Chandrawati’s Blog


PRESIDEN DIREKTUR SEKOLAH
April 8, 2009, 6:03 am
Filed under: ARTIKEL

By. Sri Rahayu Chandrawati, S.pd

Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan .Di tangan kepala sekolahlah keberhasilan suatu sekolah.Keberadaan kepala sekolah di suatu sekolah ibaratkan sebagi seorang kepala keluarga, yang mengatur,membina,membimbing,merencanakan dan bahkan mememutuskan segala sesuatu yang berkaitan dengan kebijaksanaan sekolahnya.Apa jadinya jika suatu sekolah tidak ada seorang pimpinan,yang saya istilahkan sebagai seorang presiden derektut.Mungkin sekolah tersebut tidak akan berjalan secara seperti yang diharapkan.Wewenang kepala sekolah mencakup semua hal disekolah, yaitu mengenai siswa,guru,masyarakat,administrasi,lingkungan dan bahkan pemeintah setempat.
Di dunia pendidikan elemen-elemen yang terdapat di sekolah  merupakan satu kesaatuan  yang utuh,yang merupakan suatru system yang tak dapat dipisahkan.Adapun elem-elemen tersebut adalah siswa,guru,kepala sekolah,pegawai tata uasaha,sarana prasarana,masyarakat dan pemerintah.

Salah satu elemen yang sangat penting disuatu sekolah dalam pengambilan keputusan dan kebijaksanaan adalah kepala sekolah(head master). Sehingga timbul suatu anggapan bahawa maju mundurnya suatu sekolah tergantung pada pimpinan sekolah tersebut.Dan ironisnya tundingan itu bukan hanya berasal daru luar sekolah ,melainkan berasal dari dalam sekolah itu sendiri.

Di mata guru,kepala sekolah adalah orang yang selalu dijadikan bahan sorotan. Tak heran ada beberapa sekolah yang berani melawan dan bahkan menantang kebijaksanaan kepala sekolah.,apakah ini memamng sudah jamannya krisis moral? Atau apakah figure kepala sekolah yang mereka dambakan sebagai seorang nabi?Kepala sekolah hanyalah guru biasa  yang diberi  tugas tambahan sebagai presiden derektur sekolah, dengan memiliki persyaratan khusus,salah satunya adalah dinyatakan lulus tes cakep.

Untuk itulah pemaparan tentang presiden derektur sekolah ini dimaksudkan untuk mengingatkan kembali kepada kepala sekolah yang telah mulai hilang sosok kinerjanya, yang utama adalah meningkatkan kualitas pendidikan yang ada di sekolah binaannyadan untuk memberikan gambaran kepada guru atau staf tata usaha atau masyarakat dilingkungan sekolah tentang fungsi dan tanggung jawab kepala sekolah,sehingga diharpakan dengan melihat kepada tangung jawab kepala sekolah, masyarakat, guru san staf sekolah , mengerti,memahami dan dapat membantu dalam memajukan sekolah secara seirang-sejalan.

Melihat kepada dekade sekarang ini,semenjak diluncurkannya program pemerintah dalam pengelolaan sarana dan prasarana yaitu program imbal swadaya dan program swakelola beruapa diberikanya BOM (Bantuan Oprasional Mutu),DUK (dana alokasi Khusus)ada kecendurngan kepala sekolah berlomba-lomba mengejar proyek dan melaksanakan proyek tersebut,sehingga yang menjadi kinerja utamanya di sekolah terabaikan.Apakah hal ini akan dibiarakan berlarut-larut, dan bagaimana nantinya kewibawaan kepala  tersebut? Sehinga timbul nantinya istilah kepala sekolah proyek bukan kepala sekolah kinerja.

Suatu kenyataan terjadi, dalam satu tahun ajaran seorang kepala sekolah dua kali dipilih menjadi kepala saekolah,karena dianggap tahun  pertama berhasil menyelesaikan pembangunan sekolah baru, kemudianng mendapat tugas  beberapa bulan kembali ada proyek pembangunan  sekolah lain, maka ditunjuk kepala sekolah tersebut lagi sebagai pelakasananya. Sekarang timbul suatu pertanyaan apakah kepala sekolah kinerja atau kepala sekolah proyek. Ini salah siapa. Apa yang dituntut dari seorang kepala sekolah.Hal ini pun terjadi tidak semua kepala sekolah,tetapi kalau dibiarkan berlarut-larut karena ulah sekelintir oknum tertentu dan sebelum parahnya virus tersebut yang lama kelamaan akan merusak citra dan kewibawaan kepala sekolah di mata pendidikan.

Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. (Sudarman 2002: 145). Meskipun senabagi guru yang mendapat tugas tambahan kepala sekolah merupakan orang yang paling betanggung jawab terhadap aflikasi prinsif-prinsif administrasi pendidikan yang inovatif di sekolah.

Sebagai orang yang mendapat tugas tambahan berarti tugas pokok kepala saekolah tersebut adalah guru yaitu sebagai tenaga pengajar dan pendidik,di sisni berarti dalam suatu sekolah seorang kepala sekolah harus mempunyai tugas sebagai seorang guru yang melaksanakan atau memberikan pelajaran atau mengajar bidang studi tertentu atau memberikan bimbingan. Berati kepala sekolah menduduki dua fungsi yaitu sebagai  tenaga kependidikan dan tenaga pendidik. Hal ini sesuai dikemukakan oleh Sudarwan   tentang jenis-jenis tenaga  Kependidikan sebagai berikut:

tenaga pendidik terdiri atas pembimbing,penguji,pengajar dan pelatih
tenaga fungsional pendidikan,terdiri atas penilik,pengawas,peneliti dan pengembang di bidang  kependidikan, dan pustakawan
tenaga teknis kependidikan,terdiri atas laboran dan teknisi sumber belajar
tenaga pengelola satuan pendidikan,terdiri atas kepala sekolah,direktur,ketua,rector, dan pimpinan satuan pendidikan luar sekolah.
tenaga lain yang mengurusi masalah-masalah manajerial atau administrative kependidikan.(2002: 18).


Pada pembahasan ini penulis meninjau presiden derektur sekolah sebagai tenaga pengelola satuan pendidikan (poin 4). Mengapa penulis mengambil istilah presden direktur sekolah? Karena istilah ini lebih identik dengan kekuasaan seorang dalam menguasai suatu tempat. Di mana wewenag,tangung jawab dan kebikajsanaan ada di tangan kepala sekolah,sekolah lain atau Negara lain tak berhak ikut capur dalam urusan suatu sekolah yang menjadi hak otonomi sekolahnya.

Para pakar pendidikan  dan administrasi pendidikan cendrung sependapat bahwa kemajuan besar dalam bidang pendidikan hanya mungkin dicapai jika administrasi pendidikan itu sendiri dikelola secara inovatif.Hal ini sejalan dengan pendapat Sanusi  dkk yang menyatakan bahwa Adminstrasi yang baik mendudduki tempt yang sangat menentukan dalam struktur dan artikulasi system pendidikan (2002: 132).Siapa yang bertanggung jawab  mengelola,merencakan dan melaksanakan administrasi tersebut di suatu sekolah adalah di bawah kendali kepala sekolah.Untuk itu kepala sekolah harus memilki kemampuan professional yang menurut Sanusi  ada empat kemampuan profesional kepala sekolah yaitu:

kemampuan untuk menjalankan tanggungjawab yang diserahkan kepadanya selaku unit kehadiran murid.

Kemampuan untukmenerapkan keterampilan-keterampilan konseptual,manusiawi, dan teknis pada kedudukan jenis ini.

Kemampuan untuk memotivasi para bawahan untuk bekerja sama secara sukarela dalam mencapai maksud-maksud unit dan organisasi.
Kemamapuan untuk memahami implikasi-implikasi dari perubahan social, ekonomis,politik,dan educational; arti yang mereka sumbangkan kepada unit; untuk memulai dan memimpin perubahan-perubahan yang cocok di dalam unit didasarkan atas perubahan-perubahan social yang luas.(2002 :133)


Sedangkanmenurut PERMEN DINKNAS No 13 tahun 2007 tentang Satandar  kepala sekolah/Madrasah kepala sekolah harus memiliki kompetensi atau kemampuan yang meliputi demensi kompetensi kepribadian,manajerial, kewirausahaan supervisi dan sosial. Secara lebih rinci penjelasan kelima kompetensi tersebut dapat dilihat pada table di bawah ini:

Kopetensi Kepala Sekolah

KEPRIBADIAN

a) Berahlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlah mulia bagi komunitas di sekolah atau madrasah.

b) .Memilki in tegritas kepribadian sebagai pemimpin.

c) Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah/madrasah.

d) Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.

e) Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekola.h/amdrasah.

f) Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.


MANAJERIAL

a) Menyusun perencanaan sekolah/madrasah  untuk berbagai tingkatan perencanaan

b) Mengembangkan organisasi sekolah/ madrasah sesuai dengan kebutuhan.

c) Memimpin sekolah/ madrasah dalam rangka mendayagunakan sumber daya sekolah/madrasah secara optimal.

d) Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah/ madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.

e) Mencipatakan budaya dan ilkim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.

f) Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.

g) Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka penbdayagunaan secara optimal.

h) Mengelola hubungan sekolah/ madrasah dan masyarakat dalam rangka pendirian dukungan ide, sumber belajar dan pembinaan sekolah/ madrasah.

i) Mengelola peserta didik dalam ranagka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.

j) Mengelola pengembangan kuirkulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.

k) Mengelola keuangan sekolah/madrasah sesuai dengan prinsif pengelolaan yang akuntabel, transfaran dan efesien.

l) Mengelola ketatausahaan sekolah/ madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah.

m) .Mengelola unit layanan sekolah/madrasah dalama mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.

n) Mengelola system informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.

o) Memamfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.

p) Melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kegiiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjut.


Kewirausahaan

a) Mencipatakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.

b) Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasai pembelajar yang efektif.

c) Memilki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pimpinan sekolah/madrasah.

d) Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.

e) Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.

4, Supervisi.

a) Merencanakan program supervise akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

b) Melaksanakan supervise akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.

c) Menindaklanjuti hasil supervise akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru

.
5.Sosial

a) Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah.

b) Berpartisifasi dalam kegiatan social kemasyarakatan.

c) Memiliki kepekaan social terhadap orang atau kelompok lain.

Disamping kompetenssi yang tersebut diatas yang harus dimilki oleh kepala sekolah, mereka juga harus mampu mengakomodasi tiga jenis keterampilan baik secara perjenis maupun secara terintegrasi tercermin dalam mekanisme kerja adminsitrasi sekolah sebagai proses social. Tiga keterampilan tersebut menurut Katz (1995), yang dikutip oleh sergiovani dkk(1987) meliputi:

· Keterampilan teknis (technical skill)

· Keterampilan melakukan hubungan-hubungan kemanusiaan (human skill).

· Keterampilan konseptual (conceptual skill)


Seorang Kepala Sekolah pada hakekatnya adalah pemimpin yang menggerakkan, mempengaruhi, memberi motivasi, serta mengarahkan orang di dalam organisasi atau lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Mulyasa (2004:182) secara tersirat menegaskan bahwa “tugas dan tanggung jawab Kepala Sekolah menyangkut keseluruhan kegiatan sekolah.” Seorang Kepala Sekolah harus mampu memobilisir sumber daya sekolah meliputi teknis dan administrasi pendidikan, lintas program dan lintas sektoral dengan mendayagunakan sumber-sumber yang ada di sekolah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dengan demikian peran Kepala Sekolah sangat penting dalam peningkatan mutu pendidikan.

Aspek kunci lain berkaitan dengan peran Kepala Sekolah dalam melaksanakan upaya perbaikan kualitas pendidikan adalah dengan memberikan bimbingan kepada guru dalam memperbaiki mutu proses belajar mengajar. Ukuran keberhasilan Kepala Sekolah dalam menjalankan peran dan tugasnya adalah dengan mengukur kemampuan dia dalam menciptakan ”iklim pembelajaran”, dengan mempengaruhi, mengajak, dan mendorong guru, siswa, dan staf lainnya untuk menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif, tertib, lancar, dan efektif tidak terlepas dari kapasitasnya sebagai pimpinan sekolah. Dengan demikian, pembinaan yang intensif dari Kepala Sekolah dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah.
Daftar pustaka:


Depdiknas. (2007). Keputusan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007, Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Jakarta: depdiknas.

Danin, Sudarwan. (2002). Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung:Pustaka Setia


Rusman.(2008). Manajemen Kurikulum. Bandung: Program Studi Pengembangan Kurikulum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Sanusi, A.(dkk).,(1991) Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan. Laporan Peneleitian. Bandung: IKIP Bandung.

Sergiovani, J.T.(et.al), (1987). Educational Governance and Administration. New York:Pretince-Hall Inc


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: