Chandrawati’s Blog


puisi
Oktober 22, 2009, 8:19 am
Filed under: Uncategorized

TANGIS

Adalah leleh putih menerpa

Pipi hitamku saat kulihat

Kau campakkan rembulan

Yang pernah kuselipkan diantara ditelingamu.

Ada leleh bening dari sudut mataku

Ketika kudengar mentari yang pernah

Kukalungkan dilehermu

Kau campakkan pada lumpur senja.

Jen………

Kembalikan padaku selimt rindu

Yang pernah kau pin jam saat itu.

“Aku masih setia menunggumu di pojok jalan

Sembari kukenang puisi yang kau selipkan

Di sakuku saat itu.” (msttk,minggu 23-08-2009, pkl17;51;04).

KASMARAN

Jeng……

Ini senja  tak juga menjadi malam

Purna belum juga dating

Aku rindu pada secercah men tari

Yang kau taburkan saat itu

Jeng………..

Aku damba pada setetes air dari ujung lidahmu

Aku ingin seucap tanda dari bibirmu

Jeng……..

Pilu ini akan menderu manakala

Telunjuk ini tidak kau sambut

Dengan rajutan hatimu.

Jeng………

Kumendambamu.(msttk, minggu 23-08-2009)

PRAHARA BULAN PUASA

Aku meringis sedih

Kala  melihat sepasang belibis

Berbaris menuju pokok angsana

Ia diterkan kejam oleh naga raksana dari seberang

Padanya aku hanya bias berpesan

“belibis manis aku merindukanmu

Menyeduh the hangat samba bercanda soal cinta

Yang sirna di telan naga”

Belibis putih tidak beringsut

Dari tempatnya

Da butir bening dari sudut matanya

Aku terpana tak mampu bicara (msttk, minggu 23-08-2009)

KAGEN

Kangen ini begitu membuncah

Diantara rbuan gunung  bandung selatan.

Aku mengejar cintamu yang pernah pupus dilanda jaman

Jeng……….

Aku menangis karena seonngok kangen

Yang tak pernah bias sirna

Walau telah kuhibur dengan lagu asmaradana bulan puasa

Jeng………….

Pada pematang senja ini

Kunyatakan cintaku padamu kumencintaimu hingga kedia mataku

Di tutup oleh Sang Waktu.(msttk, minggu 23-08-2009)

PITA HITAM BUAT  BANG SUJUD

PITA HITAM YANG DULU KAU IKATKAN RAMBUTKU

KINI KAU CABUT DAN CAMPAKKAN

DIATAS BARA BERWARNA SENJA

KERUDUNG WARNA BIRU BERHIASAKAN MAWAR YANG PERNAH KAU LETAKKAN

DIATAS MAHKOTAKU

KINI AKU TARUH DIATAS PERI BERWAJAH SERIBU

REKSESI DARI SEBERANG

AKU MENJERIT SEJUTA KALI

PADA KERING ILALANG DI PADANG GURUN

NYANYIAN SURGAWI TERNYATA BEGITU MUDAH

KAU LUPA DARI TELINGA,

SERIBU MALAM DENGAN SERIBU BULAN

TERNYATA BEGITU MUDAH KAU LUPA DARI PANDANGAN MATA

BANG……….

PURNAMA MEMANG BUKAN UNTUKMU TAPI UNTUK

MASTOKU (MSTTK,13-08-2009, PKL 17:35:17)

DALAM KERETA

Jeng………………

Derit kereta ini

Ingatkan akau pada derit pintu yang kau buka senja itu

Lepas sepatu lalu merapat

Jeng…………..

Sura trompet kerta ini

Ingatkan akau pada lembut napasmu kala mendaki

Bukit senja terjal senja sunyi

Jeng…………..

Derap sepatu masinis itu

Ingatkan aku apa detak jantung kita

Kala tapakai senja menuju malam

Jeng………….

Ada bara yang tgak pernah sirna

Ada bahagia yang  terus membahana

Jeng……………

Kuingin meniti malan bersamamu menyambut purnama (msttk,13-08-2009, pkl 17:17:03).



PANTUN
Oktober 20, 2009, 1:04 am
Filed under: Uncategorized

Pantun.

Pohon bambu di tepi sungai

Hilang sebatang karena patah

Sebelum kita memulia

Ucapkan bismilah

Minum di cangkir beralaskan cerana

Sambil duduk di warung kopi

Jika nungkar nangkir datang bertanya

Apakah amal sudah di hatti ?

Sambil duduk di warung kopi

Jangalah lupa untuk bersalaman

Jika mati kita sendiri

Kaun kerabat tidak meneman.

Jika bertemu hendaklah bersalaman

Sebagai tanda silatuhrahmi

Hidup ini harus berteman

Jika mati tak ada yang mengantari

Salam sebagai tanda silatuhrahmi

Datang menjabat kaum kerabat

Umat islam haruslah sehati

Agar tidak kena mudarat

Dating menjenguk kaum kerabat

Singgah sebentar di parit gali

Jika ingin hidup selamat

Hendaklah jauh iri dan dengki

Singgah sebentar di parit gali

Sambil duduk menganyam belat

Hidup ini tidaklah abadi

Untuk itu dirikan sholat

Sambil duduk menganyam belat

Melihat ikan pari besar sekali

Jika hidup ingin selamat

Ingatlah akan rahmat Ilahi

Ikan pari besar sekali

Masuk ke dalam alat penyungkur

Allah akan senang sekali

Pada orang yang selalu bersyukur

Masuk kedalam alat penyungkur

Ambil tali ikat ke ragak

Ketentuan Allah sudah diatur

Itulah yang disebut dengan kadar dan kadak

Ambil tali ikat ke ragak

Jangan lupa pakai bamboo sebilah

Bukan aku mau lagak

Tetapi berkat Alhamdullillah.

Tugas:

  1. Ada berapa baitkah pantun di atas?
  2. Termasuk jenis pantun apakah  pantun di atas?
  3. Buatlah secara ringkas maksud dari isi pantun di atas!
  4. Buatlah  enam bait pantun yang bertemakan(pilih salah satu):
    1. Bagaimana cara menghindari narkoba?
    2. Lingkungan sekolah yang bersih
    3. Temanku yang baik hati.
    4. Cita-citaku jika selesai sekolah.


PERANAN GURU DALAM INOVASI PENDIDIKAN
Juni 2, 2009, 4:50 am
Filed under: Uncategorized

Oleh Sri Rahayu Chandrawati, S.Pd

Munculnya inovasi pendidikan dilatarbelakangi oleh tantangan untuk menjawab masalah-masalah krusial dalam bidang pendidikan; pengelolaan sekolah, kurikulum, siswa, biaya, fasilitas, tenaga maupun hubungan dengan masyarakat. Inovasi pendidikan yang berlangsung di sekolah dimaksudkan untuk menjawab masalah-masalah pendidikan yang terjadi di sekolah guna mendapatkan hasil yang terbaik dalam mendidik siswa. Ujung tombak keberhasilan pendidikan di sekolah adalah guru oleh karena itu guru diharapkan mampu menjadi seorang yang inovatif guna menemukan strategi atau metode yang efektif untuk mendidik. Inovasi yang dilakukan guru pada intinya berada dalam tatanan pembelajaran yang dilakukan di kelas. Kunci utama yang harus dipegang guru adalah bahwa setiap proses atau produk inovatif yang dilakukan dan dihasilkannya harus mengacu kepada kepentingan siswa.

Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari perencanaan inovasi pendidikan sampai pada pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran yang sangat besar bagi keberhasilan  suatu inovasi pendidikan. Tanpa keterlibatan mereka, maka sangat mungkin mereka tidak perduli dengan inovasi yang ditawarkan, bahkan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka tersebut. Hal ini dikarenakan mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka bukanlah miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu dalam suatu inovasi pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas sebagai pendidik, orang tua, teman, dokter, motivator dan lain sebagainya. (wright, 1987)

Dari uraian  permasalahan diatas, maka dalam makalah ini akan difokuskan pada bagaimana peranan guru dalam inovasi pendidikan yang menyangkut sikap terbuka dan peka guru terhadap perubahan (inovasi) serta perannya sebagai agen pembaharuan sekaligus adopter dalam inovasi pendidikan.

A.Peranan Guru Di Sekolah

Peranan diartikan sebagai seperangkat tingkah laku atau tugas yang harus atau dapat dilakukan seseorang pada situasi tertentu sesuai dengan fungsi dan kedudukannya. Seperangkat tugas yang harus dilakukan seseorang sesuai dengan kedudukan dan harapan masyarakatnya disebut dengan peranan yang diharapkan atau ascribed role.  Sedangkan seperangkat tugas dan kewajiban yang dapat dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada merupakan peranan yang dapat dicapai atau disebut achieved role.

Secara umum banyak sekali peranan yang mesti dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah. Namun, peranan guru yang paling pokok berhubungan erat dengan tugas dan jabatannya sebagai suatu profesi. Tugas guru secara profesional menurut Sutan Zanti Arbi dalam Wahyudin et.al (2007:9.32) meliputi tugas mendidik, mengajar dan melatih.

Mendidik berarti pemberian bimbingan pada anak agar potensi yang dimilikinya berkembang seoptimal mungkin dan dapat meneruskan serta mengembangkan nilai-nilai hidup. Sebab tugas guru disamping menyampaikan ilmu pengetahuan, juga mencakup pembentukan nilai-nilai pada diri murid yang tertuju pada pengembangan seluruh aspek kepribadian murid secara utuh agar tumbuh menjadi manusia dewasa.

Mengajar berarti memberikan pengajaran dalam bentuk penyampaian pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan ketrampilan (psikomotor) pada diri murid agar dapat menguasai dan mengembangkan ilmu dan teknologi. Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada pelaksanaan tugas merencanakan, melaksanakan proses belajar-mengajar dan menilai hasilnya. Untuk melaksanakan tugas ini, guru disamping harus menguasai materi atau bahan yang akan diajarkan, juga dituntut untuk memiliki seperangkat pengetahuan dan ketrampilan teknis mengajar. Sehubungan dengan tanggungjawab profesional, dalam melaksanakan tugas mengajar ini, guru dituntut untuk selalu mencari gagasan-gagasan baru (inovasi), berusaha menyempurnakan pelaksanaan tugas mengajar, mencobakan bermacam-macam metode dalam mengajar dan mengupayakan pembuatan serta penggunaan alat peraga dalam mengajar. Gagasan baru (inovasi) yang dilakukan oleh guru hendaknya bertujuan untuk penyempurnaan kegiatan belajar-mengajar.

Melatih lebih ditekankan pada tujuan mengembangkan ketrampilan tertentu agar para siswa mengalami peningkatan kemampuan kerja yang memadai.

Cece Wijaya dalam Wahyudin et.al (2007:9.33) juga menyatakan ada 3 tugas dan tanggung jawab pokok profesi guru, yaitu: guru sebagai pengajar, pembimbing dan administrator kelas.

Sebagai pengajar, guru lebih menekankan pada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Oleh karena itu, ia dituntut untuk memiliki seperangkat pengetahuan dan ketrampilan teknik mengajar, disamping menguasai bahan yang diajarkannya. Sebagai pembimbing, guru lebih menekankan pada tugas memberikan bantuan kepada siswa agar dapat memecahkan masalah yang dihadapinya. Sedangkan tugasnya sebagai administrator kelas, akan memadukan ketatalaksanaan pengajaran dengan ketatalaksanaan pada umumnya. Namun tugas ketatalaksanaan bidang pengajaran yang harus  lebih diutamakan oleh guru.

Sehubungan dengan tugas profesionalnya, seorang guru paling tidak harus melaksanakan peranan sesuai dengan profil kemampuan dasar profesional guru dalam proses belajar-mengajar sebagai berikut:

1.Menguasai bahan pelajaran

2.Mengelola program belajar-mengajar

3.Mengelola kelas

4.Menggunakan media dan sumber

5.Menguasai landasan-landasan kependidikan

6.Mengelola interaksi belajar-mengajar

7.Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran

8.Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan

9.Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah

10.Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran

Redja Mudyahardjo dalam Wahyudin, et.al (2007:9.34) mengelompokkan jenis kemampuan pokok yang ideal dikuasai guru profesional ke dalam 3 kelompok, yaitu:

1.Kemampuan membantu siswa belajar secara efisien dan efektif agar mencapai hasil optimal. Adapun kemampuan itu terdiri atas: (1) Mengelola kegiatan belajar mengajar dan (2) Melakukan bimbingan siswa.

2.Kemampuan menjadi penghubung kebudayaan dan masyarakat yang aktif kreatif dan fungsional. Adapun kemampuan ini terdiri dari: (1) Menjadi mediator kebudayaan baik sebagai pembawa kebudayaan, pemelihara kebudayaan maupun sebagai pengembang kebudayaan dan (2) Menjadi komunikator sekolah dan masyarakat.

3.Kemampuan menjadi pendukung pengelolaan program kegiatan sekolah dan profesi. Adapun dalam hal ini guru dapat melakukan kegiatan sebagai berikut: (1) Menjadi anggota staf sekolah yang produktif dan (2) Menjadi anggota administrasi profesional yang produktif.

Idealnya, tingkat kemampuan yang diharapkan dimiliki guru profesional adalah tingkat kemampuan yang menunjukkan efisiensi yang tinggi dalam melaksanakan pekerjaannya. Menurut Alen Richard dalam Wahyudin      et .al (2007:9.34) efisiensi profesional mencakup 5 kemampuan, yaitu:

1.Ketrampilan teknologi yaitu dapat melakukan pekerjaan dengan menggunakan teknik-teknik kerja ilmiah yang mendekati kesempurnaan.

2.Pengetahuan teknologi yang relevan yaitu dapat menguasai teknik-teknik kerja ilmiah yang dapat dipergunakan untuk melaksanakan bidang pekerjaannya.

3.Pengetahuan tambahan untuk pengembangan yaitu dapat menguasai pengetahuan tentang konsep dan metode penelitian dan pengembangan yang dapat dipergunakan dalam bidang pekerjaannya.

4.Kemampuan mengambil keputusan secara tepat yaitu dapat melaksanakan kepemimpinan dalam bidang pekerjaannya.

5.Kualitas Moral yaitu teguh terikat pada kode etik jabatannya dalam situasi bagaimana pun yang dihadapinya.

Mengacu kepada berbagai kemampuan dasar yang mesti dikuasai oleh guru profesional tersebut nampak bahwa para guru dalam melaksanakan tugasnya dituntut untuk selalu memperbaharui kemampuannya agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi baik didalam lingkungan kerjanya maupun yang ada di lingkungan sekitarnya.

Setiap perubahan yang terjadi pada suatu aspek kehidupan akan menimbulkan perubahan pada aspek lainnya pula. Misalnya perkembangan pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan menimbulkan perubahan dalam bidang lain seperti ekonomi dan bidang sosial budaya. Demikian pula perubahan yang terjadi dalam dunia pendidikan akan berpengaruh pada guru sebagai pemeran utama dalam menentukan keberhasilan pendidikan.

B.Peran Serta Guru Dalam Pelaksanaan Inovasi Pendidikan

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa perubahan yang terjadi pada salah satu aspek dapat mempengaruhi aspek kehidupan lainnya. Demikian jugalah perubahan yang terjadi pada aspek pendidikan akan berpengaruh pada guru sebagai pemegang peranan utama dalam menentukan keberhasilan pendidikan. Telah banyak perubahan (inovasi ) yang dilakukan dalam bidang pendidikan seperti: 1) Penggunaan analisis dan pendekatan sistem dalam perencanaan pendidikan dan pengajaran di Indonesia yang melahirkan produk berupa Sistem Perencanaan, Pemrograman dan Penganggaran Pendidikan (SP4), 2) Proyek Pendidikan Anak Oleh Masyarakat dan Orang tua (PAMONG), 3) Pengembangan SD kecil,  4) CBSA, 5) Program Kejar Paket A, B dan C, 6) SMP  dan Universitas Terbuka, 7) Proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar (PEQIP=Primary Education Quality Improvement Project) dan lain sebagainya.

Dalam berbagai inovasi yang telah disebutkan dalam contoh diatas dan diterapkan di negara kita tentulah semuanya melibatkan guru sebagai ujung tombak dalam dunia pendidikan. Adapun peran serta  dan keterlibatan guru dalam setiap inovasi pendidikan yang ada di Indonesia terdiri atas:

1.Guru Bersikap Terbuka dan Peka Terhadap  Perubahan (Inovasi)

Kegiatan pendidikan sebagai usaha sadar senantiasa terkait dengan tuntutan dan perkembangan jaman, dan tidak bisa melepaskan diri dari tuntutan aspirasi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, guru harus senantiasa bersikap terbuka terhadap berbagai aspirasi atau kritikan yang muncul dari manapun datangnya. Guru dituntut untuk selalu siap mendiskusikan apapun bentuknya baik dengan rekan sejawat, dengan murid, orang tua murid atau dengan masyarakat sekitarnya yang peduli terhadap kemajuan. Seorang guru yang terbuka senantiasa dapat menampung aspirasi dari berbagai pihak, sehingga sekolah dapat menjadi agen perubahan dan guru menjadi pendukung utamanya. Dengan sikap seperti itu akan mendorong para guru untuk terus menerus berusaha memperbaiki kinerjanya guna menciptakan suasana kehidupan yang demokratis di sekolah baik dalam proses belajar-mengajar maupun dalam lingkup yang lebih luas lagi. Suasana yang demokratis dalam proses pembelajaran akan menumbuhkan sikap demokratis pula dalam diri siswa, bersikap tidak menutupi kesalahan, terus terang dan siap menerima kritik untuk kemajuan hidupnya dimasa yang akan datang. Di samping itu, sikap terbuka yang dimiliki guru juga akan mendorong untuk selalu berusaha mencari dan menemukan alternatif yang terbaik untuk pemecahan masalah yang dihadapi sekolahnya sehingga akan tumbuh suasana yang kondusif guna meningkatkan mutu pendidikannya.

Dalam menghadapi dan menjawab tantangan zaman akibat perkembangan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, guru dituntut pula untuk peka terhadap berbagai bentuk perubahan baik yang berlangsung di sekolahnya maupun yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Sikap ini penting dimiliki para guru dan tenaga kependidikan lainnya agar suasana kehidupan sekolah tidak selalu bersifat rutin, merasa puas dengan sarana dan fasilitas yang ada serta metode dan teknik pembelajaran yang lama, tetapi selalu berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi. Untuk itu kemampuan melakukan penelitian guna memecahkan masalah yang dihadapi penting serta harus dikuasai dan dimiliki oleh guru, meskipun dalam kadar yang masih sederhana.

2.Guru Sebagai Agen Pembaharuan Dalam Inovasi Pendidikan

Inovasi pendidikan dilakukan guna memecahkan masalah yang dihadapi, agar dapat memperbaiki mutu pendidikan secara efektif dan efisien. Salah satu bentuk peran serta yang dapat dilakukan guru terhadap inovasi adalah sebagai agen pembaharuan. Rogers et.al (1983:312) menjelaskan pengertian agen pembaharuan sebagai berikut: “A change agent is an individual who influences clients, innovation decisions in a direction deemed desirable by a change agency”. Seorang agen pembaharuan adalah seseorang  yang mempengaruhi keputusan inovasi para klien (sasaran) kearah yang diharapkan oleh lembaga pembaharu. Dengan demikian, seorang agen pembaharu berperan sebagai penghubung antara lembaga pembaharuan dengan sasarannya. Dalam hal ini agen pembaharu berperan sebagai pemberi kemudahan bagi lancarnya arus inovasi dari lembaga pembaharu kepada sasaran yang dikenai pembaharuan. Ia menyampaikan pesan-pesan inovasi dari lembaga pembaharuan kepada sasarannya. Disamping itu, ia pun menerima umpan balik dari klien untuk disampaikan kepada lembaga pembaharu, sehingga agen pembaharu dapat melakukan penyesuaian-penyesuaian dan perbaikan sesuai dengan kebutuhan para kliennya.

Guru sebagai agen pembaharuan dalam inovasi pendidikan dapat melakukan peranan sebagaimana dikemukakan oleh Nyoman Sucipta, (1982:23) sebagai berikut:

1.pemberi informasi

2.mempercepat terjadinya difusi inovasi

3.sebagai komunikator antar subsistem dalam masyarakat dan

4.berusaha mengaitkan sistem yang satu dengan sistem yang lain

Sesuai dengan tahapan inovasi dari sudut pencipta atau agen pembaharu, maka dalam inovasi pendidikan, peranan guru dapat dimulai dari tahap-tahap sebagai berikut:

1.Invention (penemuan), meliputi penemuan/penciptaan hal-hal baru dalam aspek tertentu dalam pendidikan. Tahap ini tentunya diawali dengan pengenalan masalah, penelitian dan perumusan masalah secara lebih tajam. Misalnya bagaimana mengatasi anak yang mengalami kesulitan dalam pelajaran listening Bahasa Inggris.

2.Development (pengembangan), meliputi saran alternatif pemecahan masalah, percobaan dan penelitian, percobaan kembali, penilaian dan seterusnya. Misalnya setelah dicoba dan diteliti berkal-kali ternyata metode pengajaran listening melalui akuisisi yang lebih efektif digunakan dalam membantu siswa memahami listening Bahasa Inggris.

3.Diffusion (penyebaran), mencakup penyebaran ide-ide baru kepada sasaran penerimanya. Misalnya Setelah terbukti efektif, metode akuisisi dalam pengajaran listening disebarkan kepada masyarakat luas.

Mengacu pada peran serta guru sebagai agen pembaharuan dalam inovasi pendidikan, terlihat bahwa kemampuan pokok yang perlu dimiliki guru adalah kemampuan melakukan penelitian dalam bidang pendidikan. Dalam upaya meningkatkan dan memperbaiki mutu praktek proses pembelajaran di sekolah, belakangan ini, Ditjen Dikti Depdiknas melalui proyek pendidikan tenaga akademik telah mengembangkan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang dapat dilakukan oleh guru yang merencanakan dan melaksanakan praktek pembelajaran di kelas. Dalam pelaksanaannya penelitian tindakan kelas (PTK) dapat dilakukan oleh guru sendiri, atau bekerja sama dengan pihak lain, misalnya bekerjasama dengan dosen di perguruan tinggi. Fokus persoalan penelitian ini bertitik tolak dari masalah praktek pembelajaran yang dilaksanakan guru di kelas, serta pada tindakan-tindakan alternatif yang direncanakan oleh guru, kemudian dicobakan dan dievaluasi apakah tindakan alternatif itu dapat digunakan untuk memecahkan masalah pembelajaran yang sedang dihadapi.

Penelitian tindakan kelas bertujuan untuk peningkatan atau perbaikan praktek pembelajaran yang seharusnya dilakukan oleh guru. Disamping itu, penelitian tindakan kelas banyak memberi manfaat bagi guru, salah satunya adalah terlaksananya inovasi pembelajaran oleh guru di tempat kerjanya atau di kelasnya.

Dalam inovasi pembelajaran guru dituntut selalu mencoba untuk mengubah, mengembangkan dan meningkatkan gaya mengajarnya, agar ia mampu melahirkan model mengajar yang sesuai dengan tuntutan kelasnya. Dari tahun ke tahun guru selalu berhadapan dengan siswa yang berlainan. Oleh karena itu, apabila guru melaksanakan penelitian tindakan kelas pada kelasnya sendiri, dan bertolak dari masalahnya sendiri, kemudian ia menemukan solusi untuk mengatasinya, ia secara tidak langsung telah berperan serta dalam inovasi  pembelajaran yang bertolak dari permasalahan yang dihadapi dalam kelasnya. Inovasi yang demikian jauh akan lebih efektif dibandingkan dengan bentuk penataran-penataran untuk tujuan serupa. Penataran sendiri belum tentu sesuai dengan kebutuhan guru dalam mengatasi persoalan pembelajaran dikelasnya.

3.Guru Sebagai Adopter (Penerima) Inovasi Pendidikan

Peran serta guru berikutnya dalam menghadapi atau merespon berbagai inovasi pendidikan yang dilakukan adalah sebagai adopter atau penerima inovasi. Guru sebagai adopter inovasi pendidikan, tidak akan jauh berbeda dengan peran adopter pada bidang lainnya. Menurut Rogers (1983:247) terdapat 5 kategori adopter dalam menerima suatu inovasi, yaitu : (1) Inovator,    (2) Pelopor, (3) Pengikut Awal, (4) Pengikut Akhir,  (5) Lagard / Kolot.

Sesuai dengan pendapat Rogers tersebut, guru sebagai inovator dalam bidang pendidikan akan memiliki ciri dan sifat gemar sekali meneliti dan mencoba setiap kali ada gagasan baru dalam pendidikan. Kegemaran seperti itu mendorong guru untuk mencari informasi lebih banyak tentang ide baru, mengadakan hubungan dengan orang lain diluar sistemnya, serta membuatnya menjadi  pemberani sekalipun harus menghadapi resiko besar.

Guru yang berperan sebagai pelopor lebih berorientasi kedalam sistem, biasanya memiliki ciri dan sifat yang suka meneliti terlebih dahulu terhadap suatu ide baru sebelum ia berkeputusan untuk menggunakannya. Kelompok adopter ini sering kali terdiri atas para pemuka pendapat. Anggota sistem lainnya yang termasuk calon adopter biasanya mencari si pelopor untuk meminta nasihat dan keterangan mengenai inovasi. Disamping itu,  kelompok adopter ini suka dicari oleh agen pembaharu untuk dijadikan teman pendamping dalam mempercepat adopsi atau penyebaran inovasi dalam bidang pendidikan. Guru-guru yang tergolong dalam kelompok adopter biasanya dijadikan teladan karena merupakan lambang keberhasilan dan kehati-hatian dalam menerima dan menggunakan ide-ide baru.

Adopter berikutnya dalam menerima inovasi adalah pengikut awal (dini). Biasanya mereka yang tergolong pada pengikut awal menerima ide-ide baru hanya beberapa saat setelah anggota-anggota sistem sosial lainnya menerima ide baru. Mereka bukan yang pertama juga bukan yang terakhir dalam menerima inovasi. Mereka memiliki banyak pertimbangan dalam menerima dan mengadopsi inovasi.

Kelompok adopter selanjutnya dalam menerima inovasi adalah pengikut akhir. Biasanya golongan pengikut akhir ini baru menerima gagasan pembaharuan setelah pada umumnya para anggota sistem sosial lain menerimanya. Keputusan menerima inovasi itu mungkin  karena kepentingan ekonomi, atau karena adanya tekanan sosial. Setiap ada inovasi mereka selalu bersikap ragu (skeptis) dan hati-hati sekali. Kelompok ini biasanya baru menerima inovasi apabila sebagian anggota masyarakat telah menerimanya.

Terakhir adalah kelompok adopter lagard (kolot/tradisional). Yang tergolong pada kelompok lagard adalah orang-orang yang terakhir menerima suatu gagasan baru. Mereka ini memiliki pandangan dan wawasan yang paling sempit diantara semua kelompok adopter. Referensi mereka adalah masa lalu, sehingga keputusan yang diambilnya dikaitkan dengan apa yang telah dilakukan oleh generasi lalu. Ketidaklancaran dalam menerima inovasi adalah karena mereka itu tidak memahami ide-ide baru itu. Ketika akhirnya mereka menerima inovasi, dia sudah jauh tertinggal oleh teman-temannya yang sudah lebih dahulu menerima.

DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, Chaedar. (2007). Perspektif Pendidikan Bahasa Inggris Di Indonesia Dalam Konteks Persaingan Global. Bandung:              CV. Andira.

Budimansyah, Dasim. (2007). Model Pembelajaran Berbasis Portofolio. Bandung: PT. Genesindo.

Danim, Sudarwan. (2002). Inovasi Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Fathurrohman, Pupuh dan Sutikno, Sobry. (2007). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT. Refika Aditama.

Ibrahim. (1988). Inovasi Pendidikan. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan, Ditjen Dikti Depdikbud.

Mukhtar dan Yamin, Martinis. (2007). 10 Kiat Sukses Mengajar Di Kelas. Jakarta: PT. Nimas Multima.

Rogers, M Everett. (1983). Diffusion of Innovation. New York: The Free Press.

Saud, S Udin dan Suherman, Ayi (2006). Bahan Belajar Mandiri Inovasi Pendidikan. Bandung: UPI Press.

Wahyudin, Dinn et.al. (2007). Materi Pokok Pengantar Pendidikan: Modul Universitas Terbuka. Jakarta: Universitas Terbuka.



MODEL-MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM DAN FUNGSINYA BAGI GURU
Juni 2, 2009, 4:46 am
Filed under: Uncategorized

A.  Latar Belakang.

Model-model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dalam kegiatan pengembangan kurikulum. Sungguh sangat naif bagi para pelaku pendidikan di lapangan terutama guru. kepala sekolah, pengawas bahkan anggota komite sekolah jika tidak memahami dengan baik keberadaan, kegunaan dan urgensi setiap model-model pengembangan kurikulum.

Mengapa guru dituntut untuk mengetahui konsep-konsep tentang kurikulum, dalam hal ini model-model pengembangan kurikulum ? Karena pemahaman tentamng kurikulum itu sendiri merupakan salah satu unusr kompetensi pedagogik yang harus dimilki oleh seorang guru, sesuai dengan bunyi pasal 10, Undang-undang Nomor 14 tahun 2005 tentanag Guru dan Dosen, yang mengatakan “ bahwa kompetensi guru itu mencakup kompetensi pedagogik, kompetrensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi professional.”

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam pengelolaan pembelajaran peserta didik yang salah satunya kemampuan pengembangan kurikulum. Pada tahun 2006 pemerintah menerapkan pemberlakuan  tentang kurikulum baru. Yang berlaku sebagai pengganti kurikulum 2004 yaitu Kurkulum  Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Kurikulum ini merupakan inovasi baru dalam bidang kurikulum pendidikan di Indonesia, karena dengan adanya KTSP pihak satuan pendidikan dituntut kemampuannya dalam menyusun kurikulum sesuai dengan keadaan,atau kondisi dan keperluan stauan sekolah tersebut yang lebih dikenal dengan system desentralisasi. Yang tentunya ini merupakan perbedaan pada kurikulum sebelumnya yang lebih menitikberatkan pada sekolah untuk melaksanakannya saja sedangkan yang membuat dan menyusunnya adalah pemerintah atau disebut juga denngan system sentralisasi.

Dalam tuntutan kemampuan penyususnan KTSP bagi stekholder-stekholder di sekolah, maka konsep-konsep kurikulum terutama model –model pengembanagn kurikulum patut untuk dipahami dan dimengerti oleh guru, agar dalam pengembanagn KTSP mendapatkan rambu-rambu yang jelas.

Bagaimanakah sebuah kurikulum menjadi sebuah kebijaksanaan yang diberlakukan oleh pemerintah? Apakah orang-orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mengetahui bagaimana proses terjadinya sebuah kurikulum ? Model-model pengembangan kurikulum yang manakah, yang digunakan oleh pemerintah untuk menetapkan sebuah kurikulum yangh berlaku? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang belum terjawab oleh kita, yang bergelut dalam dunia pendidikan.

Petanyaan- pertanyaan  di atas ditambah lagi dengan kenyataan yang ada sekarang, bahwa guru-guru ataupun stekholder-stekholder yang ada di sekolah boleh dikatakan mungkin belum pernah untuk menerima dan memahami model-model pengembanagn kurikulum , hal ini dapat dirasakan oleh penulis selama tiga belas tahun menjadi tenaga pendidik. Atas dasar itulah, maka tulisan  ini membahas tentang model-model pengembangan kurikulum sebagai sumbangan pemikiran pengetahuan, kepada para pembaca demi  kemajuan pengembangan kurikulum,khususnya bagi yang berkepentingan dalam mendalami model-model tersebut.

B.Pengertian Model Pengembangan Kurikulum

Pengembangan kurikulum  mempunyai makna yang cukup luas, menurut Nana Syaodih Sukmadinata  pengembangan kurikulum bisa berarti penyusunan kurikulum yang sama sekali baru (curriculum construction), bisa juga menyempurnakan kurikuluym yang telah ada (curriculum  improvement).(200:1). Sedangkan model adalah abstraksi dunia  nyata  atau representasi pristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis serta lambang-lambang lainnya. (Wina Sanjaya 2007:177).

Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa model pemngembanagn kuirkulum adalah   berbagai bentuk atau model yang nyata  dalam penyususnan kurikulum yang baru ataupun penyempurnaan kurikulum yang telah ada.

Dalam pengembangan kurikulumn tidak dapat lepas dari berbagai faktor maupun asfek yang mempengaruhinya, seperti cara berpikir, sistem nilai (nilai moral, keagamaan, politik, budaya, dan sosial), proses pengembangan kebutuhan peserta didik, lingkup (scope) dan urutan (sequence) bahan pelajaran, kebutuhan masyarakat maupun arah program pendidikan.

C.Model model Pengembangan Kurikulum

Berdasarkan perkembangan dan pemikmiran para ahli kurikulum, maka dewasa ini telah banyak disajikan model-model pengembangan kurikulum. Setiap model pengembanagn kuirkulum tersesbut memilkiki karakteristik  dan ciri khusus pada pola desain, implementasi, evaluasi dan tindak lanjut dalam pembelajaran.

Nana Syaodih Sukmadinata membagi membagi model-model pengembanagan kuirkulum menjadi delapan model yaitu:1. the administrative (line staff model) model, 2. the grass roots model, 3. Beauchamp”s system, 4.the de4monstration model, 5.Taba”s inverted model, 6.Rongers”s in terpersonal relation model, 7.the systematic action reseach model, 8 dan emerging technical model. (2008:161).

Selain itu Ase Suherman dkk membangi model pengembanagn kurikulum menjadi: model Ralph Taba, model administrative, model Grass Roots, model demonstrasi, model Miller-Seller, model Taba”s (inverted model) (2006 60-66). Sementara itu Wina sanjaya membagi model pengembangan kurikulum menjadsi empat bagian yaitu: model Tyler, model Taba, model Oliva dan model Beauchamp.(2008: 82-91).

Di bawah ini akan di paparkan tentang model-model pengembangan kuirkulum tersebut, saru persatu sebagai berikut:

The Administrative (line staff  model) Model.

Model pengembangan kurikulum ini merupakan model pengembangan paling lama dan paling banyak dikenal. Diberi nama model administrasi atau line staff karena inisiatif dan gagasan pengembangan datang dari para administrator pendidkan dan menggunakan prosedur administrasi.(Nana Syaodih Sukmadinata 2008 : 161).

Model pengambangan ini bersifat sentralisasi, yaitu dengan wewenang adminstrasinya, administreator pendidikan (dirjen, direktur atau kepala dinas pendidikan propinsi membentuk suatu komisi yang anggota-anggotanya terdiri dari tim yang terdiri dari pejabat di bawahnya seperti ahli pendidikan, ahli kuirkulum, ahli disiplin ilmu dan para tokoh dari dunia kerja dan perusahaan(tim pengarah). Tugas tim ini adalah merumuskan konsep-konsep dasar, landasan-landasan, kebijaksanaan, dan strategi utama dalam pengembangan kurikulum. Setelah konsep ini tersusun, administrator pendidikan membentuk kembali sebuah tim yang disebut tim kerja (anggotanya  para ahli pendidikan/kurikulum, ahli disiplin ilmu dari perguruan tinggi, dan guru bidang studi yang senior) tim ini bertugas menyusun kurikulum yang sesungguhnya yang lebih oprasional, dijabarkan dalam konsep-konsep dan kebijakan dasar yang telah digariskan oleh tim pengarah mulai dari penyusunan tujuan sampai pada tahap rencana pelaksanaan evaluasi. Setelah selesai maka hasil kerja tim kerja dikaji ulang oleh tim pengarah. Dan setelah mendapatkan beberapa penyempurnaan  maka administrator menetapkan mulai berlakunya kurikulum tersebut dan memerintahkan kepada sekolah-sekolah untuk melaksanakannnya. Pada waktu pelaksanaan tim administrator selalu melakukan pemantauan.

Kurikulum dengan pengembangan seperti ini dapat kita lihat dan rasakan pada pelaksanaan kurikulum tahun  1968, 1975, 1984,1994 dan 2004 yang lebih bersifat sentralisasi.

The graas roots model

Model pengembanagan kurikulum ini merupakan kebalikan dari model  the administratif model. Model ini lahir dari asumsi  yang dikemukakan olewh Stanley dan Shores yang dikurip dari Nana Syaodih Sukmadinata ”…..guru adalah perencana, pelaksana, dan juga penyempurna dari pengajaran di kelasnya. Dialah yang paling tahu kebutuhan kelasnya, oleh karena itu dialah yang paling kompeten menyusun kurikulum bagi kelasnya.” (2008: 163). Alur pengembangannya adalah guru, selompok guru atau seluruh guru disuatu sekolah mengadakan upaya pengembangan kurikulum. Pengembangan dapat berkenaan dengan suatu komponen kuirkulum, satu atau bebarapa bidang studi atau pun seluruh bidang studi dan seluruh komponen kurikulum.Kemudian kurikulum tersebut dapat diberlakukan sebagai pedoman  dalam pelaksanan pendidikan atau pengajaran di sekolah tersebut. Kurikulum ini sangat bersifat desentralisasi, karena segala ide mulai dari perencanaan penyusunan sampai pelaksanaannya dilapangan adalah hak otonomi sekolah tersebut, dan pemerintah atau pengambil kebijaksaan yang lebih tinggi dia atasnya tidak mempunyai kewenangan untuk mengubahnya.

Beauchamp”s system

Model pengembangan ini dikemukan oleh seorang ahli yang bernama Beauchamp. Model ini, yang dikutip dari Nana Syaodih Sukmadinata terdiri dari lima tahap, yaitu:

Pengambil kebijakasaan menetapkan arena atau lingkup wilayah yang akan dicakup.

Menetapkan personalia yang terlibat dalam pengembangan kuirkulum. Orang yang telibat terdiri dari empat kategori yaitu: 1). Para ahli pendidikan /kurikulum yang ada pada pusat pengembangan kuirkulum, dan para ahli dari bidang ilmu luar,2). Para ahli pendidikan dari perguruan tinggi atau sekolah dan guru-guru terpilih, 3). Para profesional dalam sistem pendidikan, 4). Profesional lain dan tokoh-tokoh masyarakat.

Organisasi dan prosedur pengembangan kurikulum. Pada langkah ini ditetapkan prosedur dalam penyusunan rumusan tujuan umum dan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar, serta kegiatan evaluasi dan menentukan keseluruhan desain kurikulum. Pada tahap ini terdiri dari lima langkah yaitu: 1). Membentuk tim pengembang kurikulum; 2). Mengadakan peniliaan atau penelitian terhadap kurikulum yang ada dan yang sedang digunakan; 3). Studi penjagaan tentang kemungkinan penyusunan kurikulum baru; 4) merumuskan kreteris-kreteria bagi penetuan kuirkulum baru; dan 5). Penyusunan dan penulisan kurikulum baru.

Implementaqsi  kurikulum

Evalauasi kurikulum ( evalusai pelaksaaan kurikulum oleh guru, evaluasi desain kurikulum, evaluasi hasil belajar siswa, dan evaluasi dari keseluruhan sistem kurikulum).(2008:163-165).

The demosntration model

Model ini pada dasarnya bersifat grass roots, yang datang dari bawah. Bedanya pada model grass roots pengembangan kuirkulum adalah murni dari oaring-orang yang berada dalam suatu sekolah tanpa campur tangan oleh pemerintah atau para ahli.

Model ini diprakarsai oleh guru atau sekelompok guru yang bekerja sama dengan ahli yang bermaksud mengadakan perbaikan kurikulum. Menurut Smith, Stanley dan Shores ada dua variasai dalam model ini yaitu: pertama, sekelompok guru dari suatu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk oleh pengambil kebijaksaan untuk melakukan percobaan tentang salah satu atau beberapa segi/komponen kurikulum, kedua, kurang bersifat formal yaitu beberapa orang guru merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, kemudian mereka mencoba mengadakan penelitian, perbaikan dan pengembangan sendiri.

Taba”s inverted model

Menurut Taba pengembangan model ini lebih mendorong inovasi dan kreativitas guru-guru, karena bersifat induktif, yang merupakan inverse atau arah terbalik dari model tradisional. Model ini terdiri dari lima langkah yaitu:

Mengadakan unit-unit eksprimen bersama guru-guru, unit yang dieksprimen meliputi: mendiagnosis kebutuhan, merumuskan tujuan-tujuan khusus, memilih isi, mengorganisasi isi, memilih pengalaman belajar, mengorganisasi pengalaman belajar, mengevaluasi dan melihat sekuens dan keseimbangan.

Menguji unit eksprimen, yang bertujuan untuk mengetahui validitas, keperaktisan serta serta kelayakan penggunaannya.

Mengadakan revisi dan konsolidasi (tahap perbaikan dan penyempurnaan serta penarikan kesimpulan).

Pengembangan keseluruhan  kerangka kurikulum yang dilakukan untuk mengetahui apakah konsep-konsep dasar atau landasan-landasan teori yang dipakai sudah masuk atau sesuai.

Implementasi dan disemenasi

Roger”s interpersonal relations model

Model ini lahir dari asumsi yang menurut Roger bahwa manusia berada dalam proses perubahan (becoming, dveloping, chaning), sesungguhnya ia mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembang sendiri, tetapi karena ada hambatan-hambatan tertentu ia membutuhkan orang lain untuk membantu memperlancar  atau mempercepat perubahan tersebut.(Nana  Syaodih Sukmadinata, 2008:167). Pendidikan juga tidak lain merupakan upaya untuk membantu memperlancar dan mempercepat perubahan ke arah perkembangan. Guru atau pendidik bukan pemberi informasi apalagi penentu perkembangan anak, mereka hanyalah pendorong dan pemelancar perkembangan anak. Roger mengemukakan model ini terdiri dari empat langkah yaitu:

a.Pemilihan target dari sistem pendidikan, pada langkah ini kreteria yang harus ada adalah adanya kesediaan dari  pejabat pendidikan untuk turut serta dalam kegiatan kelompok yang intensif. Selama satu minggu para pejabat pendidikan/administrator melakukan kegiatan kelompok dalam suasana yang relaks, tidak formal.

b. Partisifasi guru dalam pengalaman kelompok yang intensif. Guru dan pejabat pendidikan bersama-sama mengikuti kegiatan kelompok yang intesif, dari pertemuan tersebut diperoleh hal-hal yang merupakan ide-ide dalam pengembangan kurikulum  di lapangan.

c. Pengembangan pengalaman kelompok yang intensif untuk satu kelas atau unit pelajaran. Siswa dilibatkan dalam pertemuan kelompok intensif antara pejabat pendidikan dan guru.

d. Partisifasi orang tua dalam kegiatan kelompok, artinya orang tua telibat juga dalam kegiatan intensif kelompok tersebut.

Model pengembanmgan ini merupakan kulminasi dari semua kegiatan kelompok di atas, berkat berbagai bentuk aktivitas dalam intreraksi ini individu akan berubah.

The systematic action-research model

Model ini didasarkan pada asumsi bahwa perkembangan kurikulum merupakan perubahan sosial. Sesuai dengan asumsi tersebut model ini menekankan pada: hubungan insana, sekolah dan organisasi masyarakat, dan wibawa dari pengetahuan profesional. Model ini terdiri dari dua langkah yaitu:

Mengadakan kajian secara seksama tentang masalah-masalah kurikulum, berupa pengumpulan data yang bersifat menyeluruh, dan mengidentifikasi faktor-faktor, kekuatan dan kondisi yang mempengaruhi masalah tersebut.

Implementasi dari keputusan yang diambil dalam tindakan pertama, kegiatan ini segera diikuti oleh kegiatan pegumpulan data dan fakta-fakta. Data-data tersebut berfungsi: menyiapkan data bagi evaluasi tindakan, sebagai bahan pemahaman tentang masalah yang dihadapi, sebagai bahan untuk menilai kembali dan mengadakan modifikasi, dan sebagai bahan unutk menentukan tindakan lebih lanjut.

Emerging technical models.

Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai efesiensi efektivitas  dalam bisnis, juga mepengaruhi perkebangan model-model kurikulum. Hal ini di dasarkan pada:

The berhavioral analisys model, menekankan penguasaan prilaku atau kemampuan. Suatu kemampuan atau prilaku yang kompleks diuraikan menjadi prilaku-prilaku yang sederhana, yang tersusun secara hirarkis.

The system analisys model, berasal dari gerakan efesiensi bisnis. Langkah pertama dalam model ini  adalah menentukan spesifikasi perangkat  hasil belajar yang harus dikuasai siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian-ketercapaian hasil belajar yang harus dikuasai siswa. Langkah ketiga  mengedintifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan. Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.

The computer-based model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memamafaatkan komputer. Pengembangan dimulai dengan mengidentifikasi seluruh unit-unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil-hasil yang diharapkan. Setelah diadakan pengelolaan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil-hasil yang dicapai siswa disimpan dalam komputer.

9.Model Saylor, Alexander, dan lewis

Menurut Saylor, Alexander, dan Lewis kurikulum merupakan sebuah perencanaan untuk menyediakan seperangkat kesempatan belajar bagi individu supaya menjadi terdidik. Perencanaan kurikulum merupakan beberapa rencana unit-unit kecil pada bagian-bagian tertentu dari sebuah kurikulum. Langkah-langkah pengembangan kurikulum model Saylor dkk adalah:

1.        Perumusan Goals dan Objective

Saylor dkk.  mengklasifikasikan  tujuan menjadi empat domain, yaitu pengembangan pribadi, kompetensi sosial,keterampilan belajar yang berkesinambungan, dan spesialisasi.

2.        Merancang Kurikulum, yaitu tahapan dalam menentukan kesempatan belajar untuk setiap domain, bagaimana dan kapan kesempatan belajar itu diberikan.

3.        Implementasi Kurikulum, yaitu tahapan untuk menentukan metode dan strategi yang akan digunakan untuk menjalin hubungan dan berinteraksi dengan para siswa.

4.        Evaluasi Kurikulum meliputi:

a.    Evaluasi program pendidikan sekolah secara keseluruhan, meliputi tujuan institusional, sub tujuan institusional, tujuan instuksional, efektivitas instruksional,dan prestasi siswa dalam beberapa bagian program sekolah.

b.    Evaluasi program untuk menentukan apakah tujuan institusional dan tujuan instruksional sudah tercapai atau belum?

10.Model Tyler

Model kurikulum ini termasuk  model kurikulum yang paling klasik dan mendasari model-model yang lain. Dalam bukunya yang mahsyur yaitu; basic principles of Curriculum and Instruction. Tyler,(Oliva 199 ; 165 ) merekomendasikan bahwa perencana kurikulum untuk mengindetifikasi tujuan umum dengan mengumpulkan data dari tiga sumber : siswa, kehidupan kontemporer di luar sekolah, dan mata pelajaran. Setelah mengindetifikasi beberapa tujuan umum, perencana kurikulum mengisi dengan memilah menjadi dua aliran utama; pendidikan dan filsafat pendidikan bagi sekolah dan psikologi pembelajaran. Tujuan umum dengan meningkatkan menjadi tujuan instruksional khusus. Dalam menggambarkan tujuan umum, Tyler merujuknya sebagai tujuan, tujuan pendidikan jangka menengah dan tujuan pendidikan jangka panjang.

Tyler,(Hamalik 2000:39) merumuskan empat pertanyaan sentral yang meminta jawaban secara rasional bagi perencanaan kurikulum ialah :

1.    Apa tujuan yang harus dicapai oleh sekolah ?

2.    Apa pengalaman-pengalaman belajar yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan-

tujuan tersebut ?

3.    Bagaimana mengorganisasikan pengalaman-pengalaman tersebut ?

4.    Bagaimana kita dapat memutuskan apakah tujuan-tujuan tersebut tercapai ?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan, bahwa perencanaan kurikulum dapat menjadi suatu proses yang dikontrol dan logis, dimana langkah  pertama adalah yang paling penting.

Kerangka kerja ini besar pengaruhnya di USA, karena keputusan-keputusan utama mengenai isi kurikulum dibuat oleh dewan pendidikan setempat(lokal). Dengan kerangka kerja ini, publik dapat menilai pekerjaan sekolah dengan membandingkan antara tujuan – tujuan dengan hasil yang dicapai.

Pengembangan kurikulum model Tyler ini mungkin yang terbaik, dengan penekanan khusus pada fase perencanaan. Walaupun Tyler mengajukan model pengembangan kurikulum secara komprehensif tetapi bagian pertama dari modelnya(seleksi tujuan) menerima sambutan yang hangat dari pada pendidikan.

Langkah – langkah Pengembangan Kurikulum

Langkah 1:  Tyler merekomendasikan, bahwa perencana kurikulum agar menindetifikan tujuan umum( tentative general objectives ) dengan mengumpulkan data dari tiga sumber, yaitu : kebutuhan peserta didik, masyarakat( fungsi yang diperlukan ), dan subject matter.

Langkah 2 : Setelah mengidentifikasikan beberapa buah tujuan umum, perencana merifinenya dengan cara menyaring melalui dua saringan, yaitu filosofi pendidikan dan psikologi belajar. Hasilnya akan menjadi tujuan pembelajaran khusus dan menyebutkan juga pendidikan sekolah dan filosofi masyarakat sebagi saringan pertama untuk tujuan ini.

Selanjutnya perlu disusun garis-garis besar nilai-nilai yang didapat dan mengilustrasikan dengan memberi teknan pada empat tujuan demokratis. Untuk melaksanakan penyaringan, para peserta didik harus menjelaskan prinsip-prinsip belajar yang baik, dan psikologi belajar membeirkan ide melaksanakan kegiatan secara efisien. Tyler pun menyarankan agar pendidikan memberi perhatian kepada cara belajar yang dapat :

·  Mengembangkan kemampuan belajar

·  Menolong dalam memperoleh informasi

·  Mengembangkan sikap masyarakat

·  Mengembangkan minat

·  Mengembangkan sikap kemasyarakatan

Langkah 3 : menyelaksi pengalaman belajar yang menunjang pencapaian tujuan. Penentuan pengalaman belajar harus mempertibangkan persepsi dan pengalaman yang telah dimiliki oleh peserta didik.

Langkah 4:  Mengorganisasikan pengalaman belajar  ke dalam unit-unit dan menggambarkan barbagai prosedur evaluasi.

Langkah 5: Mengarahkan dan mengurutkan pengalaman-pengalaman belajar dan mengaitkan dengan evaluasi terhadap keefektifitan perencanaan dan pelaksanaan.

Langkah 5: Evaluasi pengalaman belajar. Evaluasi merupakan komponen penting dalam pengembangan kurikulum.

Sehubungan dengan hal tersebut Tyler (1949) memperingatkan agar dibedakan antara konten ( isi) pelajaran atau kegiatan-kegiatan belajar dengan pengalaman belajar, karena pengalaman belajar merupakan pengalaman yang diperoleh dan dialami anak-anak didik sebagai hasil belajar dan interaksi  mereka dengan konten(isi) dan kegiatan belajar. Untuk mengembangkan pengalaman belajar yang mereka peroleh harus bermuara pada pemberian pengalaman para belajar yang dirancang dengan baik dan dilaksanakan dengan benar. Dari beberapa konsepsi kurikulum diatas kelihatan bahwa kurikulum dapat dilihat dari segi yang sempit atau dari segi yang luas ( sebagai pengalaman yang diperoleh di sekolah atau diluar sekolah ).

11.  Model Oliva

Menurut Oliva dalam membuat rencana tentang perkembangan kurikulum terbagi menjadi tiga kriteria;sederhana, komprehensif, systematik .Meskipun model ini menggambarkan beberapa proses yang berasumsi pada model sederhana.model-model ini terdiri dari 12 komponen.Kedua belas komponen menggambarkan langkah demi langkah pengembangan kurikulum yang komprehensif.Model tersebut digambarkan dalam bentuk segi empat dan lingkaran.Segi empat menggambarkan tentang proses perencanaan sedangkan lingkaran menggambarkan proses operasional.Proses dimulai dengan komponen I, karena pada fase ini para pengembang kurikulum menentukan tujuan dari pendidikan serta landasan filosophy dan psikologi.Tujuan ini diyakini berasal dari kebutuhan masyarakaty dan kebutuhan hidup individu dimasyarakat.Komponen ini menggabungkan konsep yang sama dengan tyler.

Komponen II membutuhkan sebuah analisis kebutuhan masyarakat dimana suatu sekolah berada,kebutuhan siswa dilayani oleh masyarakat.Komponen III dan IV disebut sebagai tujuan khusus kurikulum berdasarkan tujuan, keyakinan. Tugas dari komponen V adalah untuk mengorganisir dan mengimplementasikan kurikulum, membentuk dan membangun struktur dengan kurikulum yang akan diorganisir.

Pada komponen VI dan VII melukiskan perincian lebih lanjut dalam pelaksanaan lewat pengajaran yang mencakup tujuan instruksional umum dan khusus.Komponen VIII menunjukkuan strategi agar tujuan tercapai dikelas.Sekaligus dalam fase ini pembina kurikulum secara pendahuluan mencari teknik evaluasi(komponen IX) yang dilanjutkan dengan komponen X dimana pembelajaran dilaksanakan.

KomponenXI adalah evaluasi sesungguhnya mengenai prestasi siswa, keefektifan pengajaran.

Komponen XII merupakan evaluasi kurikulum atau keseluruhan program.hal terpenting adalah umpan balik dari setiap evaluasi untuk pengembangan lebih lanjut.Jadi inti dari semua komponen adalah komponen I sampai IV dan VI sampai IX adalah tahap perencanaan, sementara X-XII adalah tahap operasional. Komponen V merupakan perpaduan antara perencanaan dan operasional.

Model Oliva dapat dipandang terdiri dari dua submodel:komponen I-V dan XII sebagai submodel pengembangan kurikulum.Komponen VI-XI sebagai model pengembangan pengajaran.

Secara terperinci model tersebut mengikuti langkah-langkah berikut:

1.  Spesifikasi kebutuhan siswa umumnya

2.  Spesifikasi kebutuhan masyarakat

3.  Pernyataan filsafat dan tujuan pendidikan

4.  Spesifikasi kebutuahn siswa tertentu

5.  Spesifikasi kebutuhan masyarakat lingkungan sekolah

6.  Spesifikasi kebutuhan mata pelajaran

7.  Spesifikasi tujuan kurikulum sekolah

8.  Spesifikasi tujuan kurikulum sekolah lebih lanjut(lebih khusus)

9.  Organisasi dan implementasi kurikulum

10. Spesifikasi tujuan instruksional umum

11. Spesifikasi lebih lanjut dan khusus tujuan instruksional

12. Seleksi strategi instruksional

13. Seleksi awal strategi evaluasi

14. Implementasi pengajaran/instruksional

15. Seleksi akhir strategi evaluasi

16.  Evaluasi pengajaran dan modifikasi komponen-komponennya

17. Evaluasi kurikulum dan modifikasi komponen-komponen kurikulum

Dari berbagai model diatas nampak ada persamaan dan perbedaan. Taba dan Tyler melukiskan langkah-langkah, Alexander dan Saylor melukiskan proses, sedangkan Oliva melukiskan komponen-komponen pengembangan kurikulum.Tidak ada model yang sempurna demikian juga dikatakan suatu model lebih baik dari yang lain.

D.Fungsi  Model Kurikulum Bagi Guru

Wina Sanjaya  mengutip pendapat Nadler yang menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong sipengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh.(2008: 82). Hal ini berarti model pengembangan kurikulum yang baik adalah model yang dapat membantu para pengembang kurikulum dalam mengembangkan kurikulum di lapangan.

Berkenaan dengan model-model pengembangan kurikulum diatas, maka fungsi model pengembangan kuirkulum bagi guru adalah:

1.Sebagai pedoman bagi guru untuk memilih model pengembangan yang sesuai dengan pelaksanaan pengembangan kurikulum di lapangan.

2. Sebagai bahan pengetahuan untuk melihat lahirnya bagaimana sebuah kurikulum tercipta dari mulai perencanaan sampai pelaksanaan di lapangan, yang mungkin selama ini guru hanya mengetahui bahwa kurikulum itu sebagai sesuatu yang siap saji., padahal melalui proses yang panjang sesuai dengan model  mana yang di;pilih oleh pengembang kurikulum atau penganbil kebijaksanaan.

3.Sebagai bahan untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan visi, misi, karakteristik, dan sesuai dengan pengalaman belajar yang diharapkan atau dibutuhkan oleh siswa.

4. Sebagai bahan untuk mengadakan penelitian yang merupakani bagian tugas profesional guru  yang memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan kinerjanya sebagai guru.

5. Sebagai bahan untuk melihat perbandingan dan keberhasilan  tentang model pengembangaan kurikulum yang digunakan suatu sekolah, yang nantinya diharapkan untuk memperbaiki kurikulum yang dilaksanakan.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Keberadaan model-model pengembangan kurikulum memegang peranan penting dan sangat urgen untuk difahami oleh barbagai pihak yang terlibat dalam kegiatan pengembangan kurikulum.

Banyak para ahli yang mengemukakan tentang model-model pengembangan kurikulum, namun dari berbagai model tersebut mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing, dan masing-masing model arah titik berat pengembangannya sangat berbeda, ada yang menitikberatkan pada pengambil kebijaksanaan, pada perumusan tujuan, perumusan isi pelajaran, pelaksanaan kurikulum itu sendiri dan evaluasi kuirkulum.

`Pemilihan suatu model pengembangan kuirkulum bukan saja didasrkan pada asas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal., tetapi juga perlu disesuaikan  dengan sistem pendidikan dan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta model konsep pendidikan mana yang digunakan. Model pengembangan dalam sistem pendidikan dan pengelolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan desentralisasi. Model  penegembangan kurikulum yang sifatnya subjek akademis berbeda dengan kuirkulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi sosial,

B. Saran.

1. Sebagai tenaga profesional  guru dituntut untuk memiliki sejumlah pengetahuan yang berhubungan dengan kurikulumkarena kuirkulum merupakan nadi penggerak dalam melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar.Hal ini dapat dilakukan memalui pelatihan, penelituian atau memperkaya diri dengan melalui bahan bacaan, internet dan sebagainya.

2. Diharapkan dengan berlakunya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, guru dapat memilih model pengembangan kuiurkulum yang tepat dan diharapkan dengan pilihan tersebut dapat diimplementasikan dalam pengembangan kurikulum di sekolah.

3. Dengan telah diketahui dan dipahaminya tentang model-model pengembangan kurikulum diharapkan dalam pelaksanaan perancangan KTSP yang berlaku disatuan pendidikan tertentu, benar-benar merupakan hasil karya antara stekholder-stekholder yang berada di suatu sekolah, bukan merupakan copy paste dari KPTS sekolah lain.

DAFTAR PUSTAKA

Hamalik,Oemar (2000). Model-model Pengembangan Kurikulum. Bandung: Yayasan Almadani Terpadu.

Hamalik, Oemar. (2008). Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum. Bandung; PT Remaja Rosdakarya.

Oliva, P.F.(1991). Developing the Curriculum. Third Edition,United States: Harper Collins Publisher

Sukmadinata,N.S.(2008)   Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek: Bandung; PT. Remaja Rosdakarya

Suherman, Ase, dkk. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. TIM Pengembang Kurikulum dan Pembelajaran, Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan. Fakultas Ilmu Pendidikan-Universitas Pendidikan Indonesia.

Sanjaya, Wina (2008). Kurikulum dan Pembelajaran, Teori dan Praktik Pengembangan Kuirkulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta; Fajar Interpratama Offset.

Sanjaya, Wina. (2007). Kajian Kurikulum dan Pembelajaran. Sekolah Paqscasarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Tyler W. Ralph (1949). Basic Principles Of Curriculum Ande Instruction. London; The University Of Chicago Press.

*.Mahasiswa S2  Pengembangan Kurikulum, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.



KOMPETENSI, PERAN DAN TUGAS KEPALA SEKOLAH DALAM MANAJEMEN KURIKULUM
Juni 2, 2009, 4:27 am
Filed under: Uncategorized

A.Pengertian Kepala Sekolah
Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. (Sudarman 2002: 145). Meskipun senabagi guru yang mendapat tugas tambahan kepala sekolah merupakan orang yang paling betanggung jawab terhadap aflikasi prinsif-prinsif administrasi pendidikan yang inovatif di sekolah.

Sebagai orang yang mendapat tugas tambahan berarti tugas pokok kepala saekolah tersebut adalah guru yaitu sebagai tenaga pengajar dan pendidik,di sisni berarti dalam suatu sekolah seorang kepala sekolah harus mempunyai tugas sebagai seorang guru yang melaksanakan atau memberikan pelajaran atau mengajar bidang studi tertentu atau memberikan bimbingan. Berati kepala sekolah menduduki dua fungsi yaitu sebagai  tenaga kependidikan dan tenaga pendidik. Hal ini sesuai dikemukakan oleh Sudarwan   tentang jenis-jenis tenaga  Kependidikan sebagai berikut:
tenaga pendidik terdiri atas pembimbing,penguji,pengajar dan pelatih
tenaga fungsional pendidikan,terdiri atas penilik,pengawas,peneliti dan pengembang di bidang  kependidikan, dan pustakawan
tenaga teknis kependidikan,terdiri atas laboran dan teknisi sumber belajar
tenaga pengelola satuan pendidikan,terdiri atas kepala sekolah,direktur,ketua,rector, dan pimpinan satuan pendidikan luar sekolah.
tenaga lain yang mengurusi masalah-masalah manajerial atau administrative kependidikan.(2002: 18).

Pada pembahasan ini penulis meninjau kepala sekolah (presiden direktur sekolah) sebagai tenaga pengelola satuan pendidikan (poin 4). Mengapa penulis mengambil istilah presden direktur sekolah? Karena istilah ini lebih identik dengan kekuasaan seorang dalam menguasai suatu tempat. Di mana wewenag,tangung jawab dan kebikajsanaan ada di tangan kepala sekolah,sekolah lain atau Negara lain tak berhak ikut capur dalam urusan suatu sekolah yang menjadi hak otonomi sekolahnya
B.Kompetensi Kepala Sekolah

Para pakar pendidikan  dan administrasi pendidikan cendrung sependapat bahwa kemajuan besar dalam bidang pendidikan hanya mungkin dicapai jika administrasi pendidikan itu sendiri dikelola secara inovatif.Hal ini sejalan dengan pendapat Sanusi  dkk yang menyatakan bahwa Adminstrasi yang baik mendudduki tempt yang sangat menentukan dalam struktur dan artikulasi system pendidikan (2002: 132).Siapa yang bertanggung jawab  mengelola,merencakan dan melaksanakan administrasi tersebut di suatu sekolah adalah di bawah kendali kepala sekolah.Untuk itu kepala sekolah harus memilki kemampuan professional yang menurut Sanusi  ada empat kemampuan profesional kepala sekolah yaitu:

kemampuan untuk menjalankan tanggungjawab yang diserahkan kepadanya selaku unit kehadiran murid.
Kemampuan untukmenerapkan keterampilan-keterampilan konseptual,manusiawi, dan teknis pada kedudukan jenis ini.
Kemampuan untuk memotivasi para bawahan untuk bekerja sama secara sukarela dalam mencapai maksud-maksud unit dan organisasi.
Kemamapuan untuk memahami implikasi-implikasi dari perubahan social, ekonomis,politik,dan educational; arti yang mereka sumbangkan kepada unit; untuk memulai dan memimpin perubahan-perubahan yang cocok di dalam unit didasarkan atas perubahan-perubahan social yang luas.(2002 :133)

Sedangkanmenurut PERMEN DINKNAS No 13 tahun 2007 tentang Satandar  kepala sekolah/Madrasah kepala sekolah harus memiliki kompetensi atau kemampuan yang meliputi demensi kompetensi kepribadian,manajerial, kewirausahaan supervisi dan sosial. Secara lebih rinci penjelasan kelima kompetensi tersebut dapat dilihat pada table di bawah ini:

Tabel 1. Kopetensi Kepala Sekolah
a.Mencipatakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.

b.Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasai pembelajar yang efektif.

c.Memilki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pimpinan sekolah/madrasah.

d.Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah/madrasah.

e.Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah sebagai sumber belajar peserta didik.
4. Supervisi.
a.Merencanakan program supervise akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

b.Melaksanakan supervise akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.

c.Menindaklanjuti hasil supervise akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
5.Sosial
a.Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah.

b.Berpartisifasi dalam kegiatan social kemasyarakatan.

c.Memiliki kepekaan social terhadap orang atau kelompok lain.
Disamping kompetenssi yang tersebut diatas yang harus dimilki oleh kepala sekolah, mereka juga harus mampu mengakomodasi tiga jenis keterampilan baik secara perjenis maupun secara terintegrasi tercermin dalam mekanisme kerja adminsitrasi sekolah sebagai proses social. Tiga keterampilan tersebut menurut Katz (1995), yang dikutip oleh Sergiovani dkk(1987) meliputi:

Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan melakukan hubungan-hubungan kemanusiaan (human skill).
Keterampilan konseptual (conceptual skill).

Seorang Kepala Sekolah pada hakekatnya adalah pemimpin yang menggerakkan, mempengaruhi, memberi motivasi, serta mengarahkan orang di dalam organisasi atau lembaga pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Mulyasa (2004:182) secara tersirat menegaskan bahwa “tugas dan tanggung jawab Kepala Sekolah menyangkut keseluruhan kegiatan sekolah.” Seorang Kepala Sekolah harus mampu memobilisir sumber daya sekolah meliputi teknis dan administrasi pendidikan, lintas program dan lintas sektoral dengan mendayagunakan sumber-sumber yang ada di sekolah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dengan demikian peran Kepala Sekolah sangat penting dalam peningkatan mutu pendidikan.

Aspek kunci lain berkaitan dengan peran Kepala Sekolah dalam melaksanakan upaya perbaikan kualitas pendidikan adalah dengan memberikan bimbingan kepada guru dalam memperbaiki mutu proses belajar mengajar. Ukuran keberhasilan Kepala Sekolah dalam menjalankan peran dan tugasnya adalah dengan mengukur kemampuan dia dalam menciptakan ”iklim pembelajaran”, dengan mempengaruhi, mengajak, dan mendorong guru, siswa, dan staf lainnya untuk menjalankan tugasnya masing-masing dengan sebaik-baiknya. Terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif, tertib, lancar, dan efektif tidak terlepas dari kapasitasnya sebagai pimpinan sekolah. Dengan demikian, pembinaan yang intensif dari Kepala Sekolah dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah.

C.Fungsi dan Tugas Kepala Sekolah

Ada banyak pandangan yang mengkaji tentang peranan kepala sekolah dasar. Campbell, Corbally & Nyshand (1983) mengemukakan tiga klasifikasi peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1) peranan yang berkaitan dengan hubungan personal, mencakup kepala sekolah sebagai figurehead atau simbol organisasi, leader atau pemimpin, dan liaison atau penghubung, (2) peranan yang berkaitan dengan informasi, mencakup kepala sekolah sebagai pemonitor, disseminator, dan spokesman yang menyebarkan informasi ke semua lingkungan organisasi, dan (3) peranan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan, yang mencakup kepala sekolah sebagai entrepreneur, disturbance handler, penyedia segala sumber, dan negosiator.

Di sisi lain, Stoop & Johnson (1967) mengemukakan empat belas peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1) kepala sekolah sebagai business manager, (2) kepala sekolah sebagai pengelola kantor, (3) kepala sekolah sebagai administrator, (4) kepala sekolah sebagai pemimpin profesional, (5) kepala sekolah sebagai organisator, (6) kepala sekolah sebagai motivator atau penggerak staf, (7) kepala sekolah sebagai supervisor, (8) kepala sekolah sebagai konsultan kurikulum, (9) kepala sekolah sebagai pendidik, (10) kepala sekolah sebagai psikolog, (11) kepala sekolah sebagai penguasa sekolah, (12) kepala sekolah sebagai eksekutif yang baik, (13) kepala sekolah sebagai petugas hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (14) kepala sekolah sebagai pemimpin masyarakat.

Dari keempat belas peranan tersebut, dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu kepala sekolah sebagai administrator pendidikan dan sebagai supervisor pendidikan. Business manager, pengelola kantor, penguasa sekolah, organisator, pemimpin profesional, eksekutif yang baik, penggerak staf, petugas hubungan sekolah masyarakat, dan pemimpin masyarakat termasuk tugas kepala sekolah sebagai administrator sekolah. Konsultan kurikulum, pendidik, psikolog dan supervisor merupakan tugas kepala sekolah sebagai supervisor pendidikan di sekolah.

Sergiovanni (1991) membedakan tugas kepala sekolah menjadi dua, yaitu tugas dari sisi administrative process atau proses administrasi, dan tugas dari sisi task areas bidang garapan pendidikan. Tugas merencanakan, mengorganisir, meng-koordinir, melakukan komunikasi, mempengaruhi, dan mengadakan evaluasi merupakan komponen-komponen tugas proses. Program sekolah, siswa, personel, dana, fasilitas fisik, dan hubungan dengan masyarakat merupakan komponen bidang garapan kepala sekolah dasar.

Di sisi lain, sesuai dengan konsep dasar pengelolaan sekolah, Kimbrough & Burkett (1990) mengemukakan enam bidang tugas kepala sekolah dasar, yaitu mengelola pengajaran dan kurikulum, mengelola siswa, mengelola personalia, mengelola fasilitas dan lingkungan sekolah, mengelola hubungan sekolah dan masyarakat, serta organisasi dan struktur sekolah.

Berdasarkan landasan teori tersebut, dapat digarisbawahi bahwa tugas-tugas kepala sekolah dasar dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu tugas-tugas di bidang administrasi dan tugas-tugas di bidang supervisi.

Tugas di bidang administrasi adalah tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pengelolaan bidang garapan pendidikan di sekolah, yang meliputi pengelolaan pengajaran, kesiswaan, kepegawaian, keuangan, sarana-prasarana, dan hubungan sekolah masyarakat. Dari keenam bidang tersebut, bisa diklasifikasi menjadi dua, yaitu mengelola komponen organisasi sekolah yang berupa manusia, dan komponen organisasi sekolah yang berupa benda.

Tugas di bidang supervisi adalah tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pembinaan guru untuk perbaikan pengajaran. Supervisi merupakan suatu usaha memberikan bantuan kepada guru untuk memperbaiki atau meningkatkan proses dan situasi belajar mengajar. Sasaran akhir dari kegiatan supervisi adalah meningkatkan hasil belajar siswa.

Fungsi dan tugas kepala sekolah dapat diakronimkan menjadi emanslime (education,manager, administrator,supervisor, leader, inovator, motivator dan entrepreneur). Peran tersebut dapat dilihat secara lebih rinci sebagai berikut:

1.Peran sebagai educator, kepala sekolah berperan dalam pembentukan karakter yang  didasari nilai-nilai pendidik.

– Kemampuan mengajar/membimbing siswa

– Kemampuan membimbing guru

– Kemampuan mengembangkan guru

– Kemampuan mengikuti perkembangan di bidang pendidikan

2,Perang sebagai manager,kepala sekolah berperan dalam mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan institusi secara efektif dan efisien

– Kemampuan menyusun program

– Kemampuan menyusun organisasi sekolah

– Kemampuan menggerakkan guru

– Kemampuan mengoptimalkan sarana pendidikan

3.Perang sebagai administrator, kepala sekolah berperan dalam mengatur tata laksana sistem administrasi di sekolah sehingga efektif dan efisien

– Kemampuan mengelola administrasi PBM/BK

– Kemampuan mengelola administrasi kesiswaan

– Kemampuan mengelola administrasi ketenagaan

– Kemampuan mengelola administrasi keuangan

– Kemampuan mengelola administrasi sarana prasarana

– Kemampuan mengelola administrasi persuratan

4.Peran sebagai supervisor, kepala sekolah berperan dalam upaya membantu mengembangkan profesionalitas guru dan tenaga kependidikan lainnya.

– Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan

– Kemampuan melaksanakan program supervisi

– Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi

5.Peran sebagai leader, kepala sekolah berperan dalam mempengaruhi orang-orang untuk bekerja sama dalam mencapai visi dan tujuan bersama.

– Memiliki kepribadian yang kuat

– Kemampuan memberikan layanan bersih, transparan, dan profesional

– Memahami kondisi warga sekolah

6.Peran sebagai innovator, kepala sekolah adalah pribadi yang dinamis dan kreatif yang tidak terjebak dalam rutinitas

– Kemampuan melaksanakan reformasi (perubahan untuk lebih baik)

– Kemampuan melaksanakan kebijakan terkini di bidang pendidikan

7.Peran sebagai motivator, kepala sekolah harus mampu memberi dorongan sehingga seluruh komponen pendidikan dapat berkembang secara profesional

– Kemampuan mengatur lingkungan kerja (fisik)

– Kemampuan mengatur suasana kerja/belajar

– Kemampuan memberi keputusan kepada warga sekolah

8.Peran sebagai entrepreneur, kepala sekolah berperan untuk melihat adanya peluang dan memanfaatkan peluang untuk kepentingan sekolah

– Kemampuan menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah

– Kemampuan bekerja keras untuk mencapai hasil yang efektif

– Kemampuan memotivasi yang kuat untuk mencapai sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi

D.Hubungan Manajemen Kepala Sekolah dengan Manajemen Kurikulum

Tugas dan peran kepala sekolah yang harus dimiliki berkenaan dengan manajemen kurikulum yaitu berhubungan dengan kompetensi kepala sekolah dalam memahami sekolah sebagai sisten yang harus dipimpin dan dikelola dengan baik,diantaranya adalah pengetahuan tentang manajemen itu sendiri.

Tugas dan peran kepala sekolah yang berkenaan dengan manajemen kurikulum terdapat pada kompetensi manajerial, yaitu:
a.   Menyusun perencanaan sekolah/madrasah  untuk berbagai tingkatan perencanaan.

b.   Mengembangkan organisasi sekolah/ madrasah sesuai dengan kebutuhan.

c. Memimpin sekolah/ madrasah dalam rangka mendayagunakan sumber daya sekolah/madrasah secara optimal.

d.  Mengelola  perubahan  dan pengembangan sekolah / madrasah menuju organisasi pembelajar yang efektif.

e.   Mencipatakan budaya dan ilkim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.

f.   Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.

g.  Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka penbdayagunaan secara optimal.

h.  Mengelola hubungan sekolah/ madrasah dan masyarakat dalam rangka pendirian dukungan ide, sumber belajar dan pembinaan sekolah/ madrasah.

i.  Mengelola peserta didik dalam ranagka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan pengembangan kapasitas peserta didik.

j.   Mengelola pengembangan kuirkulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.

k.  Mengelola  keuangan sekolah / madrasah sesuai dengan prinsif pengelolaan yang akuntabel, transfaran dan efesien.

l.   Mengelola ketatausahaan sekolah/ madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan sekolah/madrasah.

m.  Mengelola   unit   layanan  sekolah / madrasah  dalam   mendukung  kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.

n.Mengelola system informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.

o.Memamfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah/madrasah.

q.Melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kegiiatan sekolah/madrasah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjut.
Secara umum tugas dan peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum ini juga termasuk di dalamnya kemampuan dalam system administrasi/pengelolaan sekolah. Jadi dalam hal ini kepala sekolah adalah pengelola lembaga pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing. Namun demikian penegasan terhadap eksistensi seorang kepala sekolah sebagai manajer dalam suatu lembaga pendidikan dapat dinilai dari kompetensi mengelola kelembagaan yang mencakup: menyusun system administrasi kepala sekolah; mengembangkan kebijakan  operasional sekolah; mengembangkan pengaturan sekolah  yang berkaitan kualifikasi, spesifikasi, prosedur kerja, pedoman kerja,petunjuk kerja dsb; melakukan analisis kelembagaan untuk menghasilkan struktur organisasi  yang efisien dan efektif; mengambangkan unit-unit organisasi sekolah atas dasar fungsi.

Kepala sekolah juga harus paham betul bahwa dirinya bertugas sebagai manajer sekolah diantaranya harus memehami betul tentang manajemen kurikulum. Maka seorang kepala sekolah dalam memahami kurikulum sebagai jantungnya lembaga pendidikan harus benar-benar dikuasainya, dengan demikian kepala sekolah dalam upaya mewujudkan kinerjanya dalam bidang ini harus mampu untuk memfasilitasi sekolah untuk membentuk dan memberdayakan tim pengembang kurikulum terutama dengan pelaksanaan  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, di mana setiap satuan pendidikan harus mampu mengembangkan kurikulum dengan  kebutuhan dan kemampuannya masing-masing, memberdayakan tenaga pendidikan sekolah agar mampu menyediakan dokumen-dokumen kurikulum yang relevan dengan tuntutan dan kebutuhan siswa, orang tua siswa, dan masyarakat; memfasilitasi guru untuk mengembangkan standar kompetensi setiap mata pelajaran yang diampunya; memfasilitasi guru untuk menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) setiap mata pelajaran ; memfasilitasi guru untuk memilih sumber dan bahan ajar yang sesuai untuk setiap mata pelajaran; memfasilitasi guru untuk memilih media dan alat pelajaran yang sesuai untuk setiap materi pelajaran, mengarahkan tenaga pendidik dan kependidikan untuk menyusun rencana dan program pelaksanaan kuirikulum; membimbing para guru untuk mengembangkan memperbaiki dan mengembangkan proses belajar mengajar seperti pemberian motivasi guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas (classroom action research); mengarahkan tim pengembang kurikulum untuk mengupayakan kesesuaian kurikulum dengan kebutuhan siswa dan kemamauan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS), tuntutan dan kebutuhan masyarakat, dan kebutuhan stajeholders; menggali dan memobilisasi sumber daya pendidikan; mengidentifikasi kebutuhan bagi pengembangan kurikulum local; mengevaluasi pelaksanaan kurikulum di sekolahnya masing-masing, melakukan penelitian dan pengembangan terhadap usaha untuk meningkatkan kualitas dan manajemen sekolah bermutu.

Tugas dan peran kepala sekolah dalam mewujudkan subkompetensi manajemen kurikulum ini dapat direfleksi oleh dirinya dari isi program kurikulum yang didesain/dirancang dan dikembangkan mulai dari tingkat perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaaluasi kuirkulum itu sendiri misalnya dalam bentuk evaluasi hasil pembelajaran, dan evaluasi terhadap sekolah secara keseluruhan.

Tugas dsan peran kepala sekolah lainhya yaitu pada sub mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya  manusia secara optimal, maka itu dapat dilihat dari indicator-indikatornya yang mecakup: mengidentifikasi karakteristik tenaga pendidik dsan kependidikan yang fektif; merencanakan tenaga kependidikan sekolah (permintaan, pesediaan, dan kesenjangan); merekrut, menyeleksi dan menempatkan serta mengorientasikan tenaga kependidikan baru; memamfaatkan dan memelihara tenaga kependidikan; menilai kinerja tenaga guru dan kependidikan; memngembangkan system pengupahan, reward dan punishment yang mampu menjamin kepastian dan keadilan; melaksanakan dan mengambangkan system pembinaan karir; memotivasi tenaga pendidik dan kependidikan; membina hubungan kerja yang harmonis; memelihara dikumen personel sekolah atau mengelola administrasi personel sekolah; megelola komflik; melakukan analisis jabatan dan menyusun uraian jabatan tenaga kependidikan; memiliki apresiasi, empati dan simpati terhadap tenaga pendidik dan kependidikan.

Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukannya, Southern Regional Education Board(SREB) telah mengidentifikasi 13 faktor kritis terkait dengan keberhasilan kepala sekolah dalam mengembangkan prestasi belajar siswa. ketigabelas faktor tersebut adalah:

Menciptakan misi yang terfokus pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa, melalui praktik kurikulum dan pembelajaran yang memungkinkan terciptanya peningkatan prestasi belajar siswa.
Ekspektasi yang tinggi bagi semua siswa dalam mempelajari bahan pelajaran pada level yang lebih tinggi.
Menghargai dan mendorong implementasi praktik pembelajaran yang baik, sehingga dapat memotivasi dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
Memahami bagaimana memimpin organisasi sekolah, dimana seluruh guru dan staf dapat memahami dan peduli terhadap siswanya.
Memanfaatkan data untuk memprakarsai upaya peningkatan prestasi belajar siswa dan praktik pendidikan di sekolah maupun di kelas secara terus menerus.
Menjaga agar setiap orang dapat memfokuskan pada prestasi belajar siswa.
Menjadikan para orang tua sebagai mitra dan membangun kolaborasi untuk kepentingan pendidikan siswa.
Memahami proses perubahan dan memiliki kepemimpinan untuk dapat mengelola dan memfasilitasi perubahan tersebut secara efektif.
Memahami bagaimana orang dewasa belajar (baca: guru dan staf) serta mengetahui bagaimana upaya meningkatkan perubahan yang bermakna sehingga terbentuk kualitas pengembangan profesi secara berkelanjutan untuk kepentingan siswa.
Memanfaatkan dan mengelola waktu untuk mencapai tujuan dan sasaran peningkatan sekolah melalui cara-cara yang inovatif.
Memperoleh dan memanfaatkan berbagai sumber daya secara bijak.
Mencari dan memperoleh dukungan dari pemerintah, tokoh masyarakat dan orang tua untuk berbagai agenda peningkatan sekolah.
Belajar secara terus menerus dan bekerja sama dengan rekan sejawat untuk mengembangkan riset baru dan berbagai praktik pendidikan yang telah terbukti
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah telah ditetapkan bahwa ada 5 (lima) dimensi kompetensi yaitu: Kepribadian, Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial.

Sejalan dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap akuntabilitas sekolah, maka meningkat pula tuntutan terhadap para kepala sekolah. Mereka diharapkan mampu melaksanakan fungsinya baik sebagai manajer dan leader. Untuk meningkatkan kemampuan kepala sekolah dan tenaga kependidikan yang lain, pemerintah Indonesia telah menunjukkan good will, dengan memperhatikan kesejahteraan melalui beberapa langkah antara lain: pemberian gaji, kewenangan, dan otonomi yang cukup untuk memperkuat peran manajerial mereka di sekolah. Dengan diterbitkannya instrumen kebijakan baru, maka para kepala sekolah akan segeran mendapat kompensasi meningkat, dukungan profesional, dan otonomi.

Keberhasilan kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Kepemimpinan merupakan faktor yang paling penting dalam menunjang tercapainya tujuan organisasi sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola kantor, mengelola sarana prasarana sekolah, membina guru, atau mengelola kegiatan sekolah lainnya banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah. Apabila kepala sekolah mampu menggerakkan, membimbing, dan mengarahkan anggota secara tepat, segala kegiatan yang ada dalam organisasi sekolah akan bisa terlaksana secara efektif. Sebaliknya, bila tidak bisa menggerakkan anggota secara efektif, tidak akan bisa mencapai tujuan secara optimal.

Sebagai pemimpin pendidikan di sekolah, kepala sekolah memiliki tanggungjawab legal untuk mengembangkan staf, kurikulum, dan pelaksanaan pendidikan di sekolahnya. Di sinilah, efektifitas kepemimpinan kepala sekolah tergantung kepada kemampuan mereka bekerjasama dengan guru dan staf, serta kemampuannya mengendalikan pengelolaan anggaran, pengembangan staf, scheduling, pengembangan kurikulum, paedagogi, dan assessmen. Membekali kepala sekolah memiliki seperangkat kemampuan ini dirasa sangat penting. Di samping itu untuk mewujudkan pengelolaan sekolah yang baik, perlu adanya kepala sekolah yang memiliki kemampuan sesuai tuntutan tugasnya.

Dalam organisasi pendidikan yang menjadi pemimpin pendidikan adalah kepala sekolah. Sebagai pemimpin pendidikan, kepala sekolah memiliki sejumlah tugas dan tanggung jawab yang cukup berat. Untuk bisa menjalankan fungsinya secara optimal, kepala sekolah perlu menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat.

Peranan utama kepemimpinan kepala sekolah tersebut, nampak pada pernyataan-pernyataan yang dikemukakan para ahli kepemimpinan. Knezevich yang dikutip Indrafachrudi (1983) mengemukakan bahwa kepemimpinan adalah sumber energi utama ketercapaian tujuan suatu organisasi. Di sisi lain, Owens (1991) juga menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan merupakan sarana utama untuk mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, agar kepala sekolah bisa melaksanakan tugasnya secara efektif, mutlak harus bisa menerapkan kepemimpinan yang baik.
Kepala sekolah adalah orang yang sangat menentukan dalam berjalannya suatu kegiatan organisasi sekolah sesuai dengan rel yang diharapkan, peran dan tanggung jawabnya sangatlah berat, untuk itu diperlukan kerjasama dengan stekholder-stekholder yang terlibat dalam dunia pendidikan, agar mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan sekolah, hendaknya kepala sekolah memiliki visi dan misi yang menjadi pedoman dan arah dalam berpijak.
Dalam menunjang kemajuan pendidikan dalam segi sarana dan prasarana pemerintah melimpahkan atau mengucurkan dana ke berbagai sekolah untuk dikelola oleh sekolah dan komite sekolah, akibat dari ini mulai ada kecendrungan kepala sekolah lebih memikirkan proyek daripada tugas pokoknya sebagai orang yang menjalankan keberhasilan pelaksanaan pendidikan. Untuk itu diharapkan agar kepala sekolah jangan hilang langkah dan arah, tetap eksis pada visi dan misi yang ingin dicapai bersama.
Daftar pustaka

Depdiknas. (2007). Peraturan Mentri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007, Tentang Standar Kepala Sekolah/Madrasah. Jakarta: Depdiknas.

Danin, Sudarwan. (2002). Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung:Pustaka Setia.

Mulyasa, E. (2005). Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Dalam konteks menyukseskan MBS dan KBK.Bandung. PT Remaja Rosdakarya.

Rusman.(2008). Manajemen Kurikulum. Bandung: Program Studi Pengembangan Kurikulum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia.

Sanusi, A.(dkk),(1991) Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan. Laporan Penelitian. Bandung: IKIP Bandung.

Sergiovani, J.T.(et.al), (1987). Educational Governance and Administration. New York:Pretince-Hall Inc.

Wahjosumidjo.(1995). Kepemimpinan Kepala Sekolah. Tinjuan Teoretik dan Permasalahannya. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.



GURU DALAM HARAPAN DAN PERANNYA
Juni 2, 2009, 4:03 am
Filed under: Uncategorized

Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO pada tahun 2000 tentang peringkat   Indeks   Pembangunan       Manusia
( Human Develelopment Indeks) yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan perkepala yang menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia Indonesia
( Human Develelopment Indeks) makin menurun. Diantara 174 negara di dunia Indonesia menempati urutan ke 102 pada tahun 1996, ke 99 pada tahun 1997, 105 pada tahun 1998 dan 109 tahun 1999
Apa makna data-data tentang rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia itu? Maknanya jelas ada masalah dalam sistem pendidikan di Indonesia . Masalahnya antara lain :
1. Masala h Kurikulum
2. Masalah Metode pembelajaran
3. Masalah Fasilitas atau sarana dan prasarana
4. Masalah Guru atau tenaga pendidik.
5. Masalah evaluasi
Yang lebih menyedihkan lagi ada anggapan dari berbagai pihak bahwa rendahnyanya kualitas pendidikan adalah karena peran dan tanggungjawab guru yang kurang optimal. Berkenaan dengan angapan tersebut penulis memaparkan tentang harapan dan peranan guru itu sendiri. Agar guru dapat tersentak untuk kembali mengangkat citranya.

Pendidikan formal dirasakan urgensinya ketika keluarga tidak mampu lagi memberikan pendidikan yang wajar kepada anak-anaknya.Lembaga ini akhirnya diterima sebagai wahana proses kemanusiaan dan pemanusiaan kedua setelah keluarga. Dalam lembaga ini banyak komponen-komponen atau elemen-elemen yang terlibat mulai dari siswa, guru, kepala sekolah, pegawai sekolah,masyarakat, pemerintah .Komponen guru adalah komponen yang selalu diminta untuk membimbing,mendidik dan mengajar peserta didik (siswa). Yang tentu semua orang menutut harapan-harapan secara nyata dari sososk guru.

Ibarat serdadu, guru di medan pendidikan mengemban misi memerdekakan generasi bangsa dari belenggu kebodohan dan keterbelakangan. Mereka berada di garda depan dalam “menciptakan” generasi-generasi muda yang cerdas, terampil, tangguh, kreatif, penuh inisiatif, bermoral tinggi, berwawasan luas, memiliki basis spiritual yang kuat, dan beretos kerja yang handal, sehingga kelak mampu menghadapi kerasnya tantangan peradaban. Mengemban misi tersebut jelas bukan tugas yang ringan.

`               Sebagai tenaga kependidikan keberadaan guru menempati urutan pertama  dari empat katagori dalam pembagia jenis-jenis tenaga kependidikan yaitu tenaga pendidik, terdiri atas pembimbinbing, penguji,pengajar, dan pelatih. (Sudarwan 2002:18).

Seperti apakah guru yang diharapkan oleh semua kalangan? Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab, dan tentunya jawaban yang didapatpun berbagai macam, tergantung kepada dari mana audien memandangnya.

Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam dunia pendidikan yang kesehariannya berada di dalam kelas yang selalu berhadapan dengan sosok-sosok generasi penerus bangsa(siswa), tentu masing-masing siswa mempunyai harapan yang berbeda-beda. Disaat guru berhadapan dengan pimpinan sekolah (kepala sekolah) ada harapan-harapan yang tentunya diruntut oleh pimpinan tersebut dari seorang guru. Dan pada saat guru berada dalam masyarakat tuntutan-tuntutan yang diharapkan berbeda pula.

Berbagai macam harapan-harapan  terhadap seorang guru dari berbagai pihak tentunya tidak mempunyai standar yang pasti.Tetapi yang pasti guru adalah juga manusia yang sama dengan orang yang meminta harapan-harapan tersebut (pandangan umum), dalam pandangan khusus (dunia pendidikan) guru harus memilki-harapan-harapan yang sudah diatur baik dalam KODE ETIK GURU maupun dalam permen-permen diknas.

Mengapa harapan-harapan guru dipandang sebagai sesuatu yang layak dikemukan dalam tulisan ini? Setidaknya ingin mengembalikan citra guru dari pandangan masyarakat bahwa yang salama ini kegagalan pendidikan  penyebab factor  salah satunya adalah guru dan agar guru tidak kehilangan arah dan tujuan yang menjadi tugas utamanya di suatu sekolah

Sementara itu, jika kita melihat fakta di lapangan, banyak kalangan mulai meragukan kapabilitas dan kredibiltas guru. Perannya sebagai pengajar dan pendidik mulai dipertanyakan. Misinya sebagai pencetak generasi –terampil dan bermoral—belum sepenuhnya terwujud. Para pelajar kita justru kian menjauh dari kondisi ideal seperti yang diharapkan. Yang lebih memperihatinkan, para pelajar itu dinilai mulai kehilangan kepekaan moral, terbius ke dalam atmosfer zaman yang serba gemerlap, tersihir oleh perikehidupan yang memburu selera dan kemanjaan nafsu, terjebak ke dalam sikap hidup instan. Tawur antarpelajar merajalela, pesta “pil setan” menyeruak, pergaulan bebas semakin mencuat ke permukaan. ( Lentera pendidikan ), Akibat ini   masyarakat selalu mempertanyakan siswa sekolah di mana, siapa gurunya dan  sangat jarang seklai terdengan itu anak siapa? Tetapi  sebaliknya jika seorang siswa berpretasai dalam bidang akademik, olah raga dan sebagainya yang dipertanyakan oleh orang adalah putra-putri siapa itu? Sehingga hal ini benar seperti kata pepatah Sapi punya usaha tetapi kerbau punya nama.

Dr. Dedi Supriadi dalam bukunya “Menganangkat Citra dan Maartabat Guru” menuliskan  pandangan dan harapan anak didik kepada gurunya yang dilakukan oleh UNESCO  yaitu”What makes a good teacher?” Seperti apakah guru yang baik itu? Pertanyaan ini tidak ditujukan kepada ahli pendidikan atau kepada dewan juri pemelihina guru teladan, tetapi justru kepada seluruh siswa di dunia.

Dari hasil pertanyaa-pertanyaan tersebut didapatkan bebarapa jawaban diantaranya: 1. Zaira Alexsandra Rodriques Guijari dati Mexico siswa berumur 11 tahun “Guru terhadap siswanya ibarat hujan terhadap ladang”, 2. Rose dari Selandia Baru siswa SD berumur 9 tahun “Engkau mesti sayang, bersabar kepadaku, engkau mesti mendengar dan mengerti kami semua, selalu bersemangat, dan tidak mengabaikan kami, aku suka senyuman dan kata-katamu yang ramah”. Dan 3. Tassha Leigh siswa berumur 12 tahun dari Jamaika Karibia “Guru yang baik bukan hanya mengajar tetapi juga belajar dari siswanya”. Dan masih banyak lagi suara-suara hati yang dikememukakan oleh anak-anak diseluruh dunia tentang harapannya kepada gurunya. Cara yang dilakukan oleh UNESCO ini adalah meminta jawaban secara tertulis dan sepontan dari  anak-anak didik yang rata-rata berusia 9-12 tahun.

Dari katagori berdasarkan usia respon mereka adalah masih tegolong dalam kategori anak-anak, yang tentu jawaban mereka belum tentu terinfeksi oleh berabagai virus alam pemikiran yang mendunia atau dengan kata lain jawaban yang masih polos dan lugu.

Sedangkan dari pandangan masyakakat Mendiknas Bambang S. dalam Harian Harapan menyatakan bahwa selama ini dalam anggapan masyarakat – khususnya masyarakat perkotaan, atau daerah yang wilayahnya telah mengalami kemajuan ekonomi – pekerjaan guru dianggap tidak menjanjikan masa depan. Bagi alumni perguruan tinggi, profesi guru hanyalah pekerjaan ”sambilan”, daripada sama sekali menganggur. Di daerah pedesaan yang tingkat kecerdasan rata-rata masyarakat masih ”rendah” guru dihormati, namun penghargaan tersebut terasa semu. Karena masyarakat akan jauh menghormati elite desa yang lebih kaya secara materi dan berkuasa dalam pemerintahan di desa.(2000)

Secara historis, keberadaan kaum pendidik di Indonesia memang telah ada sejak zaman “baheula”  atawa zaman penjajahan Belanda. Belanda menyekolahkan kaum priyai, untuk menghindari penggunaan guru-guru asal Belanda dalam mendidik para siswa di tanah jajahannya. Bisa dibayangkan berapa besar dana yang dikeluarkan jika Kaum Londo harus “mengimpor” langsung dari Belanda. Anggaran untuk bayar gaji, penginapan, transportasi dll. akan menguras kas Belanda. Kondisi demikian lantas “diakali” dengan memilih pribadi dan warga terbaik untuk menjadi guru. Jika guru lokal (Pribumi), tidak perlu dana yang besar untuk mengalokasikan untuk mencetak SDM yang akan bekerja untuk kaum kolonialis, tak terkecuali mereka dibayar “murah” sebagai kompensasi gaji yang diterimanya. Kondisi seperti itu ternyata di adopsi saat Indonesia merdeka (1945) hingga pra Reformasi (1998). Guru dimarginalkan, dilecehkan, dianaktirikan, dieksploitasi  dan dininabobokan dengan sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”

Lalu bagaimanakah cara kita sebagai pendidik untuk menepik semua anggapan tersebut? Jawabananya yang pasti adalah kita harus bersifdat profesionalisme. Bukankah  melalui Undang-undangNo 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen semuanya sudah jelas dan untuk memenuhi harapan sesuai dengan tuntutan undang-undang guru dan dosen tersebut diatur lagi Permen Diknas  No.16 hatun 2007  yang memberikan rambu-rambu tentang kompetensi yang harus dimilki oleh guru, yang dalam permen tersebut disebut dengan kompetensi inti guru, antara lain:

1.Kompetensi pedagogic, yang meliputi:

  1. menguasai karakteristik peserta didik dari asfek fisik,moral,spiritual,social,cultural,emosional dan intelektual
  2. menguasai teori belajar dn prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik
  3. mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu
  4. menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik
  5. memanfaatkan teknologi informasi dn komunikasi untuk kepentingan pembelajaran
  6. memfasilitasi pengembangan fotensi peserta didak objektif, serta tidak kardik untuk     mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki

g .  berkomunikasi secara efektif,empatik, dan santun den gan peserta didik

menyelenggarakan peneilaian dan evaluasi proses dan hasil belajar

h.   memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran

  1. melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran

2.Kompetensi kepribadian yang meliputi

  1. bertindak sesuai dengan norma agama,hukum, sosial, dan kebudayaan nasional
  2. menampilkan diri sebagaai pribdi yang jujur, berahklak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat
  3. menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa
  4. menunjukkan etos kerja, tangung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri
  5. menjunjung tinggi kode etik profesi guru

3.Kompetensi social, yang meliputi:

  1. bersikapiinsklusif, bertindak objektif, serta tidak deskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga dan status social ekonomi
  2. berkomunikasi secara efektif, empatik daan santun dengan sesame pendidik, tenaga kjependidikan, orang tua dan asyarakat
  3. beradaptasi di tempat  bertugas di seluruh wilayah republic Indonesia yang memilki keragaman  social yang berbeda
  4. beradaptasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain

4.Kompetensi professional, yang meliputi:

a. Menguasai materi, struktur, konsep dan pola piker keilmuwan yang mendukung mata pelajaran  yang diampu.

b. Menguasai standar kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.

c.Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif.

d.Memamfaatkan teknologiinformasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.(2007:16-21).

Zaman terus berkembang, dan abad 21 ini menuntut profesi guru yang handal sejalan dengan kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tuntutan ini sangat beralasan dalam menenpatkan guru sebagai suatu profesi dengan memberikan kedudukan social, proteksi jabatan, penghasilan, dan status hukum yang lebih dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Tetapi yang jadi persoalan adalah: apakah ini khususnya di Indonesia memang terjadi; sementera penghargaan masyarakat terhadap profesi guru tidak meningkat seiring dengan upaya peningkatan tuntutan terhadap profesi tersebut? (Hamied Hasan dalam Pembaharu Pendidikan Guru). Sebagai suatu profesi guru menghadapi berbagai permasalahan, antara lain:

  1. penghargaan masyarakat terhadap profesi guru belum sepenuhnya menunjukkan peningkatan berarti sehubungan dengan mutu guru, beban kerja guru dan penghargaan secara financial (system penggajian yang belum memadai).
  2. Sikap terhadap profesi guru itu sendiri, umumnya masih rendah. Ini ditunjukkan dengan adanya tugas-tugas atau pekerjaan lain (di luar tugas sebagai guru) untuk menambah dan memenuhi keutuhan hidupnya.
  3. Standar profesi guru belum sesuai dengan tuntutan akan mutu atau kualitas guru yang diharapkan. Banyak guru melakukan tugasnya bukan karena profesi atau didasarkan pada profesi yang diembannya, tetapi lebih didasrkan pada suatu pekerjaan (artinya guru sebagai suatu pekerjaan, dan bukan sebagai suatu profesi).
  4. Guru masih terlalu banyak dilibatkan pada hal-hal yang bersifat administrative. Hal-hal yang bersifat akademik berupa upaya peningkatan profesionalisme, belum sepenuhnya mendapat perhatian khusus,baik di kalangan guru sendiri maupun di kalangan para pengambil kebijakan.(Ajis 2008:32-33).

Bagaimana untuk menepis dan menghilangkan pradigma  masalah di atas? Hal ini dikembalikan lagi kepada guru itu sendiri dengan sadar dan mengerti akan tugas dan peranannya.

Apakah fungsi dan peranan guru itu? Berbicara mengenai peranan guru kita akan mengacu kepada UU Nomor 14 tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Dalam udang-undang ini disebutkan tujuh fungsi atau peranan guru yaitu: mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi.

  1. Guru  sebagai pendidik

Mendidik berarti pemberian bimbingan pada anak agar potensi yang dimilikinya berkembang seoptimal mungkin dan dapat meneruskan serta mengembangkan nilai-nilai hidup. Sebab tugas guru disamping menyampaikan ilmu pengetahuan, juga mencakup pembentukan nilai-nilai pada diri murid yang tertuju pada pengembangan seluruh aspek kepribadian murid secara utuh agar tumbuh menjadi manusia dewasa. Untuk itu guru dituntut untuk mengetahui karktristik, kepribadian anak didik

  1. guru sebagai pengajar

Mengajar berarti memberikan pengajaran dalam bentuk penyampaian pengetahuan (kognitif), sikap (afektif) dan ketrampilan (psikomotor) pada diri murid agar dapat menguasai dan mengembangkan ilmu dan teknologi. Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada pelaksanaan tugas merencanakan, melaksanakan proses belajar-mengajar dan menilai hasilnya. Untuk melaksanakan tugas ini, guru disamping harus menguasai materi atau bahan yang akan diajarkan, juga dituntut untuk memiliki seperangkat pengetahuan dan ketrampilan teknis mengajar Guru sebagai tenaga pengajar harus memilki kemampuan profsional. Guru harus bertanggungjawab atas hasil kegiatan belajar anak melalui interaksi belajar mengajar. Guru merupakan faktor yang mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar mengajar, dan karenanya guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar disamping menguasai materi yang akan diajarkan. Dengan kata lain : guru harus mampu menciptakan situasi kondisi belajar yang sebaik-baiknya.

3.guru sebagai pembimbing

Istilah “pembimbing” berasal dari kata “bimbing” yang berarti “pimpin”, “asuh”, “tuntun”. Membimbing sama dengan menuntun, seperti seorang dewasa yang sedang menuntun anak kecil atau anak yang baru belajar berjalan. Orang dewasa itu dapat membawa anak itu ke mana saja dikehendakinya.

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum terhadap sekolah, keluarga serta masyarakat.
Dalam keseluruhan proses pendidikan guru merupakan faktor utama. Dalam tugasnya sebagai pendidik, guru memegang berbagai jenis peran yang mau tidak mau harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Setiap jabatan atau tugas tertentu akan menuntut pola tingkah laku tertentu pula. Sehubungan dengan peranannya sebagai pembimbing, seorang guru harus :

  • Mengumpulkan data tentang siswa
  • Mengamati tingkah laku siswa dalam situasi sehari-hari
  • Mengenal para siswa yang memerlukan bantuan khusus
  • Mengadakan pertemuan atau hubungan dengan orangtua siswa baik secara individu maupun secara kelompok untuk memperoleh saling pengertian tentang pendidikan anak
  • Bekerja sama dengan masyarakat dan lembaga lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa
  • Membuat catatan pribadi siswa serta menyiapkannya dengan baik
  • Menyelenggarakan bimbingan kelompok atau individu
  • Bekerja sama dengan petugas bimbingan lainnya untuk membantu memecahkan masalah siswa
  • Menyusun program bimbingan sekolah bersama-sama dengan petugas bimbingan lainnya
  • Meneliti   kemajuan siswa baik di sekolah maupun di luar sekolah .

4.guru sebagai pengarah

Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu menbantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi, mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan dan menemukan jati dirinya.Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan nyata di masyarakat.

5.guru sebagai pelatih

Melatih lebih ditekankan pada tujuan mengembangkan ketrampilan tertentu agar para siswa mengalami peningkatan kemampuan kerja yang memadai.Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan ketrampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing peserta didik.Pelatihan yang dilakukan, disamping harus memperhatikan kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu memperhatikan perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin.

6..guru sebagai penilai

Penilaian atau evalusi merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik.Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut.Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang memadai. Guru harus memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non tes yang meliputi jenis masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas, reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran soal.

7. Guru sebagai pengevaluasi

v  Konsep luas:

  • Proses yang ditujukan untuk  mengetahui   (perencanaan, pelaksanaan, hasil) kebijakan, kegiatan, program
  • Pengukuran (measurement) & koleksi data  (collecting data)
  • Kuantitatif dan kualitatif

v  Konsep sempit:

Membandingkan hasil pengukuran /pengumpulan data dengan kriteria /standar

Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. sedangkan  menilai berarti mengambil satu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk (kualitatif). Adapun pengertian evaluasi meliputi keduanya. Esensi dari evaluasi yakni memberikan informasi bagi kepentingan pengambilan keputusan . Kegiatan evaluasi harus dilaksankan oleh guru sebagai bagian dari kegiatan dalam proses belajar mengajar yang tujuannya untuk melihat sampai sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan berhasil dengan maksud untuk bahan pertimbangan sebagai umpan balik.

Menurut   Nana syaodih peranan guru dalam proses belajar mengajar meliputi:

  1. penyampai pengetahuan
  1. pelatih kemampuan
  2. mitra belajar
  3. pengarah pembimbing (2007: 195)

Sementara itu Rusman membagi pernan guru berdasararkan kopetensi guru meliputi:

    1. guru melakukan diagnosa terhadap prilaku awal siswa
    2. Guru membuat perencanaan pelaksanaan pembelajaran (RPP)
    3. Guru melaksanakan proses pembelajaran
    4. Guru sebagai pelaksana administrasi sekolah
    5. Guru sebagai komunikator
    6. Guru mampu mengembangkan keterampilan diri
    7. Guru dapat mengembangkan potensi anak (2007:218-219)

Lois E. Raths (1964)  mengemukakan sejumlah potensi yang harus dimiliki guru yang disebutnya “ the point are proposed, not as a rating scale, but a broad frmae work for teacher to discover more about themselves in relation to te function of teaching”:

  1. explaning, imporming, showing how,
  2. initiating, directing, administering,
  3. unifying the group,
  4. giving scurity,
  5. clarifying attitudes, beliefs, problems,
  6. diangnosting learning problems,
  7. making curriculum materials,
  8. evaluating, recording, reporting,
  9. enricing community activities,
  10. organizing and arranging classroom,
  11. participating in school activities,
  12. participating in professional and civic life (Nana Syaodih 2008:192)

Apaun peran guru disekolah ataupun diluar sekolah, guru harus memiliki 10 kopetensi dasar yang dipaparkan oleh Depdikbud (2005), yaitu:

  1. Penguasaan bahan pelajaran beserta konsep-konsep dasar keilmuannya.
  2. pengelolaan program belajar-mengajar
  3. pengelolaan kelas
  4. penggunaan media dan sumber pembelajaran
  5. penguasaan landasan-landasan kependidikan
  6. pengelolaan interaksi belajar-mengajar
  7. penilaian prestasi belajar siswa
  8. pengenalan fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan
  9. pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah
  10. pemahaman prinsip-prinsip dan pemamfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pembelajaran. (Nana Syaodih 2008:193)

Selain kompetensi yang harus dimiliki oleh guru untuk menjalankan perannya dengan baik, hendaknya guru juga harus menghindari tujuh kesalahan yang sering dilakukannya,sebagai berikut:

    1. Mengambil jalan pintas dalam pembelajaran.
    2. Menunggu peserta didik berprilaku negatif.
    3. Menggunakan destructive discipline.
    4. Mengabaikan perbedaan peserta didik
    5. Merasa paling pandai
    6. Tidak adil (diskriminatif)
    7. Memaksa hak peserta didik.(Mulyasa 2007:19-32).

Semoga tulisan ini bermamfaat bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, dan orang-orang yang mendalami dunia pendidikan, agar kita angkat kembali citra guru di mata masyarakat. Berkaryalah terus sahabat-sahabatku ”Guru ”, berikan yang terbaik untuk anak bangsa.

DAFTAR PUSTAKA.

Danin Sudarwan. 2002 . Inovasi Pendidikan Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan, Banung: CV. Pustaka Setia

Mulyasa, E. 2007. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rusman. 2007. Manajemen Kurikulum, Bandung.

Sukmadinata, Nana, Syaodih. 2007. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.

Yamin Martinis. 2006. Profesionalisme Guru dan Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi, Cipayung Ciputat: Gaung Persada Press.



Juni 2, 2009, 3:46 am
Filed under: Uncategorized

DERAI BAMBU PAGI HARI

LIUK BAMBU PAGI HARI

ADALAH  INDAH  TUBUHMU

EMBUN PAGI PADA UJUNGKUNINGNYA PADA

ADALAH INDAHNYA SENYUMU

DERAI RUMPUN BAMBU ADALAH DERAI TAWAMU

YANG MEMBUNUH SUNYIKU PAGI HARI

JENG…………….

KERINDUAN INI JANGAN HANYA

MENJADI MIMPI DI ATAS MIMPI

KUINGIN RENGKUH HATIMU

DALAM HATIKU TERDALAM.

(Msttk, Senin 1- juni 2009,07.26.41).