (2008). Inovasi Pendidikan di Indonesia.[Online]. Tersedia: htt://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No.026/sebuah tinjauan teoritis Indris. h tm.).[ 28 Agustus 2008]

Print, Murray (1993). Curriculum Dedvelopment and Desing. Australia, Allen & Unwin

Sanjaya, Wina (2008). Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembangan Kuirkulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta; Fajar Interpratama Offset.

………………………. (2007). Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

………………………. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta: Kencana Predana Media Group.

Siraj, Saedah (2008). Kurikulum Masa Depan. Malaysia. Universiti Malaysia.

Sukmadinata,N.S.(2008) Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek: Bandung;PT.Remaja Rosdakarya

Suherman, Ase, dkk. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. TIM Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Pendidikan Indonesia.

Zais S. Robert. (1976). Curriculum Principles and Fondation. London. Harper & Row Publishers.

Noor HM. Idris (2008) Inovasi Pendidikan di Indonesia.[Online]. Tersedia: htt://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No.026/sebuah tinjauan teoritis Indris. h tm.).[ 28 Agustus 2008].

*.Mahasiswa S2 Pengembangan Kurikulum, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Arikel ke depan akan dipaparkan tentang model-model pengembangan kurikulum.

NDASAN , PRINSIF DAN FUNGSI PENGEMBANGAN KURIKULUM PADA KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP) Sri Rahayu Chandrawati, S.Pd. Latar Belakang Kurikulum merupakan kunci dalam pendidikan, sebab kurikulum merupakan arah, isi dan proses pendidikan yang akhirnya akan mentukan kualitas apa yang diharapkan dalam sebuah proses pendidikan. Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah maupun nasional dan menjadi harapan bagi munculnya sumber daya manusia yang diharapkan. KurikuLum merupakan salah satu komponen yang memiliki peranan penting dalam system pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Oleh karena itu pentingnya fungsi dan peran kurikulum, maka setiap pengembang kurikulum pada jenjang manapun harus didasarkan pada asas-asas, landasan dan prinsif kurikulum. Sesuai dengan perubahan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan maka kurikulum pun harus mengalami perkembangan. Dengan kata lain bahwa kurikulum tidak permanen, tetapi perlu adanya pengembangan yang disesuaikan dengan kebutuhan jaman. Penguasaan konsep landasan dan prinsip pengembangan kurikulum tersebut harus dipahami oleh orang yang berkecimpung dan yang berminat dalam dunia pendidikan agar tujuan kurikulum dapat dicapai sesuai dengan harapan yang menjadi landasan bagi pengembangan kurikulum. Guru merupakan orang yang langsung berhadapan dengan kurikulum dan orang yang mengimplementasikan kurikulum tersebut, sehingga ada anggapan orang yang mengatakan bahwa keberhasilan siswa dalam dunia pendidikan tergantung kepada kemampuan guru menerapkan kurikulum-kurikulum kepada siswanya dalam proses belajar mengajar. Kenyataan sekarang,apa yang terjadi di lapangan konsep dasar kurikulum itu sendiri belum dipahami oleh guru itu sendiri. Guru hanya melihat komponen-komponen yang ada dalam kurikulum sebatas materi-materi yang berhubungan dengan materi pelajaran yang akan diajarkannya. Akibat dari ini tidak heran jika dalam mengimpelentasikan kurikulum guru tidak memahami konsep kurikulum sehingga kurikulum dilaksanakan dengan seadanya., tidak sebagai mana mestinya. Berkenaan dengan telah ditetapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) oleh pemerintah sebagai kurikulum yang berlaku di dunia pendidikan kita sekarang, maka pemahaman konsep landasan dan prinsif kurikulum itu sendiri menjadi sangat penting. Sebab KTSP disusun oleh stekholder-stekholder yang ada dalam satuan pendidikan tententu, yang tentu landasan utamanya adalah konsep-konsep yang membangun kurikulkum itu sendiri, sebelum melangkah kepada penyusunan kurkilulum yang sebenarnya, hal ini sejalan apa yang dikemukankan oleh Wina “fungsi asas dan landasan pengembangan kurikulum adalah sebagai fondasi bangunan”.(2008:31). Jadi atas dasar apakah guru di sekolah dalam menyusun KTSP? Apakah dalam penyusunan KTSP hanya menjalankan kebijaksanaan dari pemerintah, sehingga tidak heran dan mungkin masih ada yang ditemukan di lapangan bahwa KTSP yang berlaku dalam suatu sekolah hanya merupakan kopi paste dari sekolah lain yang lebih mapan. Kalau hal ini terjadi berarti memaksakan rencana sekolah untuk dilaksanakan di sekolah kita, padahal belum tentu situasi, kondisi, dan kebutuhan suatu sekolah itu akan sama. Yang akibatnya kurikulum tersebut akan berjalan terseok-seok ataupun boleh jadi lumpuh sama sekali. Berkaitan dengan hal tersebut maka penulis memcoba untuk berbagi sedikit pe ngalaman dan pengetahuan tentang konsep-konsep dasar pengembangan kurikulum yang meliputi landasan, prinsif dan fungsi kurikulum. B.PENGERTIAN KURIKULUM Istilah kurikulum pada awalnya digunakan dalam dunia oleh raga, yang berasal dari kata curir (pelari) dan curere(tempat berpacu). Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish unuytk memperoleh mendali/penghargaan.( Ase Suherman dkk 2006:2). Pertengahan abad ke XX pengertian kurikulum berkembang dan dipakai dalam dunia pendidikan yang berarti “sejumlah plejaran yang harus ditempuh oleh siswa untuk kenaikan kelas atau ijazah”.Pengertian tradisional ini telah diterapkan dalam penyusunan kurikulum seperti Kurikulum SD dengan nama “Rencana Pelajaran Sekolah Rakyat” tahun 1927 sampai pada tahun 1964 yang isinya sejumlah mata pelajaran yang diberikan pada kelas I s.d. kelas VI. Para ahli pendidikan memiliki penafsiran yang berbeda tentang kurikulum. Namun demikian dalam penafsiran yang berbeda itu, ada juga kesamaanya.Pada dasarnya pengertian konsep kurikulum dalam dilihat dari tiga dimensi pengertian yakni kurikulum sebagai subtansi, sebagai sistem dan sebagai bidang studi (Nana Syaodih Sukmadinata 2008: 27). Kurikulum sebagai subtansi adalah kurikulum dipandang sebagai suatu rencana kegiatran belajar bagi siswa di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai.Kuriklum disini memuat komponen-komponen sebagai berikut: rumusan tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal dan evaluasi. Kurikulum sebagai sistem yaitu sistem kurikulum. Kurkilum di sini mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana menyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Hasil dari suatu kurikulum adalah tersusunya suatu kurikulum, dan fungsi dari sistem kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap dinamis. Kurikulum sebagai bidang studi yaitu bidang studi kurikulum, ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran. Tujuan kurikulum ini adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Sementara itu, banyak para ahli merumuskan konsep atau pengertian kurikulum itu sendiri, misalnya yang dikemukakan oleh J.wiles & J.Bondi yang dikutip dari Muray Print yaitu kurikulum adalah tujuan khusus atau serangkaian nilai yang diaktivasi melalui proses pengembangan yang berujung di dalam kelas untuk siswa.(1993). Selain pendapat diatas menurut Muray Print kurikulum didifiniskanm sebagai semua kesempatan belajar yang terencana dan diberikan kepada siswa oleh inbstitusi pendidikan dan pengalaman yang didapat siswa ketika kurikulum diterapkan.(1993). Dari uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahawa kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisis tentang tujuan yang harus dicapai, isi/materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan oleh siswa, strategi atau cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang direancang untuk mengumpulkan informasi ntentang pencapian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata. B.LANDASAN KURIKULUM Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memilki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan sembarangan, Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasaan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Dengan sendirinya akan berakibat pula terhadap proes pemgembangan manusia. Muray Print mengemukakan landasan kurikulum itu terdiri dari: filsafat, sosial budaya dan psikologi. R. Zais mengemukakan landasan kurikulum itu terdiri dari philisophy & nature of knowledge, siciety & culture, the individual, dan learning Theories. (1976), dan Laury Brady kurtikulum itu dibangun atas landasan sosiologi, filsafat dan psikologi. Untuk di dunia pendidikan Indonesia landasan kurikulum itu terbagi dalam empat bagian, dalam hal ini Nana Syaodih Sukmadinata mengemukakn empat landasan utama dalam pengembangan kurikulum yaitu: 1. landasan filosofis, 2. landasan psikologis, landasan sosial budaya 4. dan landasan pengetahuan dan teknologi.Keempat landasan ini akan dipaparkan secara ringkas di bawah ini:. (2008 38-72) 1.Landasan filsafat Filsafat memegang peranan penting dalam pengembangan kurikulum. Landasan filosofis bersumbetr dari panadangan-pandangan dalam filsafat pendidikan, yang menyangkuyt keyakinan terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang kehidupan yang lebih baik dijalankan .Hal ini sejalan dengan pendapat Henderson yang dikutip dalam Wina yang mengemukakan filsafat itu adalah “ populary philosophy means one is general view of life of men, of ideals, and of values, in the sense everyone has a philosophy of life”, ( 2008: 43) maksudnya adalah setiap individu atau setiap kelompok masyarakat secara filosofis akan memiliki pandangan hidup yang mungkin berbeda sesuai dengan nilai-nilai yang dianggapnya baik. Filsafat sebagai landasan pengembangan kurikulum menjawab pertanyaan-peretanyaan pokok seperti: Hendak dibawa kemana siswa yang dididik itu? Masyarakat yang bagaimana yang harus diciptakan melalui ikhtiar pendidikan? Apa hakikat pengetahuan yang harus dipelajari dan dikaji siswa? Norma-norma atau system nilai yang bagaimana yang harus diwariskan kepada anak didik sebagai generasi penerus? Bagaimana sebaiknya proses pendidikan itu berlangsung? Secara akademik. filsafat berarti upaya untuk meggambarkan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematris dan komprehensif tentang alam semesta dan kedudukan manusia di dalamnya (Nana Syaodih Sukmadinata 2008:39). Landasan filsafat Menurut Akhmad Sudrajat yang berhubungan dengan pengembangan kurikulum berpijak pada aliran-alairan filasafat sesbagai berikut: perenialisme, essensialisme, eksistensialisme, progesivisme dan rekonstruktivisme. (http://fatamorgana.wordpress.com/2008/07/12/bab-iii-landasan-dan- asas-asas-pendidikan-serta-penerapannya/ Aliran prenialisme lebih menekankan pada keabadian, keidealan, kebenaran dan keindahan daripada warisan budaya dan dampak social tertentu. Pengetahuan dianggap lebih penting dan kurang diperhatikan dalam kegiatan sehari-hari. Pendidikan yang menganut paham ini menekankan pada kebenaran absolute, kebenaran universal yang tidak terkait pada tempat dan waktu. Aliran ini lebih berorientasi pada masa lalu. Esensisialisme berpandangan bahwa pentingnya pewarisan budaya dan pemberian pengetahuan serta keterampilan pada peserta didik agar dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Matematika, sains dan materi pelajaran lainnya dianggap sebagai dasar-dasar substansi kurikulum yang berharga untuk hidup di masyarakat. Filsafat eksistensialisme menekankan pada individu sebagai sumber pengetahuan tentang hidup dan makna. Untuk memahami tentang kehidupan seseorang mesti memahami dirrinya sendiri. Aliran ini mempertanyakan: bagaimana saya hidup didunia? Apa pengalaman itu?. Progresivisme menekankan pada pentingnya melayani perbedaan individu yang berpusat pada peserta didik, variasi pengalaman belajar dan proses. Aliran ini merupakan landasan pengembangan belajar peserta didik yang aktif. Aliran rekosntruktivisme merupakan elaborasi lanjut dari aliran progresivisme. Aliran ini berpendapat bahwa peradaban manusia masa depan sangat ditekankan. Aliran ini juga lebih menekankan pada pemecahan masalah dan berpikir kritis. Penganut aliran ini menekankan pada hasil belajar daripada proses. Masing-masing aliran pasti memiliki kelemahan dan keunggulan sendiri. Oleh karena itu dalam praktek pengembanagn kurikulum, penerapan aliran filsafat cendrung dilakukan sdecara ekletik untuk lebih mengkompromikan dan mengakomodasi berbagai kepentingan yang terkait dengan pendidikan. 2. Landasan Psikologis Dasar psikologis berkaitan dengan prinsip-prinsip belajar dan perkembangan belajar.Pemahaman terhadap peserta didik, yang utama adalah berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psikologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Sebagai implikasinya peserta didik tidak mungkin memperlakukan sama kepada peserta didik, sekalipun mereka memilki kesamaan. Penyusunan kurikulum perlu memperhatikan penentuan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garis-garis besar pengajaran serta tingkat kerincian bahan belajar yang digariskan. Pemahaman tumbuh kembang manusia sangat penting sebagai bekal dasar untuk memahami peserta didik dan menemukan keputusan dan atau tindakan yang tepat dalam membantu proses tumbuh kembang secara efektif dan efesien. Pemahaman tentang anak bagi seorang pengembang kurikulum sangatlah penting. Kesalahan persepsi atau kedangkalan pemahaman tentang anak, dapat menyebakan kesalahan arah dan kesalahan praktek pendidikan. Landasan psikologis berbiacara mengenai: a.Psikologi perkembangan anak didik Salah satu hal yang perlu diketahui tentang anak adalah masa-masa perkembangan mereka. Pemahaman tentang masa perkembangan anak sangat penting hal ini didasarakan bebarapa alasan: pertama setiap anak didik memilki tahapan atau masa perkembangan masa tertentu. Kedua anak didik yang sedang pada masa perkembangan merupakan priode yang sangat menentukan untuk keberhasilan dan kesuksesan hidup mereka, dan ketiga pemahaman akan perkembangan anak akan memudahkan dalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan. (Wina Sanjaya 2008: 48). Ada tiga teori atau pendekatan dalam perkembangan anak anak yaitu pendekatan pentahapan (stage approach), pendekatan diferensial (diferensial approach) dan pendekatan ipsatif (ipsative approach).(Nana Syaodih Sukmadinata 2008:47). Menurut pendekatan pentahapan, perkembanagn individu berjalan melalui tahap-tahap perkembangan.Setiap tahap poerkembangan mempunyai karakteristik tertentu yang berbeda dengan tahap yang lainnya.Menurut Piaget tahap-tahap pekembangan intelektual (kognitif) setiap individu berlansung dalam tahap-tahap tertentu, tahap-tahap tersebut terdiri dari empat fase yaitu: (1). Sensorimotor yang berkembang dari mulai lahir sampai dua tahun. Pada fase ini kemampuan kognitif anak masih terbatas (kemampuana prinitif) artinya masih didasarkan kepada prilaku yang terbuka. Kemampuan kognitif yang dimilki anak pada masa ini merupakan intelegensi dasar yang amat berarti dan menetukan untuk perkembangan kognitif selanjutnya. (2). Praoperasional mulai dari 2 tahun sampai 7 tahun.. Fase ini ditandai dengan lima ciri-ciri yaitu: a. Adanya kesadaran dalam diri anak tentang suatu objek.b. kemampuan anak berbahasa mulai berkembang, c. Anaak mulai mengetahuyi perbedaan antara objek-objek sebagai suatu bagian dari individu atau kelasnya (fase intuisi), d. Pandangan terhadap dunia pada fase ini bersifat animiustic artinya bahwa segala sesuatu yang bergerak di dunia ini adalah “ hidup. “ e. Pemahaman dan pengamatan anak terhadap situasi lingkungan sangat dipengaruhimoleh sifatnya yang “egocentric” (3). Oprasional konkret, berkembang dari 7-11 tahun . Fase ini ditandai dengan pikiran anak terbatas pada objek-objek yang ia jumpai dari pengalaman-pengalaman langsung. Selain kemampuan-kemampuan yang telah dimiliki pada masa sebelumnya, anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut dengan system of oprations (satuan langkah berpikir). (4). Oprasional formal, yang dimulai usia 11-14 tahun. Pada fase ini pola pikir anak sudah sistematik dan meliputi proses-proses yang kompleks. (Wina Sanjaya 2008). Pendekatan diferinsial melihat bahwa individu memilki persamaan dan perbedaan. Atas dasar persamaan dan perbedaan tersebut individu dikategorikan atas kelompok-kelompok yang berbeda. Kelompok individu berdasarkan jenis kelamin, ras, agama, status social ekonomi, dan sebagainya. Pendekatan isaptif adalah pendekatan yang berusaha melihat karakteristik yang dimiliki oleh individu yang tidak dimiliki oleh individu lainnya. b.Psikologi belajar Psikologi belajar merupakan ilmu yang meempelajari tentang prilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek prilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan sekaligus mendasari perkembangan kurikulum. Segala perubahan tingkah laku baik yang berbentuk kognitif, afektif maupun psikomotor dan terjadi karena proses pengalaman dikategorikan sebagai prilaku belajar. (Nana Syaodih Sukmadinata 2008: 52). Banyak teoari yang membahas tentang belajar sebagai perubahan tingkah laku, namun setiapo teori itu berpangkal dari pandangan Jhon Locke dan hakikat manusia menurut Leibnitz.(Wina Sanjaya 2007:78). Menurut Jhon Lock manusia itu organisme yang pasif. Yang beranggapan bahwa manusia itu seperti kertas putih (teori tabularasa), hendak ditulis apa kertas putih itu tergantung orang yang menulisnya.Sedangkan menurut Leibmitz menganggap bahwa manusia adalah oraginsme yang aktif. Manusia merupakan sumber dari semua kegiatan. Teori Jhon Lock melahirkan teori belajar behavioristik-elementeristik, menurut treori ini belajar pada hakekatnya adalah pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap pancaindra dengan kecendrungan untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respons (S-R). Proses belajar sangat tergantung adanya rangsangan atau stimulus yang muncul dari luar diri atau factor lingkungan. Sementara itu teori Leibnitz menghasilkan teori belajar kognitif-wholistik. Teori berpendapat belajar adalah kegiatan mental yang ada dalam diri setiap individu. Kegiatan mental memamng tidak dapat dilihat secara nyata, akan tetapi justru sesuatu yang ada dalam dirilah yang menggerakkan seseorang mencapai perubahan tingkah laku. 3. Landasan sosial budaya Masyarakat tidak bersifat statis. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat selalu mengalami perubahan, bergerak menuju perkembangan yang semakin kompleks. Perubahan bukan hanya terjadi pada system nilai, akan tetapi juga pada pola kehidupan, struktur social, kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Dalam kehidupan social yang semakin kompleks tersebut, maka muncul pula berbagai kekuatan kelompok yang dapat memberikan tekanan terhadap penyelenggaraan dan praktek pendidikan termasuk di dalamnya tekanan-tekanan dalam proses pengembangan isi kurikulum sebagai alat dan pedoman penyelenggaraan pendidikan. Kesulitan yang dihadapi oleh para pengembang kurikulum adalah manakala setiap kelompok social memberikan masukan dan tuntutan yang berbeda sesuai dengan kepentingan kelomponya, misalnya tuntutan golongan agama, politik, militer, industri dan sebagainya. Pertentangan-pertentangan ini mengakibatkan cara pandang mereka kelompok tertentu untuk di bawa ke mana arah pendidikan, misalnya kelompok agamawan ingin membawa pendidikan kearah budi pekerti, sementara menurut padangan industriawan beranggapan bahwa peserta didik harus disiapkan sebagai tenaga teknis yang memiliki keteramnpilan dalam bidang industri. Berdsasarkan kenyaataan tersbut hendaknya pengembang kurikulum harus memperhatikan tekanan-tekanan tersebut dengan peran evaluatif dan peran kritis agar preoses pengkajian secara kritis tentang apa saja muatan kurikulum yang dianggap layak untuk dipelajari oleh anak didik. 4. Landasaan Ilmu pengetahuan dan Teknologi. Pada awalnya, ilmu penhetahuan dan teknologi yang dimilki manusia masih relatif sederhana, namun sejak abad pertengahan mengalami perkembangan yang pesat. Berbagai penemuan teori-teori baru terus berlansung hingga saat ini dipastikan kedepannya akan terus semakin berkembang. Akal manusia telah mampu menjangkau hal-hal yang sebelumnya merupakan sesuatu yang tak mungking. Pada jaman dahulu kala, mungkin orang akan menganggap mustahil kalau manusia bisa mengijakkan kaki di bulan, tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad ke-20, pesawat Appolo berhasil mendarat di bulan. Kemajuan pesat dunia dalam bidang informasi dan teknologi dalam dua warsa terakhir telah berpengaruh pada peradaban manusia, melebihi jangkuan manusia sebelumnya. Pengaruh ini terlihat pada pergeseran tatanan sosial, ekonomi dan politik yang memerlukan keseimbangan antara nilai-nilai, dan cara kehidupan yang berlaku pada konteks global dan lokal. Sifat pengetahuan dan keterampilan yang harus dikuasai masyarakat sangat beragam dan canggih, sehingga diperlukan kurikulum yang disertai dengan kemampuan meta-kognisi dan kompetensi untuk berpikir dan belajar, bagaimana belajar (learning to learn), dalam mengakses, memilih dan menilai pengetahuan, serta mengatasi situasi yang ambigu dan antisipatif terhadap ketidakpastian.(htt://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No.026/sebuah tinjauan teoritis Indris. h tm.). Perkembangan dalam ilimu pengetahuan dan teknologi, terutama dalam bidang transportasi dan komunikasi telah mampu merubah tatanan kehidupan manusia. Oleh karena itu, kurikulum seyogyanya dapat mengakomodir dan mengantisipasi laju perkembangan ilmu pengetahauan dan teknologi, sehingga peserta didik dapat mengimbangi seklaigus mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kemaslahatan dan kelangsungan hidup manusia C. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM Secara gramatikal kata prinsif berarti asas, dasar, keyakinan dan pendirian.( Ase Suherman, dkk 2006: 48). Dari pengeratian di atas bahwa prinsif itu mengandung makna pada sesuatu yang sangat penting, mendasar dan harus diperhatikan, memilki sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu yang biasanya selalu ada atau terjadi pada siituasi dan kondisi yang serupa. Prinsif-prinsif pengembangan kurikulum menunjuk pada suatu pengertian tentang berbagai hal yang harus dijadiuan patokan dalam mmenentukan berbagai hal yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum terutama dalam fase perencanaan kurikulum (curriculum planning), yang pada hakikatnya prinsif-prinsif tersebut merupakan ciri dari hakikat kurikulum itu sendiri. Secara lebih rinci, prinsif-prinsif pengembangan kurikulum tersebut terdiri dari: 1.Prinsif secara umum Nana Syaodih Sukmadinata membagi prinsif secara umum ini terdiri lima bagian yaitu: prinsif relevansi, fleksibelitas, kontinuitas, praktis atau efisien dan efektivitas.(2008: 150-151). Untuk lebih memahami kelima prinsif ini, di bawah ini akan dibahas satu persatu. a. Prinsif relevansi Relevansi atau kesesuaian menurut Oliva yang dikutip dari Oemar Hamalik merupakan masalah lain yang cukup esensial dan harus mendapat perhatian dalam pengembangan kurikulum.(2008:44). Ada dua macam relevansi yang harus dimiliki kurikulum yaitu relevansi ke dalam (internal relevance) dan relevansi keluar(eksternal relevance). Relevansi internal yaitu kesesuian antar komponen kurikulum itu sendiri. Kurikulum merupakan suatu sistem yang dibangun oleh komponen-komponen tujuan, isi, metode dan evaluasi yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu, belajar dan kemampuan siswa. Sedangkan relevansi eksternal adalah Bahwa kurikulum komponen tujuan, isi, dan proses belajar yang mencakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Kurikulum menyiapkan siswa untuk biasa hidup dan bekerja dalam masyarakat. Selain dari hal-hal tersebut di atas yang berkenaan denga prinsif relevansi Oemar Hamalik mengemukakan prinsif relevansi itu harus dikaitkan dengan masalah dunia kerja (vocation), kependudukan (citizenship), hubungan antar pribadi (personal relationship), dan berbagai aktivitas masyarakat lainnya yang menyangkut budaya, social, politik dan sebagainya.(2008:45). b. Prinsif fleksibelitas. Kurikulum harus bersifat lentur atau fleksibel, artinya kurikulkum itu harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada, kurikulum yang kaku atau tidak fleksibel akan sulit untuk diterapkan. (Wina Sanjaya 2008:41). Kepleksibelan kurikulum akan sangat tampak dalam pelaksanaannya dalam mencapai tujuan tertentu sesuai dengan jenis dan jenjang sekolah. Yang dalam hal ini dapat dilihat dari strategi, metode dan teknik yang digunakan dalam kegiatan belajar megajar yang merupakan implementasi kurikulum itu sediri. Hal ini sejalan dengan pendapat Nana Syaodih Sumadinata ” Kurikulum mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, disini dan di tempat lain, bagi anak yang memilki latar belakang dan kemampuan yang berbeda. Suatu kurikulum yang baik adalah kurkulum yang berisi hal-hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian-penyesuian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak”.(2008:151) c. Prinsif kontinuitas Pada dasarnya, prinsif kontinuitas menyerupai dengan apa yang disebut ”spiral curriculum”, yaitu pengenalan konsep, keterampilan, dan pengetahuan secara berulang.(Oemar Hamalik 2008:49). Pengertian ini mengandung makna bahwa perlu dijaga saling keterkaitan atau kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi pelajaran agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah diberikan dan dikuasai oleh siswa padsa waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya. Untuk menjaga agar prinsif kontinuitas ini tetap berjalan maka perlu ada kerja sama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalkan para pemgembang kurkulum pada jenjang SD, jenjang SMP dan SMA, dan bahkan dengan perguriuan tinggi. d. Prinsif praktis atau efisiensi. Prinsif efesiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu dan suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.(Wina Sanjaya 2007:56). Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efesiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat meperoleh hasil yang maksimal. Betapun bagus dan idealnya suatu kurikulum, manakala menuntut peralatan, sarana yang sangat khusus serta mahal hargnya, maka kurikulum itu tidak praktis atau efesien dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dapatr dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan. e. Prinsif efektifitas. Prinsif efektifitas berkenaan dengan rencana dalam suatu kurikulum dapat dilaksanakan dan dapat dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.(Wina Sanjaya 2008:41). Efektifitas pengembangan kurikulum dapat dilihat dari dua sisi yaitu: pertama efektifitas yang berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas, kedua efektifitas yang berhubungan dengan kegiatan -kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Efektifitas kegiatan guru dapat dilihat dari keberhasilan mengimplementasikan program sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Sebagai contoh dalam satu semester guru menetapkan 10 pokok bahasan yang akan dicapai dan disampaikan kepada siswa, ternyata sepuluh pokok bahasan tersebut tercapai dan dapat disampaikan, ini ini berarti perencanaan tersebut telah efektifit, dan jika ada satu atau dua pokok bahasan tidak tersampaikan atau tercapai maka perencanaan tersebut tidak efektif. Sedangkan efektifitas dari kegiatan-kegiatan siswa dapat dilihat dari sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan sesuai dengan jangka waktu tertentu. Selain dari kelima prinsif-prinsif pengembangan kurikulum secara umum di atas, Oliva mengemukan sepuluh prinsif pengembangan kurikulum sesuai yang dikutif oleh Ase Suherman dkk, sebagai berikut: Perubahan kurikulum adalah sesuatu yang tidak dapat dihindarkan dan bahkan diperlukan. Kurikulum merupakan produk dari masa yang bersangkutan. Perubahan kurikulum masa lalu sering terdapat secara bersamaan bahkan tumpang tindih dengan perubahan kurikulum yang terjadi masa kini. Perubahan kurikulum akan terjadi dan berhasil sebagai akibat dan jika ada perubahan pada orang-orang atau masyarakat. Pengembangan kurikulum adalah kegiatan kerjasama kelompok. Pengembangan kurikulum pada dasarnya adalah proses menentukan pilihan dari sekian alternatif yang ada. Pengembangan kurikulum adalah kegiatan yang tidak akan pernah berakhir. Pengembangan kurikulum akana berhasil jika dilakukan secara komprehensif, bukan aktivitas bagian perbagian yang terpisah. Pengembangan kurikulum akan lebih efektif jika dilakukan dengan mengikuti suatu proses yang sistematis. Pengembangan kurikulum dilakukan berangkat dari kurikulum yang ada.(2008:53-54). 2. Prinsif secara khusus. Prinsif khusus berkenaan dengan prinsif yang hanya berlaku ditempat tertentu dan situasi tertentu, dalam hal ini menurut Nana Syaodih Sukmadinta prinsif ini berkenaan dengan penyusunan tujuan, isi, pengalaman belajar dan penilaian.(2008:152). Prinsif berkenaan dengan tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan mencakup tujuan yang bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah, dan jangka peendek (khusus). Perumusan tujua bersumber pada: ketentuan dan kebijaksanaan pemerintah, survei mengenai persepsi dan kebutuhan orang tua atau masyarakat, survei para ahli dalam bidang-bidang tertentu, survei tentang manpower (sumber daya manusia/tenaga kerja), pengalaman-pengalaman negara lain dalam masalah yang sama, dan bersumber pada penelitian. Prinsif yang berkenaan pemilihan isi pendidikan. Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk menentukan isi pendidikan atau kurikulum yaitu: penjabaran tujuan pendidikan atau pengajaran ke dalam perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana, isi pelajaran meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor, dan unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang sistematis dan logis. 3. Prinsif yang berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar. Untuk menentukan kegiatan proses belajar mengajar harus memperhatikan: apakah metode atau teknik yang digunakan : cocok untuk mengajar bahan yang diajarkan? Memberikan kegiatan yang bervariasai dalam melayani siswa? Memberikan kegiatan urutan yang bertingkat-tingkat? Menciptakan kegiatan untuk mencapai tujuan kognitif, afektif, psikomotor? Mengaktifkan siswa, guru atau kedua-duanya? Mendorng berkembangnya kemampuan baru? Menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan di rumah, juga mendorong penggunaan sember belajar yang ada di rumah dan masyarakat? Dan untuk belajar yang bersifat keterampilan dibutuhkana kegiatan belajar yang menekankan “learning by doing” disamping “ learning by seeing and knowing”. 4. Prinsif yang berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran. Untuk mewujudkan proses belajar- mengajar yang baik perlu didukung oleh penggunaan media dan alat bantu pembelajaran yang tepat. Berikut merupakan pinsip-prinsip dalam pemilihan media yaitu: media apa yang diperlukan? Apakah media tersebut sudah tersedia? Adakah alternatif penggunaan media lain jika di sekolah tidak ada media yang tesedia? Kalau ada yang harus dibuat hendaknya memperhatikan bagaimana membuatnya, siapa yang membuat, berapa biayanya dan berapoa lama waktu yang digunakan dalam membuatnya? Bagaimana mengorganisasikan alat tersebut dalam pelajaran, apakah dalam bentuk paket modul atau lain-lain? Bagaimana mengintegrasikannya dalam keseluruhan kegiatan belajar? Dan hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multi media. 5.Prinsip yang berkenaan dengan penilian Penilian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam pembelajaran, yang bertujuaan untuk mengukur sejauh mana tujuan yang direncanakan telah tercapai. Menurut Laurie Brady penilian dalam pengembangan kurikulum meliputi dua hal yaitu penilian kinerja siswa dan penilaian kurikulum itu sendiri (1990). Dalam prinsif yang bersifat khusus ini yang berkaitan dengan penilaian, lebih dititik beratkan pada penilian tentang kinerja siswa. Dalam membuat penilian harus ada tiga fase yang harus diperhatikan yaitu: ketika merencanakan alat penilian, menyusun alat peniliaan, dan mengelola hasil penilian.(Ase Suherman, dkk 2006: 56). Hal-hal yang harus diperhatikan dalam fase perencanaan penilian yaitu: bagaimanakah karakteristik kelas, usia, tingkat kemamapuan kelompok yang akan dites? Berapa lama waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan tes?Apakah bentuk tes itu uraian atau pilihan?Berapa banyak butir tes yang perlu disusun?Apakaha tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau murid?. Sedangkan faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan alat penilaian mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: – Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan secara umum yang meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotor. – Uraikan ke dalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati. – Hubungkan dengan bahan pelajaran – Tuliskan butir-butir tes. Untuk pengelolaan hasil penilaian harus memperhatikjan prinsip–prinsip sebagai berikut: norma penilaian apa yang digunakan dalam pengelolaan hasil test? Apakah digunakan format guessing (menebak)? Bagaimana pengubahan skor ke skor jadi? Skor standar apa yang akan digunakan? Untuk apakah hasil tes digunakan? D.FUNGSI KONSEP-KONSEP DASAR KURIKULUM BAGI STEKHOLDER-STEKHOLDER SEKOLAH. Menurut McNeil yang dikutip dari Wina Sanjaya, kurikulum itu memilki empat fungsi yaitu (1).fungsi pendidikan umum (common and general education), (2).fungsi suplementasi (supplementation),(3). fungsi eksplorasi (exploration) (4). dan fungsi keahlian (specializartion).(2008: 12). Sejalan dengan pembahasan mengenai fungsi kurikulum Oemar Hamalik mengemukakan enam fungsi kurikulum yaitu: (1).Fungsi penyesuaian (the adjustive of adaptive function), (2).fungsi integrqasi (the integrating function), (3).fungsi diferensial (the differentiating function), (4).fungsi persiapan (the propaedeutic function),(5). fungsi pemilihan (the selective function) ,(6).dan fungsi diagnostic (the diagnostic function). (2008: 13-14). Dari pembahasan pendapat –pendapat diatas dapat disimpulkan bahawa secara umum kurikulum berfungsi untuk setiap orang atau lembaga yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam suatu lingkungan sekolah ada orang-orang berkompeten atau stekholder-stekholder yang terdiri dari :pengawas sekolah, kepala sekolah, guru, siswa, orang tua dan masyarakat. Fungsi kurikulum dapat juga kita lihat dari stekholde-stekholder tersebut, yang akan di bahas di bawah ini satu persatu: Fungsi bagi pengawas sekolah Bagi pengawas kurikulum akan berfungsi sebagai panduan dalam melaksanakan supervise.Dengan ddemikian dalam proses pengawasan para pengawas akan dapat menentukan apakah program sekolah termasuk dalam pelakaksanaan proses pembelajarannya sudah sesuai dengan tuntutan kurikulum atau belum, sehingga berdasarkan kurikulum juga pengawas dapat memberikan sasaran perbaikan. Fungsi bagi kepala sekolah Bagi kepala sekolah kurikulujm berfungsi untuk menyusun perencanaan dan program sekolah, dengan demikian, penyusunan kalender zsekolah (kaldik), pengajuan sarana dan prasarana sekolah kepada dewan guru, penyusunan berbagai kegiatan sekolah (ekstraakurikulre dan kegiatan lainnya) harus didasarkan pada kurikulum. Fungsi bagi guru Bagi guru , kurikulum berfungsi sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang berdasarkan kurikulum, maka tidak akan berjalan dengan efektif, sebab pembelajaran adalah proses yang bertujuan, sehingga segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa diarahkan untuk mencapai tujuan.. Fungsi bagi orang tua murid dan masyarakat. Bagi orang tua dan masyarakat kurikulum adalah sebagai pedoman untuk memberikan bantuan bagi penyelenggaraan program sekolah, maupun membantu putra putrinya belajar di tumah sesuai dengan program sekolah, dan memberikan sumbangan pemikiran kepada pihak sekolah apa yang menjadi tuntutan masyarakat yang berada dalam suatu lingkungan sekolah tertentu. Fungsi bagi siswa. Bagi siswa, kurikulum berfungsi sebagai pedoman belajar. Melalui kurikulum siswa akan memahami apa yang harus dicapai, isi apa yang harus dikuasai, dan pegalaman belajar apa yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan. Menurut Alexander Inglis yang dikutip dalam Wina ada enam fungsi kurikulum bagi siswa yaittu: (1). Fungsi penyesuaian (the adjustive or adative function), maksudnya bahwa kurikulum harus dapat mengantar siswa agar mampu menyesuiakan diri dalam kehidupan social masyarakat. (2). Fungsi integrasi (the integrating function), maksudnya bahwa kurikulum harus dapat mengembangkanp ribadi secara utuh.Kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor harus berkembang secara integrasi. (3). Fungsi differensiasi (the differentiating function), bahwa kuirkulum harus dapat melayani setiap siswa dalam setiap keunikan. (4). Fungsi persiapan (the preparation function), maksudnya bahwa kurikulum harus dapat memberikan pengalaman belajar bagi anak baik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, mau;pun untuk kehidupan di masyarakat. (5). Fungsi pemilihan (the seective function), maksudnya bahwa kurikulum dapat memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk belajar sesuai dengan bakat dan minatnya. (6). Fungsi diagnostik (the diagnostic function), maksudnya fungsi kurikulum untuk mengenal berabagai kelemahan dan kekuatan siswa. (2008 :14) Kesimpulan Kurikulum merupakan inti dari bidang pendidikan dan memilki pengaruh terhadap seluruh kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya kurikulum dalam pendidikan dan kehidupan manusia maka penyusunan kurikulum tidak dapat dilakukan sembarangan, Penyusunan kurikulum membutuhkan landasan-landasan yang kuat, yang didasarkan pada hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Penyusunan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasaan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Konsep dasar kurikulum meliputi pengertian kurikulum, landasan-landasan kurikulum, prinsif-prinsif kurikulum. Kalau ketiga hal ini tidak dipahami atau dimengeti dan dikuasai oleh orang-orang yang berkecimpung dalam kegiatan implementasi kurikulum itu sendiri, maka ibaratkan membangun sebuah rumah yang cantik, megah dan indah tetapi tanpa pondasi atau bahan-bahan yang kuat, maka akan dapat dilihat dalam beberapa waktu, rumah itu akan ambruk dengan sendirinya. Hal ini dapat kita lihat dengan keberadaan KTSP sekarang, pihak sekolah hanya ingin menerapkan KTSP karena adanya kebijaksanaan pemerintah dengan jalan hanya menjiplak atau copy paste dari kurikulum sekolah lain yang lebih mapan, padahal belum tentu KTSP yang dibuat oleh suatu sekolah lain akan dapat diterapkan pada sekolah lain juga. Memahami atau mengerti dan memiliki pengetahuan konsep-konsep dasar tentang kurikulum merupakan salah satu bentuk kompetensi yang harus dimilki oleh guru, karena merupakan salah satu bentuk kompetensi pedagogik.Kompetsi pedagogik adalah ciri salah satu bahwa guru dapat dikatakan sebagai tenaga yang profesional. Sebagai tenaga yang profesional tentunya hal-hal yang menjadi dasar dalam bidang kerjanya mutlak dan harus untuk dimiliki dan diketahui. Tetapi kenyataannya apakah guru-guru kita sekarang sudah memahami konsep-konsep dasar kurikulum ini? Dan apakah dalam penyusunan KTSP sudah berdasarkan pada Konsep-konsep dasar kurikulum? Hal inilah yang harus kita dan pengambil kebijaksanaan untuk dijawab dan diwujudkan dalam kegiatan yang nyata. Dengan cara mengadakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kompetensi pemahaman tentang kurikulum. Saran 1. Dengan telah diketahui dan dipahaminya tentang konsep-konsep dasar kurikulum diharapkan dalam pelaksanaan perancangan KTSP yang berlaku disatuan pendidikan tertentu, benar-benar merupakan hasil karya antara stekholder-stekholder yang berada di suatu sekolah, bukan merupakan copy paste dari KPTS sekolah lain. 2. Dengan konsep-konsep dasar kurikulum yang kuat yang menjadi pedoman dalam penyusunan kurikulum dalam satuan pendindikan tertentu, sekolah dapat menjadi pemicu kompetensi yang positif antar sekolah. 3. Sebagai konsep dasar yang harus dimiliki dalam pengembangan kukulum guru wajib untuk memahami dan memiki pengetahuan tentang dasar-dasar kurikulum, dan bahkan harus dapat diimplementasikan dalam kegiatan-kegiatan pelaksanaan proses belajar –mengajar di kelas. 4. KTSP yang ada pada suatu satuan sekolah tertentu, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi haruslah disusun berdasarkan pada lansadan-landasan dan prinsip-prinsip kurikulum, agar tujuan yang diharapkan benar-benar tercapai, yang akhirnya tercipta manusia yang mempunyai kualitas hidup yang tinggi sebagai generasi penerus bangsa. DAFTAR PUSTAKA Brady, Laurie (1990). Curriculum Development. Australia.Prentice Hall. Danin, Suherman (2002). Inovasi Pendidikan Dalam Uoaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Pendidikan.Bandrung. Pustaka Setia. Hamalik, Oemar. (2008).Dasar-Dasar Pengembangan Kuirkulum. Bandung; PT Remaja Rosdakarya. Hartoto.(2008) Bab III Landasan dan Asas-asas Pendidikan dan Penerapannya [Online]. Tersedia:.(http://fatamorgana.wordpress.com/2008/07/12/bab-iii-landasan-dan- asas-asas-pendidikan-serta-penerapannya/ [ 28 Agustus 2008] Noor HM. Idris (2008). Inovasi Pendidikan di Indonesia.[Online]. Tersedia: htt://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No.026/sebuah tinjauan teoritis Indris. h tm.).[ 28 Agustus 2008] Print, Murray (1993). Curriculum Dedvelopment and Desing. Australia, Allen & Unwin Sanjaya, Wina (2008). Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembangan Kuirkulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta; Fajar Interpratama Offset. ………………………. (2007). Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia ………………………. (2008). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.Jakarta: Kencana Predana Media Group. Siraj, Saedah (2008). Kurikulum Masa Depan. Malaysia. Universiti Malaysia. Sukmadinata,N.S.(2008) Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek: Bandung;PT.Remaja Rosdakarya Suherman, Ase, dkk. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. TIM Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Pendidikan Indonesia. Zais S. Robert. (1976). Curriculum Principles and Fondation. London. Harper & Row Publishers. Noor HM. Idris (2008) Inovasi Pendidikan di Indonesia.[Online]. Tersedia: htt://www.pdk.go.id/balitbang/Publikasi/Jurnal/No.026/sebuah tinjauan teoritis Indris. h tm.).[ 28 Agustus 2008]. *.Mahasiswa S2 Pengembangan Kurikulum, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Arikel ke depan akan dipaparkan tentang model-model pengembangan kurikulum.


2 Komentar so far
Tinggalkan komentar

salam kenal.

Hartoto
http://fatamorghana.wordpress.com

Komentar oleh Hartoto

salam kenal kembali, terimakasih telah mau membaca blog saya.

Komentar oleh chandrawati




Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: